BATASAN-BATASAN LELAKI DAN WANITA

Mengaji kitab 'Uquudu Lujjain (الفَصْلُ الأَوَّلُ: فِيْ) بيان (حُقُوْقِ الزَوْجَةِ) الواجبة (عَلَى الزَوْج) وهي حُسْن العِشْرة، ومؤْنة...

Selasa, 25 September 2018

HARI DILARANG ZIARAH KUBUR

PERTANYAAN :
السلام علیکم ورحمة الله وبركاته
Numpang nanya pak ust : Adakah hari yang tidak diperbolehkan ziaroh kubur ? Terimakasih atas penjelasannya.

JAWABAN :
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
nggak ada hari larangan ziarah kubur,
bagi laki-laki boleh ziarah kubur kapanpun tanpa dibatasi waktu, yang afdholnya adalah hari jum'at. Wallohu a'lam.

Rujukan Hukum
- kitab majmu' (8/259) :
( فرع ) يستحب أن يخرج كل يوم إلى البقيع خصوصا يوم الجمعة

- kitab minahul jalil (1/506) :
( و ) جاز بمعنى ندب للرجال خاصة ( زيارة القبور بلا حد ) أي تحديد بيوم من الأسبوع أو وقت من اليوم أو بمدة مكث عندها مالك رضي الله تعالى عنه بلغني أن الأرواح بفناء المقابر فلا تختص زيارتها بيوم بعينه ، وإنما خص يوم الجمعة لفضله والفراغ فيه أو دعاء

KEADAAN ORANG YANG MENINGGAL WAKTU MALAM JUM'AT

PERTANYAAN :
Assalamualaikum
Apakah benar orang yang mati malam jum'at bebas dari siksa kubur dan tidak bertemu dengan malaikat mungkar nakir ?, terimakasih.

JAWABAN :
Wa'alaikumussalam, benar orang muslim yang meninggal di hari atau malam jum'at terjaga dari fitnah kubur :
عن عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ ) . رواه الترمذي
Dari Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Tidak ada seorang muslim pun yang meninggal pada hari Jum’at atau malam Jum’at kecuali Allah akan menjaganya dari fitnah kubur.” (HR Tirmidzi).
Yang dimaksud dengan fitnah kubur adalah siksa dan pertanyaan kubur.
Hadis ini merupakan dalil bahwa kemuliaan waktu mempunyai pengaruh yang besar sebagaimana keutamaan tempat juga mempunyai pengaruh yang besar.
Hadis tsb memang dhoif tapi mempunyai banyak syahid.

Rujukan Hukum
- kitab tuhfatul ahwadzi syarah sunan tirmidzi :
( إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ) أَيْ حَفِظَهُ ( فِتْنَةَ الْقَبْرِ) أَيْ عَذَابَهُ وَسُؤَالَهُ وَهُوَ يَحْتَمِلُ الْإِطْلَاقَ وَالتَّقْيِيدَ وَالْأَوَّلُ هُوَ الْأَوْلَى بِالنِّسْبَةِ إِلَى فَضْلِ الْمَوْلَى وهَذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ شَرَفَ الزَّمَانِ لَهُ تَأْثِيرٌ عَظِيمٌ كَمَا أَنَّ فَضْلَ الْمَكَانِ لَهُ أَثَرٌ جَسِيمٌ قَوْلُهُ ( وَلَا نَعْرِفُ لِرَبِيعَةَ بْنِ سَيْفٍ سَمَاعًا مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو) فَالْحَدِيثُ ضَعِيفٌ لِانْقِطَاعِهِ لَكِنْ لَهُ شَوَاهِدُ قَالَ الْحَافِظُ فِي فَتْحِ الْبَارِي بَعْدَ ذِكْرِ هَذَا الْحَدِيثِ فِي إِسْنَادِهِ ضَعْفٌ وَأَخْرَجَهُ أَبُو يَعْلَى مِنْ حَدِيثِ أَنَسٍ نَحْوَهُ وَإِسْنَادُهُ أَضْعَفُ انْتَهَى وقال القارىء فِي الْمِرْقَاةِ ذَكَرَهُ السُّيُوطِيُّ فِي بَابِ مَنْ لَا يُسْأَلُ فِي الْقَبْرِ.
قُلْتُ وَمِنْ تَتِمَّةِ ذَلِكَ أَنَّ مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ لَهُ أَجْرُ شَهِيدٍ فَكَانَ عَلَى قَاعِدَةِ الشُّهَدَاءِ فِي عَدَمِ السُّؤَالِ كَمَا أَخْرَجَهُ أَبُو نُعَيْمٍ فِي الْحِلْيَةِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ أُجِيرَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَجَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهِ طَابَعُ الشُّهَدَاءِ وأخرج حميد في ترغيبه عن إياس بن بَكِيرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَاتَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ كُتِبَ لَهُ أَجْرُ شَهِيدٍ وَوُقِيَ فِتْنَةَ الْقَبْرِ وَأَخْرَجَ من طريق بن جريح عَنْ عَطَاءٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ أَوْ مُسْلِمَةٍ يَمُوتُ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةِ الْجُمُعَةِ إِلَّا وُقِيَ عَذَابَ الْقَبْرِوَفِتْنَةَ الْقَبْرِ وَلَقِيَ اللَّهَ وَلَا حِسَابَ عَلَيْهِ وَجَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَعَهُ شُهُودٌ يَشْهَدُونَ لَهُ أَوْ طَابَعٌ وَهَذَا الْحَدِيثُ لَطِيفٌ صُرِّحَ فِيهِ بِنَفْيِ الْفِتْنَةِ وَالْعَذَابِ مَعًا انْتَهَى كَلَامُ السُّيُوطِيُّ

HUKUM MENYIRAM AIR DI ATAS MAKAM

PERTANYAAN :
Assalamu'alaikum, apa hukum menyiram air di atas tanah setelah pemakaman / penguburan mayit ?

JAWABAN :
Imam Nawawi al-Bantani dalam Kitab Nihayatuz Zain menerangkan bahwa hukum menyiram kuburan dengan air dingin adalah sunnah.

Tindakan ini merupakan sebuah pengharapan –tafaul- agar kondisi mereka yang dalam kuburan tetap dingin.
وَيُنْدَبُ رَشُّ الْقَبْرِ بِمَاءٍ باَرِدٍ تَفاَؤُلاً بِبُرُوْدَةِ الْمَضْجِعِ وَلاَ بَأْسَ بِقَلِيْلٍ مِنْ مَّاءِ الْوَرْدِ ِلأَنَّ الْمَلاَ ئِكَةَ تُحِبُّ الرَّائِحَةَ الطِّيْبِ (نهاية الزين 154)
Disunnahkan untuk menyirami kuburan dengan air yang dingin. Perbuatan ini dilakukan sebagai pengharapan dengan dinginnya tempat kembali (kuburan) dan juga tidak apa-apa menyiram kuburan dengan air mawar meskipun sedikit, karena malaikat senang pada aroma yang harum. Begitu pula yang termaktub dalam al-Bajuri
...ويندب أن يرش القبر بماء والأولى أن يكون طاهرا باردا لأنه صلى الله عليه وسلم فعله بقبرولده إبراهم وخرج بالماء ماء الورد فيكره الرش به لأنه إضاعة مال لغرض حصول رائحته فلاينافى أن إضاعة المال حرام وقال السبكى لا بأس باليسير منه إن قصد به حضور الملائكة فإنها تحب الرائحة الطيبة...
Disunnahkan menyiram kubur dengan air, terutama air dingin sebagaimana pernah dilakukan rasulullah saw terhadap pusara anyaknya, Ibrahim. Hanya saja hukumnya menjadi makruh apabila menyiraminya menggunakan air mawar dengan alasan menyia-nyiakan (barang berharga). Meski demikian menurut Imam Subuki tidak mengapa kalau memang penyiraman air mawar itu mengharapkan kehadiran malaikat yang menyukai bau wangi.

Hal ini sebenarnya pernah pula dilakukan oleh Rasulullah saw
” أن النبي ( صلى الله عليه وسلم ) رش على قبر ابراهيم ابنه ووضع عليه حصباء ”
Artinya: “Sesungguhnya Nabi Muhammad ShallaAllahu alaihi wa sallam menyiram [air] di atas kubur Ibrahim, anaknya dan meletakkan kerikil diatasnya.”
Begitu juga dengan meletakkan karangan bunga ataupun bunga telaseh yang biasanya diletakkan di atas pusara ketika menjelang lebaran.

Hal ini dilakukan dalam rangka Itba’ sunnah Rasulullah saw. sebagaimana diterangkan dalam hadits
حَدثَناَ يَحْيَ : حَدَثَناَ أَبُوْ مُعَاوِيَةَ عَنِ الأعمش عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ طاووس عن ابن عباس رضي الله عنهما عَنِ النَّبِيّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ مَرَّ بِقَبْرَيْنِ يُعَذِّباَنِ فَقاَلَ: إِنَّهُمَا لَـيُعَذِّباَنِ وَماَ يُعَذِّباَنِ فِيْ كَبِيْرٍ أَمَّا أَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَتِرُ مِنَ البَوْلِِ وَأَمَّا اْلآخَرُ فَكَانَ يَمْشِيْ باِلنَّمِيْمَةِ . ثُمَّ أَخُذِ جَرِيْدَةً رَطْبَةً فَشْقِهَا بِنَصْفَيْنِ، ثُمَّ غُرِزَ فِي كُلِّ قَبْرٍ وَاحِدَةٍ، فَقَالُوْا: ياَ رَسُوْلَ اللهِ لِمَ صَنَعْتَ هٰذَا ؟ فقاَلَ: ( لَعَلَّهُ أَنْ يُخَفَّفَ عَنْهُمَا مَالَمْ يَيْـبِسَا)
Dari Ibnu Umar ia berkata; Suatu ketika Nabi melewati sebuah kebun di Makkah dan Madinah lalu Nabi mendengar suara dua orang yang sedang disiksa di dalam kuburnya. Nabi bersabda kepada para sahabat “Kedua orang (yang ada dalam kubur ini) sedang disiksa. Yang satu disiksa karena tidak memakai penutup ketika kencing sedang yang lainnya lagi karena sering mengadu domba”. Kemudian Rasulullah menyuruh sahabat untuk mengambil pelepah kurma, kemudian membelahnya menjadi dua bagian dan meletakkannya pada masing-masing kuburan tersebut. Para sahabat lalu bertanya, kenapa engkau melakukan hal ini ya Rasul?. Rasulullah menjawab: Semoga Allah meringankan siksa kedua orang tersebut selama dua pelepah kurma ini belum kering. (Sahih al-Bukhari, [1361])

Lebih ditegaskan lagi dalam I’anah al-Thalibin;
يُسَنُّ وَضْعُ جَرِيْدَةٍ خَضْرَاءَ عَلَى الْقَبْرِ لِلْإ تِّباَعِ وَلِأَنَّهُ يُخَفِّفُ عَنْهُ بِبَرَكَةِ تَسْبِيْحِهَا وَقيِْسَ بِهَا مَا اعْتِيْدَ مِنْ طَرْحِ نَحْوِ الرَّيْحَانِ الرَّطْبِ
Disunnahkan meletakkan pelepah kurma yang masih hijau di atas kuburan, karena hal ini adalah sunnah Nabi Muhammad Saw. dan dapat meringankan beban si mayat karena barokahnya bacaan tasbihnya bunga yang ditaburkan dan hal ini disamakan dengan sebagaimana adat kebiasaan, yaitu menaburi bunga yang harum dan basah atau yang masih segar.

Sekian semoga anda faham

HUKUM BERQURBAN DAN AQIQAH ATAS NAMA ORANG YANG SUDAH MENINGGAL

Bolehkah berqurban atau Aqiqah atas nama orang yang telah meninggal ?

Jawab :
Mengaqiqohi orang tua yang masih hidup hukumnya boleh bila ada izin darinya,
sedangkan mengaqiqohi orang tua yang sudah meninggal dunia hukumnya juga diperbolehkan bila ada wasiat sebagaimana diperbolehkannya melakukan qurban atas nama mayit (menurut sebagian pendapat).
Jika tidak berwasiat, maka Aqiqah anak tersebut untuk orang tuanya yang telah meninggal tidak sah dan hanya menjadi shodaqoh.

Menurut syafi'iyah jika orang tua mengakhirkan aqiqoh anaknya sehingga anaknya menginjak usia baligh / dewasa maka gugurlah kesunahan / keabsahan aqiqah,
tetapi tidak gugur keabsahan aqiqah anak tersebut untuk mengaqiqahi dirinya sendiri,
imam qofal dan imam asy syasyi menyarankan agar mereka beraqiqah untuk dirinya sendiri berdasarkan hadis nabi : Bahwasanya nabi SAW beraqiqah untuk diriya sendiri setelah menjadi nabi.
Kesunahan / keabsahan aqiqah gugur bagi orang tua (orang yang wajib menafaqohi) jika anak tersebut telah dewasa.
Tidak gugur kesunahan / keabsahan aqiqah untuk diriya sendiri jika ia sudah baligh.
[ Lihat majmu' 8/412, kifayatul akhyar 2/243, fathul bari 15/297, tuhfatul muhtaj 9/271 ].
Berqurban untuk orang yang meninggal itu boleh jika sebelumnya orang tua (mayit) meninggalkan wasiat untuk itu. Jika tidak menwasiati maka tidak diperbolehkan, namun menurut satu pendapat masih disunahkan meskipun tidak ada wasiat dari si mayit (orang tua), sebab qurban merupakan satu bagian dari bentuk shodaqoh.
[ Mughnil muhtaj 6/138 ].
Jalan tengah : Aqiqah anak untuk orang tuanya yang sudah meninggal tidak sah, kecuali sebelumnya memang sudah ada washiyyat dari orang tua bersangkutan kepada anaknya untuk mengaqiqahi

Al-Maraji’:/Rujukan Sumber Hukum
1. Kitab Tausyih hal 273
2. Kitab Al mausyu’ah juz 30 hal 678
3. Kitab Fathul Wahhab juz 2 hal 330.
4. Kitab Mughni Al muhtaj juz 4 hal 638
5. Kitab Al idhoh hal 334 .
6. Kitab Al Majmu’ juz 8 hal 406

توشيح على ابن القاسم ص 273
والعقيقة عن المولود مستحبة وفسر المصنف العقيقة بقوله وهي الذبيحة عن المولود يوم سابعه أي يوم سابع ولادته بحسب يوم الولادة من السبع ولو مات المولود قبل الأسابع ولا تفوت بالتأخير بعده فإن أخرت للبلوغ سقط حكمها في حق العاق عن المولود أما هو فمخير في العاق عن نفسه والترك فإن أخرت أي الذبيحة للبلوغ سقط حكمها في حق العاق عن المولود أي فلا يخاطب بها بعده لانقطاع تعلقه بالمولود حينئذ للاستقلاله أما هو أي المولود بعد بلوغه فمخير في العاق عن نفسه والترك فاما أن يعق عن نفسه أو يترك العقيقة لكن الأحسن أن يعق عن نفسه تداركا لما فات

الموسوعة الفقهية : ج30 ص 278
من تطلب منه العقيقة : 8 - ذهب الشافعية إلى أن العقيقة تطلب من الأصل الذي تلزمه نفقة المولود بتقدير فقره , فيؤديها من مال نفسه لا من مال المولود , ولا يفعلها من لا تلزمه النفقة إلا بإذن من تلزمه . ولا يقدح في الحكم { أن النبي صلى الله عليه وسلم قد عق عن الحسن , والحسين } , مع أن الذي تلزمه نفقتهما هو والدهما ; لأنه يحتمل أن نفقتهما كانت على الرسول صلى الله عليه وسلم لا على والديهما , ويحتمل أنه عليه الصلاة والسلام عق عنهما بإذن أبيهما . ومن بلغ من الأولاد ولم يعق عنه أحد يندب له أن يعق عن نفسه عند الشافعية . ويشترط في المطالب بالعقيقة عندهم : أن يكون موسرا بأن يقدر عليها فاضلة عن مؤنته ومؤنة من تلزمه نفقته قبل مضي أكثر مدة النفاس وهي ستون يوما فإن قدر عليها بعد ذلك لم تسن له . وذكر المالكية أن المطالب بالعقيقة هو الأب . وصرح الحنابلة أنه لا يعق غير أب إلا إن تعذر بموت أو امتناع , فإن فعلها غير الأب لم تكره ولكنها لا تكون عقيقة , وإنما { عق النبي صلى الله عليه وسلم عن الحسن والحسين } ; لأنه أولى بالمؤمنين من أنفسهم . وصرحوا بأنها تسن في حق الأب وإن كان معسرا , ويقترض إن كان يستطيع الوفاء . قال أحمد : إذا لم يكن مالكا ما يعق فاستقرض أرجو أن يخلف الله عليه ; لأنه أحيا سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم .

فتح الوهاب - (ج 2 / ص 330)
(ولا تضحية لاحد عن آخر بغير إذنه ولو) كان (ميتا) كسائر العبادات بخلاف ما إذا أذن له كالزكاة.وصورته في الميت أن يوصي بها، واستثنى من اعتبار الاذن ذبح أجنبي معينة بالنذر بغير إذن الناذر، فيصح على المشهور ويفرق صاحبها لحمها، لان ذبحها لا يفتقر إلى نية كما مر.

مغني المحتاج ( ج 4 ص 638 )
( وَلَا ) تَضْحِيَةَ ( عَنْ مَيِّتٍ لَمْ يُوصِ بِهَا ) لقوله تعالى : { وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إلَّا مَا سَعَى } فَإِنْ أَوْصَى بِهَا جَازَ , فَفِي سُنَنِ أَبِي دَاوُد وَالْبَيْهَقِيِّ وَالْحَاكِمِ { أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ كَانَ يُضَحِّي بِكَبْشَيْنِ عَنْ نَفْسِهِ وَكَبْشَيْنِ عَنْ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَقَالَ : إنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمَرَنِي أَنْ أُضَحِّيَ عَنْهُ , فَأَنَا أُضَحِّي عَنْهُ أَبَدًا } , لَكِنَّهُ مِنْ رِوَايَةِ شَرِيكٍ الْقَاضِي وَهُوَ ضَعِيفٌ . وَقَدَّمْنَا أَنَّهُ إذَا ضَحَّى عَنْ غَيْرِهِ يَجِبُ عَلَيْهِ التَّصَدُّقُ بِجَمِيعِهَا , وَقِيلَ تَصِحُّ التَّضْحِيَةُ عَنْ الْمَيِّتِ وَإِنْ لَمْ يُوصِ بِهَا ; لِأَنَّهَا ضَرْبٌ مِنْ الصَّدَقَةِ , وَهِيَ تَصِحُّ عَنْ الْمَيِّتِ وَتَنْفَعُهُ ,

الإيضاح ص 334
فرع لو ضحى عن غيره بغير إذنه أو عن ميت(2) لا يقع عنه إلا أن يكون قد أوصاه الميت(3) ولا يقع عن المباشر لأنه لم ينوها عن نفسه إلا أن يكون جعلها منذورة
(2) أي بلا وصية منه
أي لحديث علي رضي الله عنه ....الى ان قال : وأطلق أبو الحسن العبادي من الشافعية جواز تضحية عن الميت لأنها ضرب من الصدقة والصدقة تصح عن الميت وتنفعه وتصل اليه بالإجماع
قال القنوجي في شرح المنتهى كما في مفيد الأنام للشيخ عبد الله بن جاسر الحنبلي والتضحية عن ميت أفضل منها عن حي لعجزه واحتياجه لثواب

المجموع شرح المهذب - (ج 8 / ص 406)
(فرع) لو ضحى عن غيره بغير اذنه لم يقع عنه (وأما) التضحية عن الميت فقد أطلق أبو الحسن العبادي جوازها لانها ضرب من الصدقة والصدقة تصح عن الميت وتنفعه وتصل إليه بالاجماع وقال صاحب العدة والبغوي لا تصح التضحية عن الميت إلا ان يوصي بها وبه قطع الرافعي في المجرد والله أعلم ... الى ان قال : واحتج العبادي وغيره في التضحية عن الميت بحديث على بن أبي طالب رضى الله عنه أنه كان (يضحى بكبشين عن النبي صلى الله عليه وسلم وبكبشين عن نفسه وقال ان رسول الله صلى الله عليه وسلم أمرني أن أضحى عنه أبدا فأنا أضحى عنه أبدا) رواه أبو داود والترمذي والبيهقي قال البيهقي ان ثبت هذا كان فيه دلالة على صحة التضحية عن الميت والله أعلم

HUKUM MENGGARAP SAWAH GADAIAN

Sudah menjadi tradisi/kebiasaan yang berlaku di sebagian masyarakat jika seseoranng
berhutang maka ia akan menyerahkan barang jaminan berupa semisal sawah, dengan perjanjian
selagi hutangnya belum dilunasi maka sawah digarap oleh pihak yang menghutangi.
Pertanyaan :
Bagaimana aqod hutang piutang dengan cara demikiaan ?

Jawab :
Hukumnya tidak boleh (haram) termasuk riba,
catatan :
Termasuk aqod yang sejenis dengan aqod diatas misalnya orang berhutang dengan jaminan
motor dan motor tersebut dimanfaatkan oleh orang yang menghutangi

Rujukan Hukum:
Kitab Asybah wan nadzoir juz 1/ halaman 192
وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا

Disebutkan dalam Hadits Riwayat Imam Muslim :
قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- : لعن الله آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهده - رواه مسلم.
Rasulullaah SAW bersabda: “Allah melaknat para pemakan riba, orang yang memberi riba, pencatat transaksi riba dan orang yang menjadi saksinya.” (HR. Muslim).

Dalam redaksi Hadits Riwayat Imam Muslim dari Jabir bin ‘Abdillaah :
عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال : لعن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- آكل الربا ، و موكله ، و كاتبه ، و شاهديه ، و قال : هم سواء - رواه مسلم
Dari Jabir bin ‘Abdullah r.a.: “Rasulullaah SAW melaknat para pemakan riba, orang yang memberikan riba, pencatat transaksi riba, dan dua orang yang menjadi saksi riba.” Dan Rasulullaah SAW bersabda: “Mereka semua sama.” (HR. Muslim).

Penjelasan al-‘Allamah al-Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Jawiy dalam Kitab Bahjatul Wasaa’il bi Syarh al-Masaa’il dan kitab Mirqaatu Shu’uud al-Tashdiiq fii Syarh Sullam al-Tawfiiq ilaa Mahabbatillaahi ‘alaa al-Tahqiiq – Penerbit: Daar al-Kutub al-Islaamiyyah:
Syaikh Nawawi ketika menjelaskan pasal al-Manhiyyaat min al-Buyuu’ (Hal-Hal Terlarang dalam Jual Beli) mengatakan:
و أما معاصي الجوارح : أي الأعضاء السبعة (فمعاصي البطن مثل أكل الربا) - فصل : في المنهيات من البيوع
“Adapun maksiat dari perbuatan yang tampak lahir: yakni tujuh anggota badan (maksiat perut diantaranya adalah memakan harta riba).”
Syaikh Nawawi pun menjelaskan hadits di atas:
(و قد لعن الله ورسوله آكل الربا وكل من أعان على أكله) فمعنى قوله ((آكله)) أي آخذه، ومعنى ((موكله)) أي معطيه، ومعنى ((كاتبه)) أي كاتب الوثيقة، ومعنى ((شاهده)) أي حاضره وإن لم يستشهد. كذا قاله الشرقاوي
“Dan sungguh Allah dan Rasul-Nya telah melaknat para pemakan riba dan setiap orang yang mendukung perbuatan tersebut. Maka makna sabdanya: (Para pemakan riba) yakni yang mengambil riba, (pemberi riba) yakni yang memberi riba, (pencatat riba) yakni orang yang mencatat perjanjian transaksi ribawi, (saksi riba) yakni orang yang hadir -menyaksikan transaksi ribawi- meski ia tidak diminta menjadi saksi. Begitulah pendapat Imam al-Syarqawiy.”
والأولان أشد إثمًا من الآخرين، لأن الواقع منهما مجرد الإقرار على المعصية بخلاف الأولين ، أفاد ذلك الشرقاوي.
“Dan dua golongan di awal (pemakan dan pemberi riba) paling besar (dosanya) daripada yang lainnya, karena pada kenyataannya kedua golongan ini secara langsung berikrar sepakat dalam kemaksiatan lain halnya dengan dua golongan setelahnya (pencatat dan saksi transaksi ribawi).”
آكل الربا : هو من يأخذه وإن لم يأكل، وإنما خُصَّ الأكلُ لأنه أعظم أنواع الانتفاع
Pemakan riba (آكل الربا): orang yang mengambil harta riba meski ia tidak memakannya, dan penggunaan lafazh khusus “memakan” karena istilah ini merupakan jenis pemanfaatan paling besar.
موكل الربا : معطيه لمن يأخذه وإن لم يكن الآخِذُ سيأكلُ منه، وعبّرَ بالأكل لأنه الأغلبُ والأعظم.
"Pemberi riba (موكل الربا): orang yang memberikan riba, meski orang yang mengambil harta riba darinya tidak memakan hasil riba tersebut. Digunakan kata “makan” karena ini merupakan bentuk perbuatan yang paling sering dan paling banyak dilakukan."
كاتب الربا : من يكتب عقدَ المبايعة بين الطرفين
"Pencatat riba (كاتب الربا)
Adalah orang yang menuliskan perjanjian transaksi antara pihak-pihak yang bertransaksi."
شاهد الربا : هما اللذان شهِدا على عقد الربا
"Saksi riba (شاهد الربا): orang yang menjadi saksi atas transaksi riba."
هم سواء : مشتركون في الإثم وإن كانوا مختلفين في قَدْره
"Mereka semua sama (هم سواء): bersekutu dalam dosa meski kadar dosanya berbeda-beda."

Senin, 10 September 2018

HUKUM KHITAN

Pertanyaan
Saya mau tanya, nyunat anak laki laki itu bagusnya umur berapa ustad?

Jawab:
Waktu Khitan
Menurut Al- Mawardy, ada tiga waktu untuk berkhitan, yakni:
1.Waktu WAJIB, yakni saat seorang anak telah mencapai umur BALIGH.
2.Waktu Sunnah, Yakni saat anak belum mencapai umur baligh.
3.Waktu Ikhtiyar, yakni saat bayi umur 7 (tujuh) hari, atau 40 hari atau umur 7 (tujuh) tahun saat anak mulai diajari dan diperintah sholat


Ustazd numpang tanya Khitan anak cewek ustazd, gimana jika anak cewek tidak dikhitan, apa hukumnya?

JAWABAN :
Menurut ulama safi'iyah Khitan itu hukumnya wajib bagi laki-laki dan perempuan, dan ketika perempuan yang belum di khitan pada masa kecilnya maka wajib pula ktika dewasa dikhitan.
Dalam Kitab Tuhfatul Habib fikih syafi'i, QOLA ASHAB: wajib khitan setelah balig, dan disunahkan khitan ketika berumur 7 hari dari kelahiran kalau itu tidak membahayakan kalau tidak memungkinkan maka bisa diakhirkan. MENURUT QOUL ROJIH/BISA Di buat pegangan:
"KHITAN ITU SUNAH BAGI WANITA DAN TIDAK WAJIB".
Kesimpulan Hukum khitan Adalah WAJIB bagi bayi laki2 dengan kesepakatan seluruh Imam
Dan Khilaf Ulamak Mengenai Khitan Bayi perempuan
Ada yang mengatakan wajib
Dan ada yang mengatakan Tidak wajib

Rujukan Hukum
1- kitab fatawi :Halaman 4487
ﻓﻘﺪ ﺳﺒﻖ ﺃﻥ ﺫﻛﺮﻧﺎ ﺃﻥ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﻭﺍﺟﺐ ﻓﻲ ﺣﻖ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺀ، ﻓﻴﻤﻜﻨﻚ ﺃﻥ ﺗﺮﺍﺟﻊ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ ﺭﻗﻢ: 4487.
ﻭﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﺨﺘﻦ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻓﻲ ﺻﻐﺮﻫﺎ ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﺍﻻﺧﺘﺘﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺒﺮ، ﻓﻔﻲ ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ -ﻭﻫﻮ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ:- ﻗﺎﻝ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ: ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ، ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﺨﺘﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﻣﻦ ﻭﻻﺩﺗﻪ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺿﻌﻴﻔﺎً ﻻ ﻳﺤﺘﻤﻠﻪ ﻓﻴﺆﺧﺮ ﺣﺘﻰ ﻳﺤﺘﻤﻠﻪ. ﺍﻧﺘﻬﻰ. ﻭﺍﻟﺮﺍﺟﺢ ﺃﻥ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﺳﻨﺔ ﻓﻲ ﺣﻖ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻭﻟﻴﺲ ﺑﻮﺍﺟﺐ، ﻛﻤﺎ ﺑﻴﻨﺎ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ ﺭﻗﻢ: 68002

2- kitab I'anatut tholibin juz 4 hal 173 :
ووجب ختان للمرأة والرجل حيث لم يولدا مختونين
Dan wajib berkhitan bagi perempuan dan laki-laki jika waktu dilahirkan belum keadaan terkhitan.

3- kitab Nihayatuzzain hal 358 :
وفي الأنثى بقطع جزء يطلق عليه اسم الختان من اللحمة الموجودة بأعلى الفرج فوق ثقبة البول تشبه عرف الديك وتسمى البظر
Dan khitan bagi wanita yaitu memotong sebagian dari daging yang berada paling atas farji,tepatnya diatas lobang keluarnya air kencing yang mana daging tadi mirip cengger ayam, dan daging tersebut dinamakan bidzir.

4- kitab Khasyiyah I'anatut tholibin juz 4 hal 198 :
حاشية إعانة الطالبين - (ج 4 / ص 198)
قوله: والمرأة الخ) أي والواجب في ختان المرأة قطع جزء يقع عليه اسم الختان وتقليله أفضل لخبر أبي داود وغيره أنه (ص) قال للخاتنة: أشمي ولا تنهكي فإنه أحظى للمرأة وأحب للبعل أي لزيادته في لذة الجماع، وفي رواية: أسرى للوجه أي أكثر لمائه ودمه
Diantara salah satunya hikmah khitan bagi perempuan ialah : menambah kecantikan pada wajahnya, akan memperbaiki budi pekertinya perempuan, menstabilkan syahwat, memberikan rasa tambah lezat pada suami ketika bersenggama, dan masih banyak lagi. Makanya wanita-wanita kafiroh mereka kebanyakan tidak bisa menahan syahwatnya hal itu disebabkan tempat khitannya tidak dipotong.

Sekian semoga anda faham

HUKUM BISNIS BURUNG WALET

Assalamualaikum
Buat ustad H.Sholeh Abd Aziz .
ana mau nanya bagaimana pandangan hukum islam tentang mencari nafkah hidup dari memelihara burung walet.yg kita tau bersama yg dijual adalah air liur dr burung walet yg telah kering.
atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih

JAWABAN :
Wa'alaikumus salam,
Pandangan islam mengenai
Mencari nafkah dari burung walet hukumnya boleh dan hasilnya halal
Karna liur / ilernya burung walet adalah suci, karena bila hewannya suci maka suci juga air liurnya.

Sumber Hukum
- Kitab Mawhibah Dzil Fadhli juz 1 Halaman 472
.ومترشح كل حيوان طاهر كعرق ولعاب أى ودمع ومخاط فطاهرة. موهبة ذي الفضل ١/٤٦٢
Apa saja yang keluar dari Hewan yang suci maka hukum nya juga suci seperti keringat, air liur ,air mata , dan ingus , semuanya suci
Kesimpulannya: air liur burung walet suci karna burung walet termasuk hewan suci
Maka air liurnya juga suci bisa di jual belikan dan halal hasil uangnya halal

Sekian semoga anda faham