PERTANYAAN :
Saya pernah dengar, kalau kita menanam tanaman, dan tanaman itu tumbuh, dan berbuah sepanjang tahun. kemudian daunya dimakan ulat, dan ternak, buahnya dimakan hewan, dan manusia, bisa dikatakan daun dan buah memberikan banyak manfaat. Apakah itu bisa di sebut sedekah, atau paling tidak setelah orang yang menanam pohon mati, amal tersebut apa bisa termasuk amal jariyah?
JAWABAN :
Ada tujuh macam pahala yang dapat diterima seseorang itu selepas matinya dan ia berada dalam kuburnya :
1. Barangsiapa yang mengajarkan ilmunya
2. Barang siapa yang mengalirkan air sungai
3. Barangsiapa yang menggali Sumur
4. Barang siapa yang menanam tanam-tanaman
5. Barang siapa yang mendirikan masjid
6. Barang siapa yang mewariskan mushaf
7. Barangsiapa meninggalkan anak shaleh yang memintakan ampunan untuk kedua orang tuanya".
Refrensi pengambilan Hukum Kitab
Kitab Jaami’ al-Ahaadits Li as-Suyuthy XIII/238
- سبع يجرى للعبد أجرهن بعد موته وهو فى قبره من علم علمًا أو أجرى نهرًا أو حفر بئرًا أو غرس نخلاً أو بنى مسجدًا أو ورث مصحفًا أو ترك ولدًا صالحًا يستغفر له بعد موته (ابن أبى داود فى المصاحف ، وسمويه ، وأبو نعيم فى الحلية ، والبيهقى فى شعب الإيمان عن أنس)
Dari Anas r.a. berkata "Ada tujuh macam pahala yang dapat diterima seseorang itu selepas matinya dan ia berada dalam kuburnya :
1. Barangsiapa yang mengajarkan ilmunya
2. Barang siapa yang mengalirkan air sungai
3. Barangsiapa yang menggali Sumur
4. Barang siapa yang menanam tanam-tanaman
5. Barang siapa yang mendirikan masjid
6. Barang siapa yang mewariskan mushaf
7. Barangsiapa meninggalkan anak shaleh yang memintakan ampunan untuk kedua orang tuanya".
(HR. Abu Daud dalam al-Mashaahif, Samwih dan Abu Naiim dalam al-Hilyah dan al-Baehaqy dalam Syi’ab al-Iimaan).
BATASAN-BATASAN LELAKI DAN WANITA
Mengaji kitab 'Uquudu Lujjain (الفَصْلُ الأَوَّلُ: فِيْ) بيان (حُقُوْقِ الزَوْجَةِ) الواجبة (عَلَى الزَوْج) وهي حُسْن العِشْرة، ومؤْنة...
Kamis, 11 Oktober 2018
HUKUM ZIARAH KUBUR DI HARI JUM'AT
PERTANYAAN :
assalamu'alaikum. tanya. . Apakah ziarah kubur tiap hari jum'at itu bid'ah. .?
JAWABAN :
Wa'alaikumussalam.
BERIKUT SEDIKIT KETERANGAN HUKUM ZIARAH KUBUR BAGI PRIA WANITA SERTA DILAKUKAN DIHARI-HARI TERTENTU SEPERTI HARI KAMIS, JUMAT DAN SABTU
Dalam kitab al-Irsyaadaat as-Sunniyah hal. 111
قال الشيخ عبد المعطي السقا في ( الارشادات السنية ) ص 111 :
زيارة قبور المسلمين مندوبة للرجال لخبر مسلم : كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها فإنها تذكركم الآخرة : أما زيارة النساء فمكروهة إن كانت لقبر غير نبي وعالم و صالح وقريب ، أما زيارة القبر النبي ومن ذكر معه فمندوبة لهن بدون محرم إن كانت القبور داخل البلد ، ومع محرم إن كانت خارجة ، ومحل ندب زيارتهن أو كراهتها إذا أذن لهن الحليل أو الولي وأمنت الفتنة ولم يترتب على اجتماعهن مفسدة كما هو الغالب ، بل المحقق في هذا الزمان ، وإلا فلا ريبة في تحريمها.
ويستحب الاكثار من الزيارة لتحصيل الاعتبار والعظة وتذكر الآخرة ، وتتأكد الزيارة عشية يوم الخميس ويوم الجمعة بتمامه وبكرة يوم السبت.
Berkata as-Syaikh ‘Abdul Mu’thi as-Saqaa dalam kitab al-Irsyaadaat as-Sunniyah
“Berziarah dikuburan orang-orang muslim disunahkan bagi para pria berdasarkan hadits riwayat Muslim “Aku (dulu) melarang kalian berziarah kubur, (sekarang) berziarahlah karena ia mengingatkan kalian pada akhirat”
Sedang bagi para wanita ziarah kubur hukumnya makruh bila bukan kuburan nabi,orang alim, orang shalih atupun kerabat, sedang menziarahi kuburan nabi dan orang yang telah disebutkan sunah baginya bila kuburannya masih dalam satu daerah atau diluar daerah saat ia bersama mahramnya.
Kesunahan ziarah baginya dengan ketentuan seizin suaminya atau walinya, aman dari fitnah dan dalam perkumpulannya tidak menimbulkan kerusakan seperti pada umumnya bahkan yang menjadi kenyataan dizaman ini, bila tidak demikian maka keharaman ziarah baginya tidak dapat disangsikan.
Disunahkan memperbanyak ziarah dengan tujuan supaya dapat mengambil pertimbangan, peringatan serta teringat kehidupan akhirat.
Kesunahan ziarah menjadi mauakad dihari kamis sore dan hari jumat dan makruh dihari sabtu”.
Al-Fiqh ala Madzaahib al-Arbaah I/855
زيارة القبور مندوبة للاتعاظ وتذكر الآخرة وتتأكد يوم الجمعة ويوما قبلها ويوما بعدها عند الحنفية والمالكية وخالف الحنابلة والشافعية فانظر مذهبيهما تحت الخط ( الحنابلة قالوا : لا تتأكد الزيارة في يوم دون يوم الشافعية قالوا : تتأكد من عصر يوم الخميس إلى طلوع شمس يوم السبت . وهذا قول راجح عند المالكية
Ziarah kubur disunahkan agar dapat mengambil pertimbangan, peringatan serta teringat kehidupan akhirat, kesunahannya menjadi mauakad dihari hari jumat dan hari sebelumnya (kamis) serta hari setelahnya menurut kalangan Hanafiyah dan Malikiyyah berbeda menurut kalangan Hanabilah yang menyatakan “ziarah tidak muakad, tidak dihari tertentu juga hari lainnya” dan kalangan Syafi’iyyah yang menyatakan “Menjadi sunah yang muakkad mulai asharnya hari kamis hingga terbitnya matahari dihari sabtu” dan pernyataan ini sesuai pendapat yang unggul dikalangan Malikiyyah.
assalamu'alaikum. tanya. . Apakah ziarah kubur tiap hari jum'at itu bid'ah. .?
JAWABAN :
Wa'alaikumussalam.
BERIKUT SEDIKIT KETERANGAN HUKUM ZIARAH KUBUR BAGI PRIA WANITA SERTA DILAKUKAN DIHARI-HARI TERTENTU SEPERTI HARI KAMIS, JUMAT DAN SABTU
Dalam kitab al-Irsyaadaat as-Sunniyah hal. 111
قال الشيخ عبد المعطي السقا في ( الارشادات السنية ) ص 111 :
زيارة قبور المسلمين مندوبة للرجال لخبر مسلم : كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزوروها فإنها تذكركم الآخرة : أما زيارة النساء فمكروهة إن كانت لقبر غير نبي وعالم و صالح وقريب ، أما زيارة القبر النبي ومن ذكر معه فمندوبة لهن بدون محرم إن كانت القبور داخل البلد ، ومع محرم إن كانت خارجة ، ومحل ندب زيارتهن أو كراهتها إذا أذن لهن الحليل أو الولي وأمنت الفتنة ولم يترتب على اجتماعهن مفسدة كما هو الغالب ، بل المحقق في هذا الزمان ، وإلا فلا ريبة في تحريمها.
ويستحب الاكثار من الزيارة لتحصيل الاعتبار والعظة وتذكر الآخرة ، وتتأكد الزيارة عشية يوم الخميس ويوم الجمعة بتمامه وبكرة يوم السبت.
Berkata as-Syaikh ‘Abdul Mu’thi as-Saqaa dalam kitab al-Irsyaadaat as-Sunniyah
“Berziarah dikuburan orang-orang muslim disunahkan bagi para pria berdasarkan hadits riwayat Muslim “Aku (dulu) melarang kalian berziarah kubur, (sekarang) berziarahlah karena ia mengingatkan kalian pada akhirat”
Sedang bagi para wanita ziarah kubur hukumnya makruh bila bukan kuburan nabi,orang alim, orang shalih atupun kerabat, sedang menziarahi kuburan nabi dan orang yang telah disebutkan sunah baginya bila kuburannya masih dalam satu daerah atau diluar daerah saat ia bersama mahramnya.
Kesunahan ziarah baginya dengan ketentuan seizin suaminya atau walinya, aman dari fitnah dan dalam perkumpulannya tidak menimbulkan kerusakan seperti pada umumnya bahkan yang menjadi kenyataan dizaman ini, bila tidak demikian maka keharaman ziarah baginya tidak dapat disangsikan.
Disunahkan memperbanyak ziarah dengan tujuan supaya dapat mengambil pertimbangan, peringatan serta teringat kehidupan akhirat.
Kesunahan ziarah menjadi mauakad dihari kamis sore dan hari jumat dan makruh dihari sabtu”.
Al-Fiqh ala Madzaahib al-Arbaah I/855
زيارة القبور مندوبة للاتعاظ وتذكر الآخرة وتتأكد يوم الجمعة ويوما قبلها ويوما بعدها عند الحنفية والمالكية وخالف الحنابلة والشافعية فانظر مذهبيهما تحت الخط ( الحنابلة قالوا : لا تتأكد الزيارة في يوم دون يوم الشافعية قالوا : تتأكد من عصر يوم الخميس إلى طلوع شمس يوم السبت . وهذا قول راجح عند المالكية
Ziarah kubur disunahkan agar dapat mengambil pertimbangan, peringatan serta teringat kehidupan akhirat, kesunahannya menjadi mauakad dihari hari jumat dan hari sebelumnya (kamis) serta hari setelahnya menurut kalangan Hanafiyah dan Malikiyyah berbeda menurut kalangan Hanabilah yang menyatakan “ziarah tidak muakad, tidak dihari tertentu juga hari lainnya” dan kalangan Syafi’iyyah yang menyatakan “Menjadi sunah yang muakkad mulai asharnya hari kamis hingga terbitnya matahari dihari sabtu” dan pernyataan ini sesuai pendapat yang unggul dikalangan Malikiyyah.
HUKUM MEMAKAN MASAKANNYA NON MUSLIM
PERTANYAAN:
Assalamu'alaikum, bagaimanakah hukumnya memakan masakan non muslim ?
