BATASAN-BATASAN LELAKI DAN WANITA

Mengaji kitab 'Uquudu Lujjain (الفَصْلُ الأَوَّلُ: فِيْ) بيان (حُقُوْقِ الزَوْجَةِ) الواجبة (عَلَى الزَوْج) وهي حُسْن العِشْرة، ومؤْنة...

Jumat, 31 Agustus 2018

HUKUM MEMASANG KIJING PADA KUBURAN

Assalaamu'alaykum, pak ustadz. Apa benar bahwa kuburan tidak boleh disemen, terus untuk tanda identitas kuburan itu menggunakan apa ya ?
Mohon penjelasannya.

JAWABAN :
Wa'alaikumsalam.
Sunnahnya, kuburan itu dikasih tanda bisa berupa batu, kayu atau selain keduanya agar bisa dikenali jadi bisa diziarahi.
Sebagai mana perlakuan nabi terhadap kuburan sahabat ustman bin madz'un
Tanda tersebut diletakkan di bagian kepala dan kaki sebagaiman keterangan dalam kitab al hawi
Adapun dikasih tulisan nama si mayyit ataupun selainnya maka hukumnya makruh menurut Ulamak syafi'iyah tanpa adanya khilaf,
sedangkan menurut imam Hanafi hukum menberi nama mayyit tidak makruh.
Mengenai kijing kuburan
Hukum nya makruh mengijing kuburan itu kalau tidak ada hajad dan, kalau ada hajat seperti takut cepet ambruk karena kelembaban tanah maka tidak makruh
kemakruhan tersebut bukan murni karena penyempitan, tetapi karena ada dalil hadis yang melarang nya, yakni :
ما رواه مسلم، قال: نهى رسول الله (ص) أن يجصص القبر وأن يبنى عليه.زاد وأن يقعد عليه الترمذي: وأن يكتب عليه، وأن يوطأ عليه.وقال: حديث حسن صحيح
Dalam kitab Nihayatuz Zain dijelaskan bahwa menyemen (menembok/membangun) kuburan dan menulis Nama fulan bin fulan di atas kuburan ( batu nisan ) hukumnya sama-sama makruh, Tidak Harom
namun Menulis Nama fulan bin fulan adakala hukumnya Tidak makruh BILA tujuannya untuk memberi tahu ( mempermudah ) kepada para peziarah bahwa yang dikubur di kuburan tersebut si fulan bin fulan tapi dengan syarat sesimpel mungkin ( jangan berlebihan ), cukup tulisan " Nama Fulan Bin Fulan " saja.
Sekian
Dasar pengambilan Hukum ada dalam kiab-kitab ini
- kitab al majmu' Syarah Muhadzdzab (5/266) :
ويستحب أن يجعل عند رأسه علامة من حجر أو غيره ، لأن { النبي صلى الله عليه وسلم دفن عثمان بن مظعون ووضع عند رأسه حجرا } ولأنه يعرف به فيزار
( الخامسة )
السنة أن يجعل عند رأسه علامة شاخصة من حجر أو خشبة أو غيرهما هكذا قاله الشافعي والمصنف وسائر الأصحاب إلا صاحب الحاوي فقال يستحب علامتان ( إحداهما ) عند رأسه ( والأخرى ) عند رجليه قال : لأن { النبي صلى الله عليه وسلم جعل حجرين كذلك على قبر عثمان بن مظعون } كذا قال ، والمعروف في روايات حديث عثمان حجر واحد والله أعلم .
( السادسة )
قال الشافعي والأصحاب : يكره أن يجصص القبر ، وأن يكتب عليه اسم صاحبه أو غير ذلك ، وأن يبنى عليه ، وهذا لا خلاف فيه عندنا ، وبه قال مالك وأحمد وداود وجماهير العلماء ، وقال أبو حنيفة : لا يكره
- kitab Nihayatuz Zain :
وكره بناء له اى القبر او عليه او تجصيصه او تبييضه بالنورة ولا بأس بتطيينه وتكره الكتابة عليه سواء كتب اسم صاحبه او غيره ، نعم ان كتب صاحبه ونسبه بقصد ان يعرف فيزار فلا كراهة بشرط الاقتصار على قدر الحاجة نهاية الزين ص ١٥٥

HUKUM JUAL BELI CASH & KREDIT


As-salamu ‘alaikum. Ustadz Tolong jelaskan tentang akad jual beli dengan dua akad yang tidak boleh/tidak sah. Tentang praktek nya bagaimana pak ust?
Semacam jual beli kes dan kredit terimakasih.

JAWAB :
Wa’alaikum salam. Menurut Imam al-Khothoby, penjelasan jual beli dengan dua harga yang dilarang ada dua :
Pertama,
misalnya penjual berkata : "Aku jual kepadamu baju ini dengan harga 10 Kes ATAU 15 nyicil".
Jual beli seperti itu tidak boleh alasannya karena tidak diketahui harga mana dari keduanya yang di pilih penbeli
sehingga akad bisa terjadi,
jika harganya tidak diketahui maka batal jual belinya.
Begitu juga dengan penjelasan imam syafi'i-semoga Allah merahmatinya- beliau berkata :
misalnya engkau berkata : "kujual kepadamu seharga 1.000 kontan ATAU 2.000 kredit sampai setahun, maka pilihlah harga yang kau inginkan atau harga yang ku inginkan".

Namun Imam Ibnu Rif'ah menukil dari al-Qodhli bahwa masalah tidak bolehnya jual beli sepert itu adalah jika pembeli menerima dengan ketidak jelasan, adapun jika pembeli menerima dengan mengucapkan : "saya terima dengan harga 1.000 kontan", atau mengucapkan :
"saya terima dengan harga 2.000 nyicil", maka jual belinya sah.

Kedua,
misalnya penjual berkata : "aku jual motor ku ini kepadamu dengan harga 20 juta dengan syarat kau menjual kepadaku motor kamu dengan harga 10 juta ".
Maka akad ini juga rusak karena digantungkan dengan syarat. Wallahu a’lam.
Kesimpulannya kalo dari dua akad 1. Dengan kes 2. Dengan kredit yang di tawarkan penjual kepada pembeli dan pembeli memilih salah satunya maka jual belinya sah sebagaimana penjelasan imam ibnu rif'ah

Sebagaimana juga yang di sampaikan guru saya al marhum syekh Uzairon Rahatulloh alaih
Keterangan dalam kitab ‘Aunul Ma'bud syarah abu daud juz 9/ halaman 239-239:
قال الخطابي : وتفسير ما نهى عنه من بيعتين في بيعة على وجهين أحدهما : أن يقول بعتك هذا الثوب نقدا بعشرة أو نسيئة بخمسة عشر ، فهذا لا يجوز لأنه لا يدري أيهما الثمن الذي يختاره منهما فيقع به العقد ، وإذا جهل الثمن بطل البيع انتهى .
قلت : وبمثل هذا فسر سماك رواه أحمد ولفظه : قال سماك : هو الرجل يبيع البيع فيقول هو بنساء بكذا وهو بنقد بكذا وكذا ، وكذلك فسره الشافعي رحمه الله فقال : بأن يقول : بعتك بألف نقدا أو بألفين إلى سنة ، فخذ أيهما شئت أنت وشئت أنا .
ونقل ابن الرفعة عن القاضي أن المسألة مفروضة على أنه قبل على الإبهام ، أما لو قال : قبلت بألف نقدا أو بألفين بالنسيئة صح ذلك ، كذا في النيل .
ثم قال الخطابي : والوجه الآخر أن يقول : بعتك هذا العبد بعشرين دينارا على أن تبيعني جاريتك بعشرة دنانير ، فهذا أيضا فاسد ، لأنه جعل ثمن العبد عشرين دينارا وشرط عليه أن يبيعه جاريته بعشرة دنانير ، وذلك لا يلزمه وإذا لم يلزمه ذلك سقط بعض الثمن ، فإذا سقط بعضه صار الباقي مجهولا . قال : وعقد البيعتين في بيعة واحدة على الوجهين الذين ذكرناهما عند أكثر الفقهاء فاسد . وحكي عن طاوس أنه قال : لا بأس أن يقول له بعتك هذا الثوب نقدا بعشرة وإلى شهرين بخمسة عشر فيذهب به إلى إحداهما انتهى كلام الخطابي
Sekian semoga kamu faham

HUKUM BERSALAMAN SETELAH SHOLAT WAJIB

Pak Ustadz saya hamba alloh mau bertanya juga tentang bersalaman habis sholat sambil baca sholawat
Bagaimana hukumnya
Karna terus terang pak ust saya kaget kemaren ada teman saya dia bilang bahwa salaman habis sholat katanya bid'ah
Terus katanya juga akan masuk neraka
Masak pak ust bersalaman saja bisa masuk nerakA
Mohon penjelsannya pak ust dan mohon bimbingan nya
Jazakalloh

JAWAB:
بسم الله الرحمن الرحيم
Bersalaman setelah shalat adalah sesuatu yang dianjurkan dalam Islam karena bisa menambah eratnya persaudaraan sesama umat Islam.
Aktifitas ini sama sekali tidak merusak shalat seseorang karena dilakukan setelah prosesi shalat selesai dengan sempurna.
Ada beberapa hadits yang menerangkan tentang bersalaman diantaranya adalah riwayat Abu Dawud:
عَنِ اْلبَرَّاءِ عَنْ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا
Artinya : Diriwayatkan dari al-Barra’ dari Azib r.a. Rasulallah s.a.w. bersabda, “Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.” (H.R. Abu Dawud)

عَنْ سَيِّدِنَا يَزِيْد بِنْ اَسْوَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اَنَّهُ صَلَّى الصُّبْحَ مَعَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وَسَلّمْ. وَقالَ: ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأخُذوْنَ بِيَدِهِ يَمْسَحُوْنَ بِهَا وُجُوْهَهُمْ, فَأَخَذتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِيْ.(رواه البخارى)
Artinya : Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad bahwa ia shalat subuh bersama Rasulallah, lalu setelah shalat para jamaah berebut untuk menyalami Nabi, lalu mereka mengusapkan ke wajahnya masing-masing, dan begitu juga saya menyalami tangan Nabi lalu saya usapkan ke wajah saya. (H.R. Bukhari, hadits ke 3360).

عَن قلَدَة بن دِعَامَة الدَّوْسِيْ رَضِيَ الله عَنهُ قالَ قلْتُ لاَنَسْ : اَكَانَتِ اْلمُصَافحَة فِى اَصْحَابِ رَسُوْلِ الله, قالَ نَعَمْ.
Artinya dari Qaladah bin Di’amah r.a. berkata : saya berkata kepada Anas bin Malik, apakah mushafahah itu dilakukan oleh para sahabat Rasul ? Anas menjawab : ya (benar)

Hadits-hadits di atas adalah menunjuk pada mushafahah secara umum, yang meliputi baik mushafahah setelah shalat maupun di luar setelah shalat.
Jadi pada intinya mushafahah itu benar-benar disyariatkan baik setelah shalat maupun dalam waktu-waktu yang lainnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadits di atas.

Pendapat para ulama.
1. Imam al-Thahawi. Berkata
تُطْلَبُ اْلمُصَافحَة فَهِيَ سُنَّة عَقِبَ الصَّلاةِ كُلّهَا وَعِندَ كلِّ لَقِيٍّ
Artinya: Bahwa bersalaman setelah shalat adalah sunah dan begitu juga setiap berjumpa dengan sesama Muslim.

