BATASAN-BATASAN LELAKI DAN WANITA

Mengaji kitab 'Uquudu Lujjain (الفَصْلُ الأَوَّلُ: فِيْ) بيان (حُقُوْقِ الزَوْجَةِ) الواجبة (عَلَى الزَوْج) وهي حُسْن العِشْرة، ومؤْنة...

Jumat, 28 September 2018

MENIKAH DENGAN SIHIR PELET

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh Ustadz saya mau tanya Bagaimana hukumnya seseorang lelaki menikahi perempuan akan tetapi menikahnya tadi menggunakan pelet atau dukun tolong tolong Ustad jawabannya??
Achmad Ridwan Pilif II

JAWAB:
Sihir pelet disebut juga dengan sihir al-Athf (pengasihan), dalam istilah lain disebut dengan at-Tiwalah [التِّوَلة]. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyebutnya sebagai perbuatan kesyirikan.
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ الرُّقَى وَالتَّمَائِمَ وَالتِّوَلَةَ شِرْكٌ
“Sesungguhnya jampi-jampi, jimat, dan pelet adalah kesyirikan.” (HR. Abu Daud 3883, Ibnu Majah 3530)

Secara prinsip bahwa setiap pernikahan yang terpenuhi syarat dan rukunnya, statusnya pernikahan nya sah.
Mengenai hukum menikahinya, jika benar karena sebab sihir, keberadaan sihir ini tidak mempengaruhi hukum pernikahan. Hanya saja, dalam pernikahan ada rukun dan syaratnya. Selama rukun dan syaratnya terpenuhi, pernikahannya sah
Selanjutnya apa yang harus dilakukan?
Wajib bertaubat, dan rahasiakan hal ini kepada siapapun sampai mati, termasuk kepada sang istri, karena bisa memicu masalah dalam rumah tangga.
Sekian

SUAMI ISTRI DI SORGA

ASSALAMUALAIKUM
Kalau seorang istri shalihah ditinggal mati suaminya yg shalih, kemudian ia menikah lagi,, nantinya di akhirat ia akan dikumpulkan dg suaminya yg mana Ustadz ?

JAWAB:
Wa’alaikumussalam waramatullah wabarakatuh
Islam mensyariatkan iddah (masa tunggu) bagi wanita yang ditinggal mati suami, sampai ia melahirkan anaknya, jika ia hamil, atau selama empat bulan sepuluh hari jika ia tidak hamil.
Selama masa iddah ini ia dilarang memakai perhiasan, dan setelah habis masa ini ia boleh mengenakan perhiasan yang diijinkan di dalam syariat Islam.

Ada beberapa alasan seorang wanita ditinggal mati oleh suaminya. Bisa jadi karena ia memiliki anak bayi, sehingga khawatir pemeliharaan si bayi akan terlantar jika menikah lagi.
Atau karena faktor rasa cinta yang besar kepada suaminya sehingga ia ingin tetap menjadi istrinya kelak di akhirat sebagaimana tersebut dalam hadits yang shahih. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
أيما امرأة تُوفي عنها زوجها ، فتزوجت بعده ، فهي لآخر أزواجها
“Wanita mana saja yang ditinggal mati suaminya, kemudian menikah lagi, maka ia akan bersama dengan suaminya yang terakhir.” (HR Thabrani )
Alasan ini bisa saja dibenarkan jika usia janda tersebut sudah tua, sehingga ia merasa aman dari fitnah/keburukan yang akan melanda dia berupa syahwat dll.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairahradhiyallahu ‘anhu :
Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melamar Umma Hani binti Abi Thalib, Ummu Hani pun menjawab: “Wahai Rasulullah, aku sudah tua, selain itu aku mempunyai anak”,
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sabaik-baik wanita yang menaiki unta adalah wanita Quraisy, yang paling sayang kepada anak pada masa kecilnya, dan yang paling memelihara hak-hak suaminya”.
(Musnad Imam Ahmad bin Hambal : 2/269)

Namun jika ia seorang yang masih muda, sehingga syahwat senantiasa mengintai untuk menjerumuskannya setiap saat, maka wajib bagi dia menikah lagi.
Dan Allah ta’ala akan memberinya ganti kepada dia dengan anak-anak yang shalih, shalihah yang akan menjadi pelipur lara baginya, serta mesin penghasil pahala di kehidupannya kelak di akhirat.

Terkadang seorang wanita beranggapan bahwa suaminya adalah manusia paling shalih, paling baik yang ia cintai sepenuh hati, dan ia menyangka tidak akan mendapatkan ganti yang lebih baik.
Hal ini pernah dialami oleh Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha yang ditinggal wafat oleh Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu.
Namun ketika ia berdo’a dengan do’a yang ma’tsur ia mendapatkan ganti suami yang jauh lebih baik dari Abu Salamah radhiyallahu ‘anhu, yaitu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri yang mempersuntingnya.