JAWABAN :
Wa'alaikumussalaam, selagi tidak ada kejelasan / nyata bahwa makanan tersebut adalah makanan haram atau najis maka boleh memakannya :
Referensi Rujukan Hukum
-Kitab I'anatut Tholibin
.قاعدة وهي أن ما أصله الطهارة وغلب على الظن تنجسه لغلبة النجاسة في مثله فيه قولان معروفان بقولي الأصل والظاهر أو الغالب أرجحهما أنه طاهر___وذلك كثياب خمار وحائض وصبيان وأواني متدينين بالنجاسة أى أواني مشركين متدينين باستعمال النجاسة كطائفة من المجوس يغتسلون بأبوال البقر تقربا___وجوخ اشتهر عمله بشحم الخنزير وجبن شامي اشتهر عمله بانفحة الخنزير، (قوله وجوخ الخ) في المغني سئل ابن الصلاح عن الجوخ الذي اشتهر على ألسنة الناس أن فيه شحم الخنزير فقال لايحكم بنجاسته الا بتحقق النجاسة. إعانة الطالبين ١/١٠٤-١٠٥
Assalamu'alaikum, bagaimanakah hukumnya memakan masakan non muslim ?
JAWABAN :
Wa'alaikumussalaam, selagi tidak ada kejelasan / nyata bahwa makanan tersebut adalah makanan haram atau najis maka boleh memakannya :
Referensi Rujukan Hukum
-Kitab I'anatut Tholibin
.قاعدة وهي أن ما أصله الطهارة وغلب على الظن تنجسه لغلبة النجاسة في مثله فيه قولان معروفان بقولي الأصل والظاهر أو الغالب أرجحهما أنه طاهر___وذلك كثياب خمار وحائض وصبيان وأواني متدينين بالنجاسة أى أواني مشركين متدينين باستعمال النجاسة كطائفة من المجوس يغتسلون بأبوال البقر تقربا___وجوخ اشتهر عمله بشحم الخنزير وجبن شامي اشتهر عمله بانفحة الخنزير، (قوله وجوخ الخ) في المغني سئل ابن الصلاح عن الجوخ الذي اشتهر على ألسنة الناس أن فيه شحم الخنزير فقال لايحكم بنجاسته الا بتحقق النجاسة. إعانة الطالبين ١/١٠٤-١٠٥
Rabu, 10 Oktober 2018
HUKUM MEMBACALAN TAHLIL KEPADA MAYIT SEBELUM DIKUBURKAN
PERTANYAAN :
Assalamu'alaikum, maw tanya . . . mayat yang belum di kubur bolehkah di tahlili ?
Dan baca yasin dan tahlil di kuburan
Bagamana pak ust
JAWABAN :
Wa'alaikumussalam.
BOLEH, semua nya tahlil dan baca yasin di kuburan yang pahalanya kita hadiahkan ke penduduk kubur dan pahala itu akan sampai
Dan juga agar kita bisa ingat mati maka lakukanlah ziaroh kubur minimal semingu sekali sebagaimana nabi menziarohi kuburan baqi' dan juga para sahabat ziaaroh kubur
Kalo kalian tudak mau ziaroh kubur maka kalian akan jauh dari ingat mati
Referensi Rujukan Hukum
Fatawy kubra hal 2 hal 36 :
وسئل نفع الله به عن قول الأصحاب رضي الله عنهم يسن قراءة يس عند من حضره الموت يعني مقدماته لأن الميت لا يقرأ عليه هل لا يؤمر بالقراءة عليه لعدم انتفاعه بها للصعود بروحه إلى الحضرة الإلهية فلانتفاء انتفاعه بالقراءة حينئذ كما ذاكرني بذلك بعض أئمتنا أم المراد غير ذلك وما هو ؟
فأجاب بقوله قولهم الميت لا يقرأ عليه مبني على ما أطلقه المتقدمون من أن القراءة لا تصل إلى الميت لأن ثوابها للقارئ والثواب المترتب على عمل لا ينقل عن عامل ذلك العمل قال تعالى وأن ليس للإنسان إلا ما سعى ووصول الدعاء والصدقة ورد بهما النص فلا يقاس عليهما إذ لا مجال للقياس في ذلك فاتجه قولهم أن الميت لا يقرأ عليه لما ذكرته ولما كان المتأخرون يرون وصول القراءة للميت على تفصيل فيه مقرر في محله أخذ ابن الرفعة كغيره بظاهر الخبر من أنها تقرأ عليه بعد موته وهو مسجى بل في وجه لبعض أصحابنا أنها تقرأ عليه عند القبر وتبع هؤلاء الزركشي فقال لا يبعد على القول باستعمال اللفظ في حقيقته ومجازه أنه يندب قراءتها في الموضعين وما نقل في السؤال من التعليل بعدم انتفاعه للصعود بروحه إلخ كلام في غاية السقوط والفساد لأن صعود الروح للملإ الأعلى لا ينافي انتفاعها بما يصل إليها إجماعا من الدعاء والصدقة فكذا القراءة لولا ما أشرت إليه من الفرق على أن الحق وصولها إن عقبها دعاء بوصول ثوابها أو مثله لأن حذف لفظ مثل وإرادة معناها صحيح كبعتك بما باع به فلان فرسه وأوصيت لك بنصيب ابني وكذا إن لم يعقبها دعاء وكانت على القبر لأن الميت حينئذ كالحاضر ترجى له الرحمة والبركة وبهذا يتضح فساد تلك المذاكرة إذ لو نظروا إلى صعود روحه بالمعنى الذي في السؤال لم يقولوا بذلك فإن قلت ينافي قولهم الميت لا يقرأ عليه قول الشافعي رضي الله عنه يقرأ عند القبور ما تيسر من القرآن ويدعو لهم عقبها قلت لا ينافيه لأن كلامهم في مجرد القراءة عند الميت وكلام الشافعي رضي الله عنه هذا تأييد للمتأخرين في حملهم مشهور المذهب على ما إذا لم يكن بحضرة الميت أو لم يدع عقبها
Fathul wahab :
(و) أن (يقرأ عنده) سورة (يس) لخبر: اقرءوا على موتاكم يس رواه أبو داود وغيره وصححه ابن حبان، وقال المراد به من حضره الموت لان الميت لا يقرأ عليه. والحكمة في قراءتها أن أحوال القيامة والبعث مذكورة فيها، فإذا قرئت عنده تحدد له ذكر تلك الاحوال
Asnal mathaleb :
( و ) أن ( يقرأ عنده يس ) لخبر { اقرءوا على موتاكم يس } رواه أبو داود وابن حبان وصححه وقال المراد به من حضره الموت يعني مقدماته ؛ لأن الميت لا يقرأ عليه والحكمة في قراءتها أن أحوال القيامة والبعث مذكورة فيها فإذا قرئت عنده تجدد له ذكر تلك الأحوال وأخذ ابن الرفعة تبعا لبعضهم بظاهر الخبر فصحيح أنها إنما تقرأ بعد موته ( قيل و ) يقرأ عنده ( الرعد ) لقول جابر فإنها تهون عليه خروج روحه قال الجبلي ويستحب تجريعه ماء فإن العطش يغلب من شدة النزع فيخاف منه إزلال الشيطان إذ ورد أنه يأتي بماء زلال ويقول قل لا إله غيري حتى أسقيك نقله عند الإسنوي وأقره والأذرعي وقال إنه غريب حكما ودليلا
Syarah bahjah :
( وعنده يس تتلى ) ندبا لخبر { اقرءوا على موتاكم ياسين } رواه أبو داود وصححه ابن حبان وقال : المراد به من حضره الموت يعني مقدماته ؛ لأن الميت لا يقرأ عليه وفي رباعيات أبي بكر الشافعي ما من مريض يقرأ عنده يس إلا مات ريانا وأدخل قبره ريانا وحشر يوم القيامة ريانا قال السبكي : وهو غريب بمرة قال الجاربردي ولعل الحكمة في قراءتها أن أحوال القيامة والبعث مذكورة فيها فإذا قرئت عليه تجدد له ذكر تلك الأحوال وزاد البندنيجي والعمراني وغيرهما قراءة الرعد لقول جابر فإنها تهون عليه خروج الروح .
الشرح
قوله : لأن الميت لا يقرأ عليه ) يحتمل أن وجه هذا الاستدلال أن القراءة على القبر تقتضي كونه ذا إدراك وسماع والميت ليس كذلك وحينئذ فهذا قرينة على أنه أراد من حضره الموت فلا يرد أن الميت ينتفع بالقراءة عنده ؛ لأن هذا شيء آخر لا ينافي ما قلناه خلافا لما توهم . ( قوله : ما من مريض إلخ ) هذا يؤيد التأويل السابق .
Hasyiah qalyuby ala Al Mahally :
( ويقرأ عنده { يس } ) قال صلى الله عليه وسلم : { اقرءوا على موتاكم { يس } } رواه أبو داود وابن ماجه وصححه ابن حبان ، وقال : المراد به من حضره الموت لأن الميت لا يقرأ عليه.
قوله : ( لا يقرأ عليه ) أي عادة بل يقرأ عنده ، ولا مانع من الأول كالسلام عليه
Tuhfatul Muhtaj :
( ويلقن ) ندبا المحتضر ولو مميزا على الأوجه ليحصل له الثواب الآتي وبه فارق عدم تلقينه في القبر لا منه من السؤال ( الشهادة ) أي لا إله إلا الله فقط لخبر مسلم { لقنوا موتاكم أي من حضره الموت لا إله إلا الله } مع الخبر الصحيح { من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة } أي مع الفائزين وإلا فكل مسلم ولو فاسقا يدخلها ولو بعد عذاب وإن طال خلافا لكثير من فرق الضلال كالمعتزلة والخوارج .
وقول جمع : يلقن " محمد رسول الله " أيضا لأن القصد موته على الإسلام ولا يسمى مسلما إلا بهما مردود بأنه مسلم وإنما القصد ختم كلامه بلا إله إلا الله ليحصل له ذلك الثواب وبحث تلقينه الرفيق الأعلى لأنه آخر ما تكلم به رسول الله صلى الله عليه وسلم مردود بأن ذلك لسبب لم يوجد في غيره وهو أن الله خيره فاختاره أما الكافر فيلقنهما قطعا مع لفظ " أشهد " لوجوبه أيضا على ما سيأتي فيه إذ لا يصير مسلما إلا بهما وينبغي كما قال الماوردي وغيره تقديم التلقين على الاضطجاع السابق إن لم يمكن فعلهما معا لأن النقل فيه أثبت ولعظيم فائدته ولئلا يحصل الزهوق إن اشتغل بالاضطجاع ويسن أن يكون مرة فقط و ( بلا إلحاح ) عليه لئلا يضجر فيتكلم بما لا ينبغي لشدة ما يقاسي حينئذ وأن لا يقال له : قل بل يذكر الكلمة عنده ليتذكر فيذكر فإن ذكرها وإلا سكت يسيرا ثم يعيدها فيما يظهر وأن يعيده إذا تكلم ولو بذكر ليكون آخر كلامه الشهادة وليكن غير متهم لنحو عداوة أو إرث إن كان ثم غيره فإن حضر عدو ووارث فالوارث لأنه أشفق لقولهم لو حضر ورثة قدم أشفقهم ( ويقرأ ) ندبا ( عنده يس ) للخبر الصحيح { اقرءوا على موتاكم يس } أي من حضره الموت لأن الميت لا يقرأ عليه .
وأخذ ابن الرفعة بقضيته وهو أوجه في المعنى إذ لا صارف عن ظاهره وكون الميت لا يقرأ عليه ممنوع لبقاء إدراك روحه فهو بالنسبة لسماع القرآن وحصول بركته له كالحي وإذا صح السلام عليه فالقراءة عليه أولى .
وقد صرحوا بأنه يندب للزائر والمشيع قراءة شيء من القرآن نعم يؤيد الأول ما في خبر غريب { ما من مريض يقرأ عنده يس إلا مات ريانا وأدخل قبره ريانا } والحكمة في يس اشتمالها على أحوال القيامة وأهوالها وتغير الدنيا وزوالها ونعيم الجنة وعذاب جهنم فيتذكر بقراءتها تلك الأحوال الموجبة للثبات قيل : والرعد لأنها تسهل طلوع الروح ويجرع الماء ندبا بل وجوبا فيما يظهر إن ظهرت أمارة تدل على احتياجه له كأن يهش إذا فعل به ذلك لأن العطش يغلب حينئذ لشدة النزع ولذلك يأتي الشيطان - كما ورد - بماء زلال ويقول : قل لا إله غيري حتى أسقيك قيل : ويحرم حضور الحائض عنده ويأتي في المسائل المنثورة ما يرده .
الشرح
( قوله : ندبا ) إلى قوله وهو أوجه في النهاية والمغني ( قوله : أي من حضره الموت ) يعني مقدماته مغني قول المتن ( يس ) أي بتمامها روى الحارث بن أسامة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال { من قرأها وهو خائف أمن أو جائع شبع أو عطشان سقي أو عار كسي أو مريض شفي } دميري ا هـ ع ش ( قوله : لأن الميت لا يقرأ إلخ ) وإنما يقرأ عنده مغني .
( قوله : وأخذ ابن الرفعة إلخ ) عبارة المغني وإن أخذ ابن الرفعة بظاهر الخبر وعبارة النهاية خلافا لما أخذ به ابن الرفعة كبعضهم من العمل بظاهر الخبر ولك أن تقول لا مانع من إعمال اللفظ في حقيقته ومجازه فحيث قيل بطلب القراءة على الميت كانت يس أفضل من غيرها أخذا بظاهر هذا الخبر وكان معنى لا يقرأ على الميت أي قبل دفنه إذ المطلوب الآن الاشتغال بتجهيزه أما بعد دفنه فيأتي في الوصية أن القراءة تنفعه في بعض الصور فلا مانع من ندبها حينئذ كالصدقة وغيرها ا هـ قال ع ش قوله : م ر أفضل من غيرها أي في الحياة وبعد الممات أيضا فتكريرها أفضل من قراءة غيرها المساوي لما كررها ومثله تكرير ما حفظه منها لو لم يحسنها بتمامها لأن كل جزء منها بخصوصه مطلوب في ضمن طلب كلها
ويحتمل أنه يقرأ ما يحفظه من غيرها مما هو مشتمل على مثل ما فيها ولعله الأقرب
وقوله : إذ المطلوب الآن إلخ يؤخذ منه أن من لا علقة له بالاشتغال بتجهيزه تطلب القراءة منه وإن بعد عن الميت ا هـ ع ش ( قوله : بقضيته ) أي بظاهر الخبر مغني .
( قوله : وقد صرحوا بأنه يندب للزائر والمشيع قراءة شيء إلخ ) ينبغي حمل ذلك على قراءته سرا ليوافق ما يأتي للشارح م ر في المسائل المنثورة ع ش ( قوله : يؤيد الأول إلخ ) أقول غايته أنه يدل على ندب قراءتها عند المريض أيضا وهو لا ينافي ندبها على الميت الذي هو ظاهر الحديث السابق بصري ( قوله : والحكمة ) إلى قوله قيل يحرم في النهاية وكذا في المغني إلا قوله قيل ( قوله : فيتذكر إلخ ) يؤخذ منه أنه يستحب قراءتها عنده جهرا ع ش ( قوله : قيل : والرعد ) كذا عبر في النهاية وعبر في المغني بقوله واستحب بعض الأصحاب أن يقرأ عنده سورة الرعد إلخ وهي ظاهرة في اعتماده بخلاف تعبيرهما بصري قوله : م ر والرعد أي بتمامها إن اتفق له ذلك وإلا فما تيسر له منها وقوله : م ر لأنها تسهل إلخ يؤخذ منه أنه يستحب قراءتها سرا ولو أمره المحتضر بالقراءة جهرا لأن فيه زيادة إيلام له وبقي ما لو تعارض عليه قراءتهما فهل يقدم يس لصحة حديثها أم الرعد ؟ فيه نظر وينبغي أن يقال بمراعاة حال المحتضر فإن بان عنده شعور وتذكر بأحوال البعث قرأ سورة يس وإلا قرأ الرعد ع ش
Mughni muhtaj :
( ويقرأ عنده ) سورة ( يس ) لخبر { اقرءوا على موتاكم يس } ورواه أبو داود وابن حبان وصححه .وقال المراد به من حضره الموت يعني مقدماته وإن أخذ ابن الرفعة بظاهر الخبر ؛ لأن الميت لا يقرأ عليه وإنما يقرأ عنده ، والحكمة في قراءتها أن أحوال القيامة والبعث مذكورة فيها ، فإذا قرئت عنده تجدد له ذكر تلك الأحوال واستحب بعض الأصحاب أن يقرأ عنده سورة الرعد لقول جابر فإنها تهون عليه خروج روحه ،
Nihayatul Muhtaj :
( ويقرأ عنده ) سورة ( يس ) ندبا لخبر { أقرءوا على موتاكم يس } أي من حضره مقدمات الموت ؛ لأن الميت لا يقرأ عليه ، خلافا لما أخذ به ابن الرفعة كبعضهم من العمل بظاهر الخبر ولك أن تقول : لا مانع من إعمال اللفظ في حقيقته ومجازه ، فحيث قيل يطلب القراءة على الميت كانت يس أفضل من غيرها أخذا بظاهر هذا الخبر ، وكان معنى لا يقرأ على الميت : أي قبل دفنه ، إذ المطلوب الآن الاشتغال بتجهيزه ، أما بعد دفنه فيأتي في الوصية أن القراءة تنفعه في بعض الصور فلا مانع من ندبها حينئذ كالصدقة وغيرها ، وحكمة قراءتها تذكيره بما فيها من أحوال البعث والقيامة ، قيل ويقرأ عنده الرعد لقول جابر : إنها تهون طلوع الروح ، ونقل الإسنوي عن الجيلي أنه يستحب تجريعه ماء ، فإن العطش يغلب من شدة النزع فيخاف منه إزلال الشيطان ، إذ ورد أنه يأتي بماء زلال ويقول قل لا إله غيري حتى أسقيك ، وأقره الأذرعي وقال : إنه غريب حكما وتعليلا ا هـ
ومحله عند عدم ظهور أمارة احتياج المحتضر إليه ، أما عند ظهورها فهو واجب كما هو واضح .
الشرح
( قوله : ويقرأ عنده سورة يس ) أي بتمامها روى الحارث بن أسامة { أن النبي صلى الله عليه وسلم قال من قرأها وهو خائف أمن ، أو جائع شبع ، أو عطشان سقي ، أو عار كسي ، أو مريض شفي } ا هـ دميري ( قوله : من العمل بظاهر الخبر ) قال حج وهو أوجه إذ لا صارف عن ظاهره ، وكون الميت لا يقرأ عليه ممنوع لبقاء إدراك روحه فهو بالنسبة لسماع القرآن وحصول بركته له كالحي ، إذا صح السلام عليه فالقراءة أولى .
نعم يؤيد الأول ما في خبر غريب { ما من مريض يقرأ عنده يس إلا مات ريانا وأدخل قبره ريانا } ا هـ رحمه الله ( قوله : أفضل من غيرها ) أي في الحياة وبعد الموت أيضا : أي فتكريرها أفضل من قراءة غيرها المساوي لما كرره ، ومثله تكرير ما حفظه منها ولو لم يحسنها بتمامها ؛ لأن كل جزء منها بخصوصه مطلوب في ضمن طلب كلها ، ويحتمل أنه يقرأ ما يحفظه من غيرها مما هو مشتمل على مثل ما فيها ولعله الأقرب ( قوله : إذ المطلوب الآن إلخ ) يؤخذ منه أن من لا علقة له بالاشتغال بتجهيزه تطلب القراءة منه وإن بعد عن الميت
[ فائدة ] قال حج : وقد صرحوا بأنه يندب للزائر والمشيع قراءة شيء من القرآن ا هـ .
وينبغي حمل ذلك على قراءته سرا ليوافق ما يأتي الشارح في المسائل المنثورة بعد قول المصنف : ويكره اللفظ من قوله ويسن الاشتغال بالقراءة والذكر سرا ا هـ ( قوله : تذكيره ) يؤخذ منه أنه يستحب قراءتها عنده جهرا ( قوله : ويقرأ عنده الرعد ) أي بتمامها إن اتفق له ذلك وإلا فما تيسر له منها ( قوله لقول جابر ) يؤخذ منه أنه يستحب قراءتها سرا ولو أمره المحتضر بالقراءة جهرا ؛ لأن فيه زيادة إيلام له ، وبقي ما لو تعارض عليه قراءتهما فهل يقدم يس لصحة حديثها أم الرعد ؟ فيه نظر ، وينبغي أن يقال بمراعاة حال المحتضر فإن كان عنده شعور وتذكر بأحوال البعث قرأ سورة يس وإلا قرأ سورة الرع.
( قوله أنه يأتي بماء زلال ) قال في المصباح : الماء الزلال العذب ا هـ ( قوله : حتى أسقيك ) أي فإن قال ذلك مات على غير الإيمان إن كان عقله حاضرا ، وإنما قلنا ذلك لجواز أن يكون عقله حاضرا وإن كنا لا نشاهد ذلك .
قوله : في حقيقته ومجازه ) أي بالنسبة للفظ الميت ، فإذا استعملناه في حقيقته تكون على بمعنى عند على أن الشهاب حج أبقاها على حقيقتها حينئذ لبقاء إدراك الميت كما وردت به الأحاديث ( قوله : فحيث قيل ) أي كما قال ابن الرفعة قوله : كانت يس أفضل ) لا دخل له في الجمع كما هو ظاهر ( قوله : وكان معنى لا يقرأ على الميت ) أي الذي هو كلام غير ابن الرفعة ، لكن هذا إنما يأتي مع قطع النظر عن قوله ؛ لأن الميت لا يقرأ عليه
Hasyiah jamal :
( قوله وأن يقرأ عنده يس ) أي بتمامها روى الحارث بن أسامة { أن النبي صلى الله عليه وسلم قال من قرأها وهو خائف أمن أو جائع شبع أو عطشان سقي أو عار كسي أو مريض شفي } .ا هـ
دميري وصح في حديث غريب { ما من مريض يقرأ عليه يس إلا مات ريانا وأدخل قبره ريانا } ا هـ .حج .ا هـ .ع ش على م ر
( قوله أيضا وأن يقرأ عنده يس ) وهي أفضل من غيرها في هذه الحالة وبعد الموت أيضا فتكريرها أفضل من قراءة غيرها المساوي لما كرره ومثله تكرير ما حفظه منها لو لم يحسنها بتمامها لأن كل جزء منها بخصوصه مطلوب في ضمن طلب كلها ويحتمل أنه يقرأ ما يحفظه من غيرها مما هو مشتمل على مثل ما فيها ولعله الأقرب ا هـ ع ش على م ر
( قوله لأن الميت لا يقرأ عليه ) أي لأن على تشعر بإصغائه وسماعه والميت لا يسمع فلو كان المراد بالميت في الخبر حقيقته لقال عنده هذا مراده وفيه أن الميت يسمع كالحي فيحسن أن يقال عليه فالأولى إبقاؤه على ظاهره من غير تأويل .ا هـ .شيخنا .
( قوله أيضا لأن الميت لا يقرأ عليه ) أي خلافا لابن الرفعة حيث منع التأويل وأبقى الحديث على ظاهره ومنع ذلك بأن الميت في سماع القرآن كالحي لأنه إذا صح السلام عليه فالقرآن أولى ا هـ .
ح ل وكلامه ظاهر قال م ر وكان معنى لا يقرأ على الميت أي قبل دفنه لاشتغال أهله بتجهيزه الذي هو أهم ا هـ .
ويؤخذ من العلة أنهم لو لم يشتغلوا بتجهيزه كأن كان الوقت ليلا سنت القراءة عليه ا هـ .ع ش وقرره شيخنا ح ف .
وعبارة شرح م ر ولك أن تقول لا مانع من إعمال اللفظ في حقيقته ومجازه فحيث قيل بطلب القراءة على الميت كانت يس أفضل من غيرها أخذا بظاهر هذا الخبر وكان معنى لا يقرأ على الميت أي قبل دفنه إذ المطلوب الآن الاشتغال بتجهيزه أما بعد دفنه فيأتي في الوصية أن القراءة تنفعه في بعض الصور فلا مانع من ندبها حينئذ كالصدقة وغيرها ويقرأ عنده الرعد لقول جابر إنها تهون طلوع الروح ونقل الإسنوي عن الجيلي أنه يستحب تجريعه الماء فإن العطش يغلب من شدة النزع فيخاف منه إزلال الشيطان إذ ورد أنه يأتي بماء زلال أي عذب ويقول قل لا إله غيري حتى أسقيك وأقره الأذرعي وقال إنه غريب حكما وتعليلا ا هـ .
ومحله عند عدم ظهور أمارة احتياج المحتضر إليه أما عند ظهورها فهو واجب كما هو واضح انتهت وقوله ويقرأ عنده الرعد أي بتمامها إن اتفق له ذلك وإلا فما تيسر له منها وقوله لقول جابر إلخ يؤخذ منه أنه يستحب قراءتها سرا ولو أمره المحتضر بالقراءة جهرا لأن فيه زيادة إيلام له وبقي ما لو تعارض عليه قراءتهما فهل تقدم يس لصحة حديثها أم الرعد فيه نظر وينبغي أن يقال بمراعاة حال المحتضر فإن كان عنده شعور وتذكر لمجرد البعث قرأ سورة يس وإلا قرأ سورة الرعد .ا هـ .
ع ش عليه ( تنبيه ) قد دلت الأحاديث على أن جبريل عليه السلام يحضر موت كل مؤمن ما لم يكن جنبا ا هـ .
برماوي ( قوله أيضا لأن الميت لا يقرأ عليه ) كان معناه أن القراءة على الشخص تقتضي كونه
Bujairimi ala manhaj :
( و ) أن ( يقرأ عنده ) سورة ( يس ) لخبر { : اقرءوا على موتاكم يس } رواه أبو داود وغيره وصححه ابن حبان وغيره ، وقال المراد به من حضره الموت لأن الميت لا يقرأ عليه ، والحكمة في قراءتها أن أحوال القيامة والبعث مذكورة فيها فإذا قرئت عنده تجدد له ذكر تلك الأحوال ( و ) أن ( يحسن ظنه بربه ) لخبر مسلم عن جابر قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم { يقول قبل موته بثلاث لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله تعالى } أي يظن أن يرحمه ويعفو عنه ولخبر الشيخين { قال الله أنا عند ظن عبدي بي } ويسن لمن عنده تحسين ظنه وتطميعه في رحمة الله تعالى
الشرح
( قوله : لأن الميت لا يقرأ عليه ) أي : لأن على تشعر بإصغائه وسماعه والميت لا يسمع فلو كان المراد بالميت في الخبر حقيقته لقال : عنده بدل قوله عليه هذا مراده ، وفيه أن الميت يسمع كالحي فيحسن أن يقرأ عليه فالأولى إبقاؤه على ظاهره من غير تأويل ا هـ شيخنا وعبارة ح ل ؛ لأن الميت لا يقرأ عليه خلافا .
لابن الرفعة حيث منع التأويل وأبقى الحديث على ظاهره ومنع ذلك بأن الميت في سماع القرآن كالحي لأنه إذا صح السلام عليه فالقرآن أولى ا هـ وكلامه ظاهر ، قال م ر : وكأن معنى لا يقرأ على الميت أي : قبل دفنه لاشتغال أهله بتجهيزه الذي هو أهم ويؤخذ من العلة أنهم لو لم يشتغلوا بتجهيزه كأن كان الوقت ليلا سنت القراءة عليه .اهـ .ع ش وقرره العلامة ح ف
( قوله : تجدد له ذكر تلك الأحوال ) أي : فيعمل بمقتضى ذلك وهذا لا يأتي في الميت ويؤخذ منه أنه يسن قراءتها عنده جهرا بخلاف الرعد فتقرأ سرا وإن طلب الميت الجهر بها كما في ع ش على م ر .
Raudhah :
فرع الاستئجار لقراءة القرآن على رأس القبر
عن القاضي حسين في الفتاوى أن الاستئجار لقراءة القرآن على رأس القبر مدة جائز كالاستئجار للأذان وتعليم القرآن.
واعلم أن عود المنفعة إلى المستأجر شرط فيجب عودها في هذه الإجارة إلى المستأجر أو ميته فالمستأجر لا ينتفع بقراءة غيره ومعلوم أن الميت لا يلحقه ثواب القراءة المجردة فالوجه تنزيل الاستئجار على صورة انتفاع الميت بالقراءة وذكروا له طريقين.
أحدهما أن يعقب القراءة بالدعاء للميت لأن الدعاء يلحقه والدعاء بعد القراءة أقرب إجابة وأكثر بركة.
والثاني ذكر الشيخ عبد الكريم السالوسي أنه إن نوى القارئ بقراءته أن يكون ثوابها للميت لم يلحقه وإن قرأ ثم جعل ما حصل من الأجر له فهذا دعاء بحصول ذلك الأجر للميت فينفع الميت. قلت ظاهر كلام القاضي حسين صحة الإجارة مطلقاً وهو المختار فإن موضع القراءة موضع بركة وبه تنزل الرحمة وهذا مقصود ينفع الميت والله أعلم.
.....
فرع عادة قراءة القرآن على القبر
الذي يعتاد من قراءة القرآن على القبر قد ذكرنا في كتاب طريقين لعود فائدتها إلى الميت وعن القاضي أبي الطيب طريق ثالث وهو أن الميت كالحي الحاضر فترجى له الرحمة ووصول البركة إذا وصل الثواب إلى القارى
Assalamu'alaikum, maw tanya . . . mayat yang belum di kubur bolehkah di tahlili ?
Dan baca yasin dan tahlil di kuburan
Bagamana pak ust
JAWABAN :
Wa'alaikumussalam.
BOLEH, semua nya tahlil dan baca yasin di kuburan yang pahalanya kita hadiahkan ke penduduk kubur dan pahala itu akan sampai
Dan juga agar kita bisa ingat mati maka lakukanlah ziaroh kubur minimal semingu sekali sebagaimana nabi menziarohi kuburan baqi' dan juga para sahabat ziaaroh kubur
Kalo kalian tudak mau ziaroh kubur maka kalian akan jauh dari ingat mati
Referensi Rujukan Hukum
Fatawy kubra hal 2 hal 36 :
وسئل نفع الله به عن قول الأصحاب رضي الله عنهم يسن قراءة يس عند من حضره الموت يعني مقدماته لأن الميت لا يقرأ عليه هل لا يؤمر بالقراءة عليه لعدم انتفاعه بها للصعود بروحه إلى الحضرة الإلهية فلانتفاء انتفاعه بالقراءة حينئذ كما ذاكرني بذلك بعض أئمتنا أم المراد غير ذلك وما هو ؟
فأجاب بقوله قولهم الميت لا يقرأ عليه مبني على ما أطلقه المتقدمون من أن القراءة لا تصل إلى الميت لأن ثوابها للقارئ والثواب المترتب على عمل لا ينقل عن عامل ذلك العمل قال تعالى وأن ليس للإنسان إلا ما سعى ووصول الدعاء والصدقة ورد بهما النص فلا يقاس عليهما إذ لا مجال للقياس في ذلك فاتجه قولهم أن الميت لا يقرأ عليه لما ذكرته ولما كان المتأخرون يرون وصول القراءة للميت على تفصيل فيه مقرر في محله أخذ ابن الرفعة كغيره بظاهر الخبر من أنها تقرأ عليه بعد موته وهو مسجى بل في وجه لبعض أصحابنا أنها تقرأ عليه عند القبر وتبع هؤلاء الزركشي فقال لا يبعد على القول باستعمال اللفظ في حقيقته ومجازه أنه يندب قراءتها في الموضعين وما نقل في السؤال من التعليل بعدم انتفاعه للصعود بروحه إلخ كلام في غاية السقوط والفساد لأن صعود الروح للملإ الأعلى لا ينافي انتفاعها بما يصل إليها إجماعا من الدعاء والصدقة فكذا القراءة لولا ما أشرت إليه من الفرق على أن الحق وصولها إن عقبها دعاء بوصول ثوابها أو مثله لأن حذف لفظ مثل وإرادة معناها صحيح كبعتك بما باع به فلان فرسه وأوصيت لك بنصيب ابني وكذا إن لم يعقبها دعاء وكانت على القبر لأن الميت حينئذ كالحاضر ترجى له الرحمة والبركة وبهذا يتضح فساد تلك المذاكرة إذ لو نظروا إلى صعود روحه بالمعنى الذي في السؤال لم يقولوا بذلك فإن قلت ينافي قولهم الميت لا يقرأ عليه قول الشافعي رضي الله عنه يقرأ عند القبور ما تيسر من القرآن ويدعو لهم عقبها قلت لا ينافيه لأن كلامهم في مجرد القراءة عند الميت وكلام الشافعي رضي الله عنه هذا تأييد للمتأخرين في حملهم مشهور المذهب على ما إذا لم يكن بحضرة الميت أو لم يدع عقبها
Fathul wahab :
(و) أن (يقرأ عنده) سورة (يس) لخبر: اقرءوا على موتاكم يس رواه أبو داود وغيره وصححه ابن حبان، وقال المراد به من حضره الموت لان الميت لا يقرأ عليه. والحكمة في قراءتها أن أحوال القيامة والبعث مذكورة فيها، فإذا قرئت عنده تحدد له ذكر تلك الاحوال
Asnal mathaleb :
( و ) أن ( يقرأ عنده يس ) لخبر { اقرءوا على موتاكم يس } رواه أبو داود وابن حبان وصححه وقال المراد به من حضره الموت يعني مقدماته ؛ لأن الميت لا يقرأ عليه والحكمة في قراءتها أن أحوال القيامة والبعث مذكورة فيها فإذا قرئت عنده تجدد له ذكر تلك الأحوال وأخذ ابن الرفعة تبعا لبعضهم بظاهر الخبر فصحيح أنها إنما تقرأ بعد موته ( قيل و ) يقرأ عنده ( الرعد ) لقول جابر فإنها تهون عليه خروج روحه قال الجبلي ويستحب تجريعه ماء فإن العطش يغلب من شدة النزع فيخاف منه إزلال الشيطان إذ ورد أنه يأتي بماء زلال ويقول قل لا إله غيري حتى أسقيك نقله عند الإسنوي وأقره والأذرعي وقال إنه غريب حكما ودليلا
Syarah bahjah :
( وعنده يس تتلى ) ندبا لخبر { اقرءوا على موتاكم ياسين } رواه أبو داود وصححه ابن حبان وقال : المراد به من حضره الموت يعني مقدماته ؛ لأن الميت لا يقرأ عليه وفي رباعيات أبي بكر الشافعي ما من مريض يقرأ عنده يس إلا مات ريانا وأدخل قبره ريانا وحشر يوم القيامة ريانا قال السبكي : وهو غريب بمرة قال الجاربردي ولعل الحكمة في قراءتها أن أحوال القيامة والبعث مذكورة فيها فإذا قرئت عليه تجدد له ذكر تلك الأحوال وزاد البندنيجي والعمراني وغيرهما قراءة الرعد لقول جابر فإنها تهون عليه خروج الروح .
الشرح
قوله : لأن الميت لا يقرأ عليه ) يحتمل أن وجه هذا الاستدلال أن القراءة على القبر تقتضي كونه ذا إدراك وسماع والميت ليس كذلك وحينئذ فهذا قرينة على أنه أراد من حضره الموت فلا يرد أن الميت ينتفع بالقراءة عنده ؛ لأن هذا شيء آخر لا ينافي ما قلناه خلافا لما توهم . ( قوله : ما من مريض إلخ ) هذا يؤيد التأويل السابق .
Hasyiah qalyuby ala Al Mahally :
( ويقرأ عنده { يس } ) قال صلى الله عليه وسلم : { اقرءوا على موتاكم { يس } } رواه أبو داود وابن ماجه وصححه ابن حبان ، وقال : المراد به من حضره الموت لأن الميت لا يقرأ عليه.
قوله : ( لا يقرأ عليه ) أي عادة بل يقرأ عنده ، ولا مانع من الأول كالسلام عليه
Tuhfatul Muhtaj :
( ويلقن ) ندبا المحتضر ولو مميزا على الأوجه ليحصل له الثواب الآتي وبه فارق عدم تلقينه في القبر لا منه من السؤال ( الشهادة ) أي لا إله إلا الله فقط لخبر مسلم { لقنوا موتاكم أي من حضره الموت لا إله إلا الله } مع الخبر الصحيح { من كان آخر كلامه لا إله إلا الله دخل الجنة } أي مع الفائزين وإلا فكل مسلم ولو فاسقا يدخلها ولو بعد عذاب وإن طال خلافا لكثير من فرق الضلال كالمعتزلة والخوارج .
وقول جمع : يلقن " محمد رسول الله " أيضا لأن القصد موته على الإسلام ولا يسمى مسلما إلا بهما مردود بأنه مسلم وإنما القصد ختم كلامه بلا إله إلا الله ليحصل له ذلك الثواب وبحث تلقينه الرفيق الأعلى لأنه آخر ما تكلم به رسول الله صلى الله عليه وسلم مردود بأن ذلك لسبب لم يوجد في غيره وهو أن الله خيره فاختاره أما الكافر فيلقنهما قطعا مع لفظ " أشهد " لوجوبه أيضا على ما سيأتي فيه إذ لا يصير مسلما إلا بهما وينبغي كما قال الماوردي وغيره تقديم التلقين على الاضطجاع السابق إن لم يمكن فعلهما معا لأن النقل فيه أثبت ولعظيم فائدته ولئلا يحصل الزهوق إن اشتغل بالاضطجاع ويسن أن يكون مرة فقط و ( بلا إلحاح ) عليه لئلا يضجر فيتكلم بما لا ينبغي لشدة ما يقاسي حينئذ وأن لا يقال له : قل بل يذكر الكلمة عنده ليتذكر فيذكر فإن ذكرها وإلا سكت يسيرا ثم يعيدها فيما يظهر وأن يعيده إذا تكلم ولو بذكر ليكون آخر كلامه الشهادة وليكن غير متهم لنحو عداوة أو إرث إن كان ثم غيره فإن حضر عدو ووارث فالوارث لأنه أشفق لقولهم لو حضر ورثة قدم أشفقهم ( ويقرأ ) ندبا ( عنده يس ) للخبر الصحيح { اقرءوا على موتاكم يس } أي من حضره الموت لأن الميت لا يقرأ عليه .
وأخذ ابن الرفعة بقضيته وهو أوجه في المعنى إذ لا صارف عن ظاهره وكون الميت لا يقرأ عليه ممنوع لبقاء إدراك روحه فهو بالنسبة لسماع القرآن وحصول بركته له كالحي وإذا صح السلام عليه فالقراءة عليه أولى .
وقد صرحوا بأنه يندب للزائر والمشيع قراءة شيء من القرآن نعم يؤيد الأول ما في خبر غريب { ما من مريض يقرأ عنده يس إلا مات ريانا وأدخل قبره ريانا } والحكمة في يس اشتمالها على أحوال القيامة وأهوالها وتغير الدنيا وزوالها ونعيم الجنة وعذاب جهنم فيتذكر بقراءتها تلك الأحوال الموجبة للثبات قيل : والرعد لأنها تسهل طلوع الروح ويجرع الماء ندبا بل وجوبا فيما يظهر إن ظهرت أمارة تدل على احتياجه له كأن يهش إذا فعل به ذلك لأن العطش يغلب حينئذ لشدة النزع ولذلك يأتي الشيطان - كما ورد - بماء زلال ويقول : قل لا إله غيري حتى أسقيك قيل : ويحرم حضور الحائض عنده ويأتي في المسائل المنثورة ما يرده .
الشرح
( قوله : ندبا ) إلى قوله وهو أوجه في النهاية والمغني ( قوله : أي من حضره الموت ) يعني مقدماته مغني قول المتن ( يس ) أي بتمامها روى الحارث بن أسامة أن النبي صلى الله عليه وسلم قال { من قرأها وهو خائف أمن أو جائع شبع أو عطشان سقي أو عار كسي أو مريض شفي } دميري ا هـ ع ش ( قوله : لأن الميت لا يقرأ إلخ ) وإنما يقرأ عنده مغني .
( قوله : وأخذ ابن الرفعة إلخ ) عبارة المغني وإن أخذ ابن الرفعة بظاهر الخبر وعبارة النهاية خلافا لما أخذ به ابن الرفعة كبعضهم من العمل بظاهر الخبر ولك أن تقول لا مانع من إعمال اللفظ في حقيقته ومجازه فحيث قيل بطلب القراءة على الميت كانت يس أفضل من غيرها أخذا بظاهر هذا الخبر وكان معنى لا يقرأ على الميت أي قبل دفنه إذ المطلوب الآن الاشتغال بتجهيزه أما بعد دفنه فيأتي في الوصية أن القراءة تنفعه في بعض الصور فلا مانع من ندبها حينئذ كالصدقة وغيرها ا هـ قال ع ش قوله : م ر أفضل من غيرها أي في الحياة وبعد الممات أيضا فتكريرها أفضل من قراءة غيرها المساوي لما كررها ومثله تكرير ما حفظه منها لو لم يحسنها بتمامها لأن كل جزء منها بخصوصه مطلوب في ضمن طلب كلها
ويحتمل أنه يقرأ ما يحفظه من غيرها مما هو مشتمل على مثل ما فيها ولعله الأقرب
وقوله : إذ المطلوب الآن إلخ يؤخذ منه أن من لا علقة له بالاشتغال بتجهيزه تطلب القراءة منه وإن بعد عن الميت ا هـ ع ش ( قوله : بقضيته ) أي بظاهر الخبر مغني .
( قوله : وقد صرحوا بأنه يندب للزائر والمشيع قراءة شيء إلخ ) ينبغي حمل ذلك على قراءته سرا ليوافق ما يأتي للشارح م ر في المسائل المنثورة ع ش ( قوله : يؤيد الأول إلخ ) أقول غايته أنه يدل على ندب قراءتها عند المريض أيضا وهو لا ينافي ندبها على الميت الذي هو ظاهر الحديث السابق بصري ( قوله : والحكمة ) إلى قوله قيل يحرم في النهاية وكذا في المغني إلا قوله قيل ( قوله : فيتذكر إلخ ) يؤخذ منه أنه يستحب قراءتها عنده جهرا ع ش ( قوله : قيل : والرعد ) كذا عبر في النهاية وعبر في المغني بقوله واستحب بعض الأصحاب أن يقرأ عنده سورة الرعد إلخ وهي ظاهرة في اعتماده بخلاف تعبيرهما بصري قوله : م ر والرعد أي بتمامها إن اتفق له ذلك وإلا فما تيسر له منها وقوله : م ر لأنها تسهل إلخ يؤخذ منه أنه يستحب قراءتها سرا ولو أمره المحتضر بالقراءة جهرا لأن فيه زيادة إيلام له وبقي ما لو تعارض عليه قراءتهما فهل يقدم يس لصحة حديثها أم الرعد ؟ فيه نظر وينبغي أن يقال بمراعاة حال المحتضر فإن بان عنده شعور وتذكر بأحوال البعث قرأ سورة يس وإلا قرأ الرعد ع ش
Mughni muhtaj :
( ويقرأ عنده ) سورة ( يس ) لخبر { اقرءوا على موتاكم يس } ورواه أبو داود وابن حبان وصححه .وقال المراد به من حضره الموت يعني مقدماته وإن أخذ ابن الرفعة بظاهر الخبر ؛ لأن الميت لا يقرأ عليه وإنما يقرأ عنده ، والحكمة في قراءتها أن أحوال القيامة والبعث مذكورة فيها ، فإذا قرئت عنده تجدد له ذكر تلك الأحوال واستحب بعض الأصحاب أن يقرأ عنده سورة الرعد لقول جابر فإنها تهون عليه خروج روحه ،
Nihayatul Muhtaj :
( ويقرأ عنده ) سورة ( يس ) ندبا لخبر { أقرءوا على موتاكم يس } أي من حضره مقدمات الموت ؛ لأن الميت لا يقرأ عليه ، خلافا لما أخذ به ابن الرفعة كبعضهم من العمل بظاهر الخبر ولك أن تقول : لا مانع من إعمال اللفظ في حقيقته ومجازه ، فحيث قيل يطلب القراءة على الميت كانت يس أفضل من غيرها أخذا بظاهر هذا الخبر ، وكان معنى لا يقرأ على الميت : أي قبل دفنه ، إذ المطلوب الآن الاشتغال بتجهيزه ، أما بعد دفنه فيأتي في الوصية أن القراءة تنفعه في بعض الصور فلا مانع من ندبها حينئذ كالصدقة وغيرها ، وحكمة قراءتها تذكيره بما فيها من أحوال البعث والقيامة ، قيل ويقرأ عنده الرعد لقول جابر : إنها تهون طلوع الروح ، ونقل الإسنوي عن الجيلي أنه يستحب تجريعه ماء ، فإن العطش يغلب من شدة النزع فيخاف منه إزلال الشيطان ، إذ ورد أنه يأتي بماء زلال ويقول قل لا إله غيري حتى أسقيك ، وأقره الأذرعي وقال : إنه غريب حكما وتعليلا ا هـ
ومحله عند عدم ظهور أمارة احتياج المحتضر إليه ، أما عند ظهورها فهو واجب كما هو واضح .
الشرح
( قوله : ويقرأ عنده سورة يس ) أي بتمامها روى الحارث بن أسامة { أن النبي صلى الله عليه وسلم قال من قرأها وهو خائف أمن ، أو جائع شبع ، أو عطشان سقي ، أو عار كسي ، أو مريض شفي } ا هـ دميري ( قوله : من العمل بظاهر الخبر ) قال حج وهو أوجه إذ لا صارف عن ظاهره ، وكون الميت لا يقرأ عليه ممنوع لبقاء إدراك روحه فهو بالنسبة لسماع القرآن وحصول بركته له كالحي ، إذا صح السلام عليه فالقراءة أولى .
نعم يؤيد الأول ما في خبر غريب { ما من مريض يقرأ عنده يس إلا مات ريانا وأدخل قبره ريانا } ا هـ رحمه الله ( قوله : أفضل من غيرها ) أي في الحياة وبعد الموت أيضا : أي فتكريرها أفضل من قراءة غيرها المساوي لما كرره ، ومثله تكرير ما حفظه منها ولو لم يحسنها بتمامها ؛ لأن كل جزء منها بخصوصه مطلوب في ضمن طلب كلها ، ويحتمل أنه يقرأ ما يحفظه من غيرها مما هو مشتمل على مثل ما فيها ولعله الأقرب ( قوله : إذ المطلوب الآن إلخ ) يؤخذ منه أن من لا علقة له بالاشتغال بتجهيزه تطلب القراءة منه وإن بعد عن الميت
[ فائدة ] قال حج : وقد صرحوا بأنه يندب للزائر والمشيع قراءة شيء من القرآن ا هـ .
وينبغي حمل ذلك على قراءته سرا ليوافق ما يأتي الشارح في المسائل المنثورة بعد قول المصنف : ويكره اللفظ من قوله ويسن الاشتغال بالقراءة والذكر سرا ا هـ ( قوله : تذكيره ) يؤخذ منه أنه يستحب قراءتها عنده جهرا ( قوله : ويقرأ عنده الرعد ) أي بتمامها إن اتفق له ذلك وإلا فما تيسر له منها ( قوله لقول جابر ) يؤخذ منه أنه يستحب قراءتها سرا ولو أمره المحتضر بالقراءة جهرا ؛ لأن فيه زيادة إيلام له ، وبقي ما لو تعارض عليه قراءتهما فهل يقدم يس لصحة حديثها أم الرعد ؟ فيه نظر ، وينبغي أن يقال بمراعاة حال المحتضر فإن كان عنده شعور وتذكر بأحوال البعث قرأ سورة يس وإلا قرأ سورة الرع.
( قوله أنه يأتي بماء زلال ) قال في المصباح : الماء الزلال العذب ا هـ ( قوله : حتى أسقيك ) أي فإن قال ذلك مات على غير الإيمان إن كان عقله حاضرا ، وإنما قلنا ذلك لجواز أن يكون عقله حاضرا وإن كنا لا نشاهد ذلك .
قوله : في حقيقته ومجازه ) أي بالنسبة للفظ الميت ، فإذا استعملناه في حقيقته تكون على بمعنى عند على أن الشهاب حج أبقاها على حقيقتها حينئذ لبقاء إدراك الميت كما وردت به الأحاديث ( قوله : فحيث قيل ) أي كما قال ابن الرفعة قوله : كانت يس أفضل ) لا دخل له في الجمع كما هو ظاهر ( قوله : وكان معنى لا يقرأ على الميت ) أي الذي هو كلام غير ابن الرفعة ، لكن هذا إنما يأتي مع قطع النظر عن قوله ؛ لأن الميت لا يقرأ عليه
Hasyiah jamal :
( قوله وأن يقرأ عنده يس ) أي بتمامها روى الحارث بن أسامة { أن النبي صلى الله عليه وسلم قال من قرأها وهو خائف أمن أو جائع شبع أو عطشان سقي أو عار كسي أو مريض شفي } .ا هـ
دميري وصح في حديث غريب { ما من مريض يقرأ عليه يس إلا مات ريانا وأدخل قبره ريانا } ا هـ .حج .ا هـ .ع ش على م ر
( قوله أيضا وأن يقرأ عنده يس ) وهي أفضل من غيرها في هذه الحالة وبعد الموت أيضا فتكريرها أفضل من قراءة غيرها المساوي لما كرره ومثله تكرير ما حفظه منها لو لم يحسنها بتمامها لأن كل جزء منها بخصوصه مطلوب في ضمن طلب كلها ويحتمل أنه يقرأ ما يحفظه من غيرها مما هو مشتمل على مثل ما فيها ولعله الأقرب ا هـ ع ش على م ر
( قوله لأن الميت لا يقرأ عليه ) أي لأن على تشعر بإصغائه وسماعه والميت لا يسمع فلو كان المراد بالميت في الخبر حقيقته لقال عنده هذا مراده وفيه أن الميت يسمع كالحي فيحسن أن يقال عليه فالأولى إبقاؤه على ظاهره من غير تأويل .ا هـ .شيخنا .
( قوله أيضا لأن الميت لا يقرأ عليه ) أي خلافا لابن الرفعة حيث منع التأويل وأبقى الحديث على ظاهره ومنع ذلك بأن الميت في سماع القرآن كالحي لأنه إذا صح السلام عليه فالقرآن أولى ا هـ .
ح ل وكلامه ظاهر قال م ر وكان معنى لا يقرأ على الميت أي قبل دفنه لاشتغال أهله بتجهيزه الذي هو أهم ا هـ .
ويؤخذ من العلة أنهم لو لم يشتغلوا بتجهيزه كأن كان الوقت ليلا سنت القراءة عليه ا هـ .ع ش وقرره شيخنا ح ف .
وعبارة شرح م ر ولك أن تقول لا مانع من إعمال اللفظ في حقيقته ومجازه فحيث قيل بطلب القراءة على الميت كانت يس أفضل من غيرها أخذا بظاهر هذا الخبر وكان معنى لا يقرأ على الميت أي قبل دفنه إذ المطلوب الآن الاشتغال بتجهيزه أما بعد دفنه فيأتي في الوصية أن القراءة تنفعه في بعض الصور فلا مانع من ندبها حينئذ كالصدقة وغيرها ويقرأ عنده الرعد لقول جابر إنها تهون طلوع الروح ونقل الإسنوي عن الجيلي أنه يستحب تجريعه الماء فإن العطش يغلب من شدة النزع فيخاف منه إزلال الشيطان إذ ورد أنه يأتي بماء زلال أي عذب ويقول قل لا إله غيري حتى أسقيك وأقره الأذرعي وقال إنه غريب حكما وتعليلا ا هـ .
ومحله عند عدم ظهور أمارة احتياج المحتضر إليه أما عند ظهورها فهو واجب كما هو واضح انتهت وقوله ويقرأ عنده الرعد أي بتمامها إن اتفق له ذلك وإلا فما تيسر له منها وقوله لقول جابر إلخ يؤخذ منه أنه يستحب قراءتها سرا ولو أمره المحتضر بالقراءة جهرا لأن فيه زيادة إيلام له وبقي ما لو تعارض عليه قراءتهما فهل تقدم يس لصحة حديثها أم الرعد فيه نظر وينبغي أن يقال بمراعاة حال المحتضر فإن كان عنده شعور وتذكر لمجرد البعث قرأ سورة يس وإلا قرأ سورة الرعد .ا هـ .
ع ش عليه ( تنبيه ) قد دلت الأحاديث على أن جبريل عليه السلام يحضر موت كل مؤمن ما لم يكن جنبا ا هـ .
برماوي ( قوله أيضا لأن الميت لا يقرأ عليه ) كان معناه أن القراءة على الشخص تقتضي كونه
Bujairimi ala manhaj :
( و ) أن ( يقرأ عنده ) سورة ( يس ) لخبر { : اقرءوا على موتاكم يس } رواه أبو داود وغيره وصححه ابن حبان وغيره ، وقال المراد به من حضره الموت لأن الميت لا يقرأ عليه ، والحكمة في قراءتها أن أحوال القيامة والبعث مذكورة فيها فإذا قرئت عنده تجدد له ذكر تلك الأحوال ( و ) أن ( يحسن ظنه بربه ) لخبر مسلم عن جابر قال : سمعت النبي صلى الله عليه وسلم { يقول قبل موته بثلاث لا يموتن أحدكم إلا وهو يحسن الظن بالله تعالى } أي يظن أن يرحمه ويعفو عنه ولخبر الشيخين { قال الله أنا عند ظن عبدي بي } ويسن لمن عنده تحسين ظنه وتطميعه في رحمة الله تعالى
الشرح
( قوله : لأن الميت لا يقرأ عليه ) أي : لأن على تشعر بإصغائه وسماعه والميت لا يسمع فلو كان المراد بالميت في الخبر حقيقته لقال : عنده بدل قوله عليه هذا مراده ، وفيه أن الميت يسمع كالحي فيحسن أن يقرأ عليه فالأولى إبقاؤه على ظاهره من غير تأويل ا هـ شيخنا وعبارة ح ل ؛ لأن الميت لا يقرأ عليه خلافا .
لابن الرفعة حيث منع التأويل وأبقى الحديث على ظاهره ومنع ذلك بأن الميت في سماع القرآن كالحي لأنه إذا صح السلام عليه فالقرآن أولى ا هـ وكلامه ظاهر ، قال م ر : وكأن معنى لا يقرأ على الميت أي : قبل دفنه لاشتغال أهله بتجهيزه الذي هو أهم ويؤخذ من العلة أنهم لو لم يشتغلوا بتجهيزه كأن كان الوقت ليلا سنت القراءة عليه .اهـ .ع ش وقرره العلامة ح ف
( قوله : تجدد له ذكر تلك الأحوال ) أي : فيعمل بمقتضى ذلك وهذا لا يأتي في الميت ويؤخذ منه أنه يسن قراءتها عنده جهرا بخلاف الرعد فتقرأ سرا وإن طلب الميت الجهر بها كما في ع ش على م ر .
Raudhah :
فرع الاستئجار لقراءة القرآن على رأس القبر
عن القاضي حسين في الفتاوى أن الاستئجار لقراءة القرآن على رأس القبر مدة جائز كالاستئجار للأذان وتعليم القرآن.
واعلم أن عود المنفعة إلى المستأجر شرط فيجب عودها في هذه الإجارة إلى المستأجر أو ميته فالمستأجر لا ينتفع بقراءة غيره ومعلوم أن الميت لا يلحقه ثواب القراءة المجردة فالوجه تنزيل الاستئجار على صورة انتفاع الميت بالقراءة وذكروا له طريقين.
أحدهما أن يعقب القراءة بالدعاء للميت لأن الدعاء يلحقه والدعاء بعد القراءة أقرب إجابة وأكثر بركة.
والثاني ذكر الشيخ عبد الكريم السالوسي أنه إن نوى القارئ بقراءته أن يكون ثوابها للميت لم يلحقه وإن قرأ ثم جعل ما حصل من الأجر له فهذا دعاء بحصول ذلك الأجر للميت فينفع الميت. قلت ظاهر كلام القاضي حسين صحة الإجارة مطلقاً وهو المختار فإن موضع القراءة موضع بركة وبه تنزل الرحمة وهذا مقصود ينفع الميت والله أعلم.
.....
فرع عادة قراءة القرآن على القبر
الذي يعتاد من قراءة القرآن على القبر قد ذكرنا في كتاب طريقين لعود فائدتها إلى الميت وعن القاضي أبي الطيب طريق ثالث وهو أن الميت كالحي الحاضر فترجى له الرحمة ووصول البركة إذا وصل الثواب إلى القارى
HUKUM POLIGAMI TANPA IZIN ISTRINYA
PERTANYAAN :
Asslm...tanya : "jika seorang laki-laki menikah lagi tanpa izin dari istri yang pertama, itu bgmana hkumnya?dan setelah itu istri prtma mnta pisah karenaa alasan tidak mau di madu, apkh itu slah?Dan bgmana shrusnya? Mhon jwbannya...syukron
JAWABAN :
Wa'alaikumussalam.
Syarat seorang suami boleh menjalani poligami adalah harus adil dan mampu memberikah nafkah hidup, diluar ketentuan itu tidak terdapati persyaratan lain (termasuk harus minta izin pada istri) namun orang berakal adalah mereka yang mampu menguasai hal sebelum tertimpa masalah, karenanya BERFIKIRLAH sebelum bertindak...!!
Referensi Rujukan Hukum
Al-Fiqh al-Islaam IX/160
قيود إباحة التعدد :اشترطت الشريعة لإباحة التعدد شرطين جوهريين هما:1 - توفير العدل بين الزوجات: أي العدل الذي يستطيعه الإنسان، ويقدر عليه، وهو التسوية بين الزوجات في النواحي المادية من نفقة وحسن معاشرة ومبيت، لقوله تعالى: {فإن خفتم ألا تعدلوا فواحدة، أو ما ملكت أيمانكم، ذلك أدنى ألا تعولوا} [النساء:3/4] فإنه تعالى أمر بالاقتصار على واحدة إذا خاف الإنسان الجور ومجافاة العدل بين الزوجات.وليس المراد بالعدل ـ كما بان في أحكام الزواج الصحيح ـ هو التسوية في العاطفة والمحبة والميل القلبي، فهوغير مراد؛ لأنه غير مستطاع ولا مقدور لأحد، والشرع إنما يكلف بما هو مقدور للإنسان، فلا تكليف بالأمور الجبلِّية الفطرية التي لا تخضع للإرادة مثل الحب والبغض.ولكن خشية سيطرة الحب على القلب أمر متوقع ،لذا حذر منه الشرع في الآية الكريمة: {ولن تستطيعوا أن تعدلوا بين النساء، ولو حرصتم، فلا تميلوا كل الميل، فتذروها كالمعلقة} [النساء:129/4] وهو كله لتأكيد شرط العدل، وعدم الوقوع في جور النساء، بترك الواحدة كالمعلقة، فلا هي زوجة تتمتع بحقوق الزوجية، ولا هي مطلقة. والعاقل: من قدَّر الأمور قبل وقوعها، وحسب للاحتمالات والظروف حسابها، والآية تنبيه على خطر البواعث والعواطف الداخلية، وليست كما زعم بعضهم لتقرير أن العدل غير مستطاع، فلا يجوز التعدد، لاستحالة تحقق شرط إباحته.2 - القدرة على الإنفاق: لا يحل شرعاً الإقدام على الزواج، سواء من واحدة أو من أكثر إلا بتوافر القدرة على مؤن الزواج وتكاليفه، والاستمرار في أداء النفقة الواجبة للزوجة على الزوج، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «يا معشر الشباب، من استطاع منكم الباءة فليتزوج...» والباءة: مؤنة النكاح.
KETENTUAN YANG MEMBOLEHKAN SUAMI BERPOLIGAMI.
Syariat memperkenan suami berpoligami bila memenuhi dua ketentuan :
1. Bisa memberikan rasa ADIL diantara istri-istrinya.
Dalam artian kemampuan berbuat adil dalam hal-hal yang bersifat kebendaan seperti memberi nafkah, dapat bergaul dengan mereka secara baik serta menggiliri mereka dengan sama rata, Allah Ta’ala berfirman :
“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. 4:3)
Dalam ayat ini diterangkan, Allah memerintahkan untuk mencukupi satu istri saja bila seseorang khawatir tidak mampu berbuat adil diantara para istrinya.
Dan bukan yang dimaksud adil disini adalah sama dalam hal membagi perasan, kasih sayang, cinta dan kecenderungan hati, bukan...!! Karena yang demikian tentunya tidak akan mampu dilakukan oleh seorangpun sedang syariat tidak akan menerapkan hukum diluar batas yang dimampui oleh seseorang maka ia tidak dituntut untuk menjalani hal-hal yang diluar fitrah kemampuan untuk tunduk pada keinginan seperti cinta dan benci hanya saja kekhawatiran terbelenggu oleh cinta (pada seorang diantara istri-istri lainnya) dapat menjadi kenyataan sehingga menjadikan istri bagai tergantung, tiada terpenuhi hak-haknya dan ia juga tiada tertalak dari cengkeraman kuasa suami.
Allah berfirman “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (QS. 4:129)
Ayat ini sebagai penegasan tentang ketentuan legalnya berpoligami agar karenanya tidak menjadikan mendzalimi kaum wanita sehingga membuat nasibnya terkatung-katung dan orang berakal adalah mereka yang mampu menguasai hal sebelum tertimpa masalah karenanya.
2. Mampu memberikan NAFKAH pada istri-istrinya.
Syariat tidak menghalalkan seseorang memasuki ranah pernikahan baik menikah hanya seorang istri atau lebih kecuali ia berkemampuan memenuhi biaya dan tuntutan-tuntutan dalam sebuah rumah tangga, mampu memenuhi hak-hak yang semestinya didapatkan seorang istri atas suaminya berdasarkan sabda nabi :“Wahai kawula muda, barangsiapa yang mampu dari kalian atas biaya maka menikahlah” yang dimaksud biaya adalah biaya yang dibutuhkan dalam pernikahan dan rumah tangga.
Asslm...tanya : "jika seorang laki-laki menikah lagi tanpa izin dari istri yang pertama, itu bgmana hkumnya?dan setelah itu istri prtma mnta pisah karenaa alasan tidak mau di madu, apkh itu slah?Dan bgmana shrusnya? Mhon jwbannya...syukron
JAWABAN :
Wa'alaikumussalam.
Syarat seorang suami boleh menjalani poligami adalah harus adil dan mampu memberikah nafkah hidup, diluar ketentuan itu tidak terdapati persyaratan lain (termasuk harus minta izin pada istri) namun orang berakal adalah mereka yang mampu menguasai hal sebelum tertimpa masalah, karenanya BERFIKIRLAH sebelum bertindak...!!
Referensi Rujukan Hukum
Al-Fiqh al-Islaam IX/160
قيود إباحة التعدد :اشترطت الشريعة لإباحة التعدد شرطين جوهريين هما:1 - توفير العدل بين الزوجات: أي العدل الذي يستطيعه الإنسان، ويقدر عليه، وهو التسوية بين الزوجات في النواحي المادية من نفقة وحسن معاشرة ومبيت، لقوله تعالى: {فإن خفتم ألا تعدلوا فواحدة، أو ما ملكت أيمانكم، ذلك أدنى ألا تعولوا} [النساء:3/4] فإنه تعالى أمر بالاقتصار على واحدة إذا خاف الإنسان الجور ومجافاة العدل بين الزوجات.وليس المراد بالعدل ـ كما بان في أحكام الزواج الصحيح ـ هو التسوية في العاطفة والمحبة والميل القلبي، فهوغير مراد؛ لأنه غير مستطاع ولا مقدور لأحد، والشرع إنما يكلف بما هو مقدور للإنسان، فلا تكليف بالأمور الجبلِّية الفطرية التي لا تخضع للإرادة مثل الحب والبغض.ولكن خشية سيطرة الحب على القلب أمر متوقع ،لذا حذر منه الشرع في الآية الكريمة: {ولن تستطيعوا أن تعدلوا بين النساء، ولو حرصتم، فلا تميلوا كل الميل، فتذروها كالمعلقة} [النساء:129/4] وهو كله لتأكيد شرط العدل، وعدم الوقوع في جور النساء، بترك الواحدة كالمعلقة، فلا هي زوجة تتمتع بحقوق الزوجية، ولا هي مطلقة. والعاقل: من قدَّر الأمور قبل وقوعها، وحسب للاحتمالات والظروف حسابها، والآية تنبيه على خطر البواعث والعواطف الداخلية، وليست كما زعم بعضهم لتقرير أن العدل غير مستطاع، فلا يجوز التعدد، لاستحالة تحقق شرط إباحته.2 - القدرة على الإنفاق: لا يحل شرعاً الإقدام على الزواج، سواء من واحدة أو من أكثر إلا بتوافر القدرة على مؤن الزواج وتكاليفه، والاستمرار في أداء النفقة الواجبة للزوجة على الزوج، لقوله صلّى الله عليه وسلم : «يا معشر الشباب، من استطاع منكم الباءة فليتزوج...» والباءة: مؤنة النكاح.
KETENTUAN YANG MEMBOLEHKAN SUAMI BERPOLIGAMI.
Syariat memperkenan suami berpoligami bila memenuhi dua ketentuan :
1. Bisa memberikan rasa ADIL diantara istri-istrinya.
Dalam artian kemampuan berbuat adil dalam hal-hal yang bersifat kebendaan seperti memberi nafkah, dapat bergaul dengan mereka secara baik serta menggiliri mereka dengan sama rata, Allah Ta’ala berfirman :
“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” (QS. 4:3)
Dalam ayat ini diterangkan, Allah memerintahkan untuk mencukupi satu istri saja bila seseorang khawatir tidak mampu berbuat adil diantara para istrinya.
Dan bukan yang dimaksud adil disini adalah sama dalam hal membagi perasan, kasih sayang, cinta dan kecenderungan hati, bukan...!! Karena yang demikian tentunya tidak akan mampu dilakukan oleh seorangpun sedang syariat tidak akan menerapkan hukum diluar batas yang dimampui oleh seseorang maka ia tidak dituntut untuk menjalani hal-hal yang diluar fitrah kemampuan untuk tunduk pada keinginan seperti cinta dan benci hanya saja kekhawatiran terbelenggu oleh cinta (pada seorang diantara istri-istri lainnya) dapat menjadi kenyataan sehingga menjadikan istri bagai tergantung, tiada terpenuhi hak-haknya dan ia juga tiada tertalak dari cengkeraman kuasa suami.
Allah berfirman “Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara istri- istri (mu), walaupun kamu sangat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (kepada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung.” (QS. 4:129)
Ayat ini sebagai penegasan tentang ketentuan legalnya berpoligami agar karenanya tidak menjadikan mendzalimi kaum wanita sehingga membuat nasibnya terkatung-katung dan orang berakal adalah mereka yang mampu menguasai hal sebelum tertimpa masalah karenanya.
2. Mampu memberikan NAFKAH pada istri-istrinya.
Syariat tidak menghalalkan seseorang memasuki ranah pernikahan baik menikah hanya seorang istri atau lebih kecuali ia berkemampuan memenuhi biaya dan tuntutan-tuntutan dalam sebuah rumah tangga, mampu memenuhi hak-hak yang semestinya didapatkan seorang istri atas suaminya berdasarkan sabda nabi :“Wahai kawula muda, barangsiapa yang mampu dari kalian atas biaya maka menikahlah” yang dimaksud biaya adalah biaya yang dibutuhkan dalam pernikahan dan rumah tangga.
HUKUM POLIGAMI
PERTANYAAN :
Assalamu 'Alaikum, Pak Ustadz.
Tentang Poligami, itu sekedar dianjurkan apa sampai pada hukum sunnah ya?
JAWABAN :
Wa alaikumus-salaam warohmatulloh, pada dasarnya hukum poligamy adalah mubah sebagaimana firman Allah dalam surat An nisa' ayat 3 : " Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. "
Meskipun pada dasanya mubah, poligamy hukumnya juga bisa berubah menjadi sunnah atau makruh bahkan bisa juga haram , hal ini berdasarkan keadaan seseorang yang akan melakukan poligamy.
Jika seorang lelaki membutuhkan istri yang lain misalnya sebab sang istri sakit sakitan, atau istrinya mandul padahal lelaki itu ingin punya anak serta dia merasa mampu untuk berbuat adil kepada istri istrinya maka poligamy hukumnya sunnah baginya,
Sedangkan jika tujuan poligaminya bukan karena butuh tapi sekedar meraih kenikmatan dan bersenang senang serta masih diragukan tentang adil dan tidaknya terhadap para istri maka hukum poligamy baginya adalah makruh Bahkan Bisa Harom
Wallohu a'lam bis showab.
الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (4/ 35)
1ـ حكم تعد الزوجات:تعدد الزوجات مباح في أصله، قال تعالى: {وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع} [النساء: 3].
ومعنى الآية: إن خفتم إذا نكحتم اليتيمات أن لا تعدلوا في معاملتهن، فقد أبيح لكم أن تنكحوا غيرهن، مثنى وثلاث ورباع.
ولكن قد يطرأ على التعدد ما يجعله مندوبا، أو مكروها، أو محرما، وذلك تبعا لاعتبارات وأحوال تتعلق بالشخص الذي يريد تعدد الزوجات:
أـ فإذا كان الرجل بحاجة لزوجة أخرى: كأن كان لا تعفه زوجة واحدة، أو كانت زوجته الأولى مريضة، أو عقيما، وهو يرغب بالولد، وغلب على ظنه أن يقدر على العدل بينهما، كان هذا التعدد مندوبا، لأن فيه مصلحة مشروعة، وقد تزوج كثير من الصحابة رضي الله عنهم بأكثر من زوجة واحدة.
ب ـ إذا كان التعدد لغير حاجة، وإنما لزيادة التنعم والترفيه، وشك في قدرته على إقامة العدل بين زوجاته، فإن هذا التعدد يكون مكروها، لأنه لغير حاجة، ولأنه ربما لحق بسببه ضرر في الزوجات من عدم قدرته على العدل بينهن.
Refrensi pengambilan Hukum
Kitab Al fiqh Al Manhaji juz 4 Halaman 35
الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (4/ 35)
1ـ حكم تعد الزوجات:تعدد الزوجات مباح في أصله، قال تعالى: {وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع} [النساء: 3].
ومعنى الآية: إن خفتم إذا نكحتم اليتيمات أن لا تعدلوا في معاملتهن، فقد أبيح لكم أن تنكحوا غيرهن، مثنى وثلاث ورباع.
ولكن قد يطرأ على التعدد ما يجعله مندوبا، أو مكروها، أو محرما، وذلك تبعا لاعتبارات وأحوال تتعلق بالشخص الذي يريد تعدد الزوجات:
أـ فإذا كان الرجل بحاجة لزوجة أخرى: كأن كان لا تعفه زوجة واحدة، أو كانت زوجته الأولى مريضة، أو عقيما، وهو يرغب بالولد، وغلب على ظنه أن يقدر على العدل بينهما، كان هذا التعدد مندوبا، لأن فيه مصلحة مشروعة، وقد تزوج كثير من الصحابة رضي الله عنهم بأكثر من زوجة واحدة.
ب ـ إذا كان التعدد لغير حاجة، وإنما لزيادة التنعم والترفيه، وشك في قدرته على إقامة العدل بين زوجاته، فإن هذا التعدد يكون مكروها، لأنه لغير حاجة، ولأنه ربما لحق بسببه ضرر في الزوجات من عدم قدرته على العدل بينهن.
Assalamu 'Alaikum, Pak Ustadz.
Tentang Poligami, itu sekedar dianjurkan apa sampai pada hukum sunnah ya?
JAWABAN :
Wa alaikumus-salaam warohmatulloh, pada dasarnya hukum poligamy adalah mubah sebagaimana firman Allah dalam surat An nisa' ayat 3 : " Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya. "
Meskipun pada dasanya mubah, poligamy hukumnya juga bisa berubah menjadi sunnah atau makruh bahkan bisa juga haram , hal ini berdasarkan keadaan seseorang yang akan melakukan poligamy.
Jika seorang lelaki membutuhkan istri yang lain misalnya sebab sang istri sakit sakitan, atau istrinya mandul padahal lelaki itu ingin punya anak serta dia merasa mampu untuk berbuat adil kepada istri istrinya maka poligamy hukumnya sunnah baginya,
Sedangkan jika tujuan poligaminya bukan karena butuh tapi sekedar meraih kenikmatan dan bersenang senang serta masih diragukan tentang adil dan tidaknya terhadap para istri maka hukum poligamy baginya adalah makruh Bahkan Bisa Harom
Wallohu a'lam bis showab.
الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (4/ 35)
1ـ حكم تعد الزوجات:تعدد الزوجات مباح في أصله، قال تعالى: {وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع} [النساء: 3].
ومعنى الآية: إن خفتم إذا نكحتم اليتيمات أن لا تعدلوا في معاملتهن، فقد أبيح لكم أن تنكحوا غيرهن، مثنى وثلاث ورباع.
ولكن قد يطرأ على التعدد ما يجعله مندوبا، أو مكروها، أو محرما، وذلك تبعا لاعتبارات وأحوال تتعلق بالشخص الذي يريد تعدد الزوجات:
أـ فإذا كان الرجل بحاجة لزوجة أخرى: كأن كان لا تعفه زوجة واحدة، أو كانت زوجته الأولى مريضة، أو عقيما، وهو يرغب بالولد، وغلب على ظنه أن يقدر على العدل بينهما، كان هذا التعدد مندوبا، لأن فيه مصلحة مشروعة، وقد تزوج كثير من الصحابة رضي الله عنهم بأكثر من زوجة واحدة.
ب ـ إذا كان التعدد لغير حاجة، وإنما لزيادة التنعم والترفيه، وشك في قدرته على إقامة العدل بين زوجاته، فإن هذا التعدد يكون مكروها، لأنه لغير حاجة، ولأنه ربما لحق بسببه ضرر في الزوجات من عدم قدرته على العدل بينهن.
Refrensi pengambilan Hukum
Kitab Al fiqh Al Manhaji juz 4 Halaman 35
الفقه المنهجي على مذهب الإمام الشافعي (4/ 35)
1ـ حكم تعد الزوجات:تعدد الزوجات مباح في أصله، قال تعالى: {وإن خفتم ألا تقسطوا في اليتامى فانكحوا ما طاب لكم من النساء مثنى وثلاث ورباع} [النساء: 3].
ومعنى الآية: إن خفتم إذا نكحتم اليتيمات أن لا تعدلوا في معاملتهن، فقد أبيح لكم أن تنكحوا غيرهن، مثنى وثلاث ورباع.
ولكن قد يطرأ على التعدد ما يجعله مندوبا، أو مكروها، أو محرما، وذلك تبعا لاعتبارات وأحوال تتعلق بالشخص الذي يريد تعدد الزوجات:
أـ فإذا كان الرجل بحاجة لزوجة أخرى: كأن كان لا تعفه زوجة واحدة، أو كانت زوجته الأولى مريضة، أو عقيما، وهو يرغب بالولد، وغلب على ظنه أن يقدر على العدل بينهما، كان هذا التعدد مندوبا، لأن فيه مصلحة مشروعة، وقد تزوج كثير من الصحابة رضي الله عنهم بأكثر من زوجة واحدة.
ب ـ إذا كان التعدد لغير حاجة، وإنما لزيادة التنعم والترفيه، وشك في قدرته على إقامة العدل بين زوجاته، فإن هذا التعدد يكون مكروها، لأنه لغير حاجة، ولأنه ربما لحق بسببه ضرر في الزوجات من عدم قدرته على العدل بينهن.
HUKUM ARISAN UANG DLL
PERTANYAAN :
Ustadz, Mellass Atenah
assalamualaikum.. Asli tanya bagaimana hukumnya arisan yang sudah terjdi di msrkt?
JAWABAN :
Wa'alaikumussalam.
Hukum ARISAN Boleh
Referensi Rujukan Hukum
AlQolyuuby II/258
(فَرْعٌ) الْجُمُعَةُ الْمَشْهُوْرَةُ بَيْنَ النِّسَاءِ بِاَنْ تَأْخُذَ اِمْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فىِ كُلِّ جُمُعَةٍ اَوْ شَهْرٍ وَتَدْفَعُهُ لِوَاحِدَةٍ بَعْدَ وَاحِدَةٍ اِلىَ آَخِرِهِنَّ جَائِزَةٌ كَمَا قَالَهُ الْوَلِيُّ الْعِرَاقِيُّ . القليوب ص 258 الجزء 2
(Cabang) Hari Jum'at yang termasyhur di antara para wanita, yaitu apabila seseorang wanita mengambil dari setiap wanita dari jama'ah para wanita sejumlah uang tertentu pada setiap hari Jum'at atau setiap bulan dan menyerahkan keseluruhannya kepada salah seorang, sesudah yang lain, sampai orang terakhir dari jamaah tersebut adalah boleh sebagaimana pendapat Al-Wali al-'Iraqi.
Ustadz, Mellass Atenah
assalamualaikum.. Asli tanya bagaimana hukumnya arisan yang sudah terjdi di msrkt?
JAWABAN :
Wa'alaikumussalam.
Hukum ARISAN Boleh
Referensi Rujukan Hukum
AlQolyuuby II/258
(فَرْعٌ) الْجُمُعَةُ الْمَشْهُوْرَةُ بَيْنَ النِّسَاءِ بِاَنْ تَأْخُذَ اِمْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فىِ كُلِّ جُمُعَةٍ اَوْ شَهْرٍ وَتَدْفَعُهُ لِوَاحِدَةٍ بَعْدَ وَاحِدَةٍ اِلىَ آَخِرِهِنَّ جَائِزَةٌ كَمَا قَالَهُ الْوَلِيُّ الْعِرَاقِيُّ . القليوب ص 258 الجزء 2
(Cabang) Hari Jum'at yang termasyhur di antara para wanita, yaitu apabila seseorang wanita mengambil dari setiap wanita dari jama'ah para wanita sejumlah uang tertentu pada setiap hari Jum'at atau setiap bulan dan menyerahkan keseluruhannya kepada salah seorang, sesudah yang lain, sampai orang terakhir dari jamaah tersebut adalah boleh sebagaimana pendapat Al-Wali al-'Iraqi.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Pertanyaan Mohon beri tahu kami tanda tanda nya sholat di terima . Terimakasih Jawab Di Dalam kitab Majma' zawaid Imam al Haitsami...
-
Ayoo mengaji: ♢ السلام عليكم ورحمة الله وبركاته 💠 HUKUM PERINGATAN TAHUN BARU MASEHI 💠 🖍 Bagaimana hukum orang Islam ikut merayakan ...
-
Assalamualaikum Buat ustad H.Sholeh Abd Aziz . ana mau nanya bagaimana pandangan hukum islam tentang mencari nafkah hidup dari memelihar...