2. Imam Muhyidin an-Nawawi
Beliau berkata :
اَنَّ اْلمُصَا فحَة بَعْدَ الصَّلاة وَدُعَاء المُسْلِمِ لآخِيْهِ اْلمُسْلِمِ بِأنْ يَّتقبَلَ الله مِنهُ صَلاتهُ بِقوْلِهِ (تقبَّلَ الله) لاَ يَخفى مَا فِيْهِمَا مِنْ خَيْرٍ كَبِيْرٍ وَزِيَادَةِ تَعَارُفٍ وَتألُفٍ وَسَبَب لِرِبَطِ القلوْبِ وَاِظهَار للْوَحْدَةِ وَالترَابُطِ بَيْنَ اْلمُسْلِمِينْ.
Artinya : Sesungguhnya mushafahah setelah shalat dan mendoakan saudara muslim supaya shalatnya diterima oleh Allah, dengan ungkapan (semoga Allah menerima shalat anda), adalah di dalamnya terdapat kebaikan yang besar dan menambah kedekatan (antar sesama) dan menjadi sabab eratnya hati dan menampakkan kesatuan antar sesama umat Islam.

Ust H Sholeh Abdul Aziz Abdullah zen

HUKUM BERDZIKIR SETELAH SHOLAT WAJIB

Ustadz, saya mau tanya tentang dzikir habis sholat maktubah(sholat berjemaah 5 waktu) ada yang bilang hukumnya BID'AH pelakunya akan masuk neraka dengan alasan semua BID'AH sesat dan semua yang SESAT masuk neraka
Sehingga kita banyak sekali di beberapa masjid habis sholat berjemah tidak berdzikir keras
Sebagaimana yang terjadi di masjid saya sendiri

JAWAB:
بسم الله الرحمن الرحيم
dalil berdzikir dengan suara keras setelah shalat adalah hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim
dari sahabat Abdullah bin Abbas berikut:
أَنَّ رَفْعَ الصَّوْتِ بِالذِّكْرِ حِينَ يَنْصَرِفُ النَّاسُ مِنْ الْمَكْتُوبَةِ كَانَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Sungguh mengeraskan suara dalam berdzikir saat orang-orang selesai melaksanakan shalat maktubah sudah ada di zaman Nabi Muhammad Saw"
Maka dengan ketrangan hadis ini dzikir habis sholat berjemaah sunnah tidak BID'AH
karna di kerjakan oleh para sahabat
Maka saya sarankan supaya dzikir di masjidmu keraskan dan sampaikan penjelasan ini kepada orang ORANG di sekiling mu yang ngak mau dzikir keras sholat itu bahwa dzikir keras itu hukumnya sunnah
Semoga bisa anda fahami
Sekian

HUKUM AZAN 2 KALI SEBELUM KHUTBAH JUM'AT

Ustadz, bagaimana tentang adzan 2 kali dalam sholat jumat yang benar yang karna di beberapa masjid ada yang adzan jumat nya cuma 1x mohon penjelasannya.

JAWAB:
ADZAN 2 KALI & ADZAN 1 X JUGA BOLEH JANGAN ANDA BINGUNG

Dalil dua adzan dalam Jum’ah.
Dalam kitab Tanwirul Qulub disebutkan:
فَلَمَّا كَثُرَ النَّاسُ فِيْ عَهْدِ عُثْمَانَ أَمَرَهُمُ بِأَذَانَانِ آخَرَ عَلَى الزَّوْرَآءِ وَاسْتَمَّرَ اْلأَمْرُ إِلَى زَمَنِنَا هَذَا.وَهَذَا اْلأَذَانُ لَيْسَ مِنَ اْلبِدْعَةِ لِأَنَّهُ فِي زَمَانِ اْلخُلَفَاءِ الرَّشِدِيْنَ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِيْ وَسُنَّةِاْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ ( تنويرالقلوب)
Ketika orang-orang sudah semakin banyak pada masa Khalifah Utsman, maka beliau memerintahkan untuk mengumandangkan adzan lagi di kota Madinah. Hal yang demikian itu (adzan dua kali) tetap berlangsung sampai sekarang. Adzan yang kedua tersebut tidak termasuk bid’ah karena telah terjadi di masa Khulafaur Rasyidin, sesuai dengan sabda Rasulullah SAW: “Kalian harus berpegang teguh dengan sunnah (ajaran)ku dan sunnah Khulafaur Rasyidin”.
Syekh Jalaluddin bin Abdil Ajiz berpendapat bahwa hukum mengumandangkan adzan yang kedua hukumnya sunat

JUGA dalam kitab Fathul Mu’in:
وَأَذَانَانِ لِلْجُمْعَةِ أَحَدُهُمَا بَعْدَ صُعُوْدِ اْلخَطِيْبِ أَلْمِنْبَرَ وَاْلأَخَرُ اَلَّذِيْ قَبْلَهُ إِنَّمَا أَحْدَثَهُ عُثْمَانُ رضي الله عنه لَمَّا كَثُرَالنَّاسُ فَاسْتِحْبَابُهُ عِنْدَالْحَاجَةِكَأَنْ تَوَقَّفَ حُضُوْرُهُمْ عَلَيْهِ وَإِلَّا لَكَانَ اْلِإقْتِصَارُ عَلَى اْلِإتْبَاعِ أَفْضَلُ
“Begitu juga dihukumi sunat dua adzan dalam Jum’ah. Salah satunya sesudah khotib naik mimbar dan yang satunya lagi adzan sebelumnya, adzan kedua ini sebagai mana perintah sahabat ‘Ustman RA.

HUKUM MENYEBUT LAFAZH SAYYIDINA

Ustadz, ada Sebagian orang membid’ahkan panggilan Sayyidinaa atau Maulana didepan nama Muhammad Rasulullah saw., dengan alasan bahwa Rasulullah saw. sendiri yang menganjurkan kepada kita tanpa mengagung-agungkan dimuka nama beliau saw bagaimana pak ust? mohon penjelasannya jazakalloh.

JAWAB :
بسم الله الرحمن الرحيم
Memang golongan ini mudah sekali membid’ahkan sesuatu amalan tanpa melihat motif makna yang dimaksud Bid’ah itu apa. Mari kita rujuk ayat-ayat Ilahi dan hadits-hadits Rasulullah saw. yang berkaitan dengan kata-kata sayyid.
Syeikh Muhammad Sulaiman Faraj dalam risalahnya yang berjudul panjang yaitu Dala’ilul-Mahabbah Wa Ta’dzimul-Maqam Fis-Shalati Was-Salam ‘AN Sayyidil-Anam dengan tegas mengatakan: Menyebut nama Rasulullah saw. dengan tambahan kata Sayyidina (junjungan kita) didepannya merupakan suatu keharusan bagi setiap muslim yang mencintai beliau saw. Sebab kata tersebut menunjukkan kemuliaan martabat dan ketinggian kedudukan beliau. Allah SWT.memerintahkan ummat Islam supaya menjunjung tinggi martabat Rasulullah saw., menghormati dan memuliakan beliau, bahkan melarang kita memanggil atau menyebut nama beliau dengan cara sebagaimana kita menyebut nama orang diantara sesama kita. Larangan tersebut tidak berarti lain kecuali untuk menjaga kehormatan dan kemuliaan Rasulullah saw.
Dalam al quran surat anoer ayat 63
(إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَىٰ أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّىٰ يَسْتَأْذِنُوهُ ۚ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۚ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ)
[Surat An-Nur 62]

Orang mukmin hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad), dan apabila mereka berada bersama-sama dengan dia (Muhammad) dalam suatu urusan bersama, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad), mereka itulah orang-orang yang (benar-benar) beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena suatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang engkau kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.

Dalam tafsirnya mengenai ayat diatas ini Imam Ash-Shawi RAH
mengatakan: Makna ayat itu ialah janganlah kalian memanggil atau menyebut nama Rasulullah saw. cukup dengan nama beliau saja, seperti Hai Muhammad atau cukup dengan nama julukannya saja Hai Abul Qasim. Hendaklah kalian menyebut namanya atau memanggilnya dengan penuh hormat, dengan menyebut kemuliaan dan keagungannya. Demikianlah yang dimaksud oleh ayat tersebut diatas
Dalam tafsirnya mengenai ayat diatas ini Ash-Shawi mengatakan: Makna ayat itu ialah janganlah kalian memanggil atau menyebut nama Rasulullah saw. cukup dengan nama beliau saja, seperti Hai Muhammad atau cukup dengan nama julukannya saja Hai Abul Qasim. Hendaklah kalian menyebut namanya atau memanggilnya dengan penuh hormat, dengan menyebut kemuliaan dan keagungannya. Demikianlah yang dimaksud oleh ayat tersebut diatas
Sekian semoga anda mengerti
Ust H Sholeh Abd Aziz Abdulloh zen Al Hafidz

HUKUM SHALAT SUNAH QOBLIYAH DQN BQ'DIYAH JUM'AT

Ustadz, saya mau tanya tentang sholat sunnah
Qobliyah jumat dan ba'diyah jumat
1.Apakah di sunnahkan?
2.Apakah bid'ah ? Karna sebagian orang bilang bid'ah
Sehingga kita jumpai di beberapa masjid ketika setelah adzan jumat ada beberapa orang yang tidak melakukan qobliyah jumat(sholat sunnah sebelum jumat karna dia ber anggapan itu bid'ah

3.Terus Kalau memang di sunnahkan, maka berapa rokaat kita mengerjakan
Mohon penjelasannya.

JAWAB:
1.QOBILYAH JUMAT DAN BA'DIYAH jumat HUKUNYA sunnah
2.QOBLIYAH JUMAT DAN BA'DIYAH JUMAT TIDAK bid'ah
3.QOBLIYAH JUMAT DAN BA'DIYAH JUMAT Minimalnya adalah dua raka’at qabliyyah dan dua raka’at ba’diyyah (setelah sholat jum’at). Dan yang lebih sempurna adalah empat raka’at qabliyyah dan empat raka’at ba’diyyah’.

PENJELASAN tentang hukum sholat sunnah qabliyyah jum’at dan ba'diyah jumat, ini semua ada tertulis dalam kitab-kitab para ulamak SEBAGAI BERIKUT :
1. Dalam Kitab Hasiyah al-Bajuri JUZ 1/Halaman 137 :
“Shalat jum’at itu sama dengan shalat Dhuhur dalam perkara yang disunnahkan untuknya. Maka disunnahkan sebelum jum’at itu empat raka’at dan sesudahnya juga empat raka’at”.
2. Dalam kitab Al-Majmu’ Syarah Muhazzab Juz 4/halaman 9 :
“Disunnahkan shalat sunnah sebelum dan sesudah jum’at.
Minimalnya adalah dua raka’at qabliyyah dan dua raka’at ba’diyyah (setelah sholat jum’at). Dan yang lebih sempurna adalah empat raka’at qabliyyah dan empat raka’at ba’diyyah’.
3.dalam kitab Iqna’ oleh Syeikh Khatib Syarbini juz 1/Halaman 99 :
“Jum’at itu sama seperti shalat Dhuhur.Disunnahkan sebelumnya empat raka’at dan sesudahnya juga empat raka’at”.
4. Dalam kitab Minhajut Thalibin oleh Imam Nawawi :
“Disunnahkan shalat sebelum Jum’at sebagaimana shalat sebelum Dzuhur”.
Begitu juga masih banyak pandangan ulama pakar berbagai madzhab mengenai sunnahnya sholat qabliyyah jum’at ini.
Dengan keterangan-keterangan singkat mengenai kesunnahan sholat qabliyyah jum’at, kita akan memahami bahwa ini semua adalah sunnah Rasulullah saw., bukan sebagai amalan bid’ah sebagaimana anggapan sebagian orang yang tidak berdasar.

Sekian penjelasan dari kami
Ust H Sholeh Abd Aziz Abdulloh Zen Al hafidz pengasuh pondok pesantren Al-fatah Betung pancur