Maka dianjurkan bagi kita, bagi siapa saja kaum muslimin yang mendapatkan musibah untuk ia berdo’a minta diberikan pahala atas musibah yang menimpanya dan agar diberikan ganti yang jauh lebih baik.
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha berkata :
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ { إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ } اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا قَالَتْ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو سَلَمَةَ قُلْتُ أَيُّ الْمُسْلِمِينَ خَيْرٌ مِنْ أَبِي سَلَمَةَ أَوَّلُ بَيْتٍ هَاجَرَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ إِنِّي قُلْتُهَا فَأَخْلَفَ اللَّهُ لِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ أَرْسَلَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَاطِبَ بْنَ أَبِي بَلْتَعَةَ يَخْطُبُنِي لَهُ فَقُلْتُ إِنَّ لِي بِنْتًا وَأَنَا غَيُورٌ فَقَالَ أَمَّا ابْنَتُهَا فَنَدْعُو اللَّهَ أَنْ يُغْنِيَهَا عَنْهَا وَأَدْعُو اللَّهَ أَنْ يَذْهَبَ بِالْغَيْرَةِ
“Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah lalu ia membaca apa yang telah diperintahkan oleh Allah :
‘INNAA LILLAHI WAINNAA ILAIHI RAAJI’UUN, ALLAHUMMA`JURNII FII MUSHIIBATI WA AKHLIF LII KHAIRAN MINHAA
(Sesungguhnya kami adalah milik Allah & akan kembali kepada Allah. Ya Allah, berilah kami pahala karena musibah ini & tukarlah bagiku dengan yang lebih baik daripadanya).’ melainkan Allah menukar baginya dengan yang lebih baik.
Ummu Salamah berkata: Ketika Abu Salamah telah meninggal, saya bertanya, orang muslim manakah yang lebih baik daripada Abu Salamah?
Dia adalah orang-orang yang pertama-tama hijrah kepada Rasulullah . Kemudian akupun mengucapkan do’a tersebut.
Maka Allah pun menggantikannya bagiku Rasulullah . Ummu Salamah mengkisahkan: Rasulullah mengutus Hatib bin Abu Balta’ah melamarku untuk beliau sendiri. Maka saya pun menjawab, bagaimana mungkin, aku telah mempunyai seorang anak wanita & aku sendiri adalah seorang pencemburu. Selanjutnya beliau pun menjawab: Adapun anaknya, maka kita do’akan semoga Allah mencukupkan kebutuhannya & aku mendo’akan pula semoga Allah menghilangkan rasa cemburunya itu”. [HR. Muslim No.1525].

Allah ta’ala juga berfirman :
[وَأَنكِحُوا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ [النور:32
“Dan nikahkanlah orang-orang yang sedirian diantara kamu (termasuk janda dalam hal ini-pent), dan orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An-Nur : 32).

Kesimpulannya jika penanya masih berusia muda maka yang wajib bagi dia adalah berdo’a agar Allah memberi ganti dan menikah kembali dengan lelaki yang shalih.
Jangan sampai cita-cita Syurga kita hilang hanya karena kita terjebak ke dalam kubangan syahwat, sehingga rencana awal tiada didapat, justru siksaan menunggu kita.
Insya’Allah dengan memilih pilihan yang Allah pilihkan bagi kita terdapat banyak kebaikan dan kebaikan dunia dan akhirat, kita hanya perlu sedikit berprasangka baik kepada Allah ta’ala dan jangan pernah merasa aman dari jerat-jerat syaithan yang senantiasa berusaha siang malam menjerumuskan kita ke dalam jurang kemaksiatan,
semoga bermanfaat

Rabu, 26 September 2018

HUKUM ASURANSI

PERTANYAAN :
Assalamualaikum
Apa hukum ASURANSI baik jiwa maupun kendaraan. Syukron
H Mulyadi Perumnas Masjid Al Firdaus

JAWABAN :
Wa'alaikumussalam. Haram hukumnya karena dalam system penjaminan tersebut mengandung unsur gharar (ketidak jelasan) dan unsur qimar (ketidak pastian)
Akan Tetapi bisa HALAL Apabila asuransi jiwa tersebut mengandung unsur (tabungan syar'i)
Pada waktu menyerahkan uang premi, pihak tertanggung berniat untuk menabung untungnya pada pihak penanggung (perusahaan asuransi). Pihak penanggung berniat menyimpan uang tabungan milik pihak tertanggung dengan cara-cara yang dibenarkan/dihalalkan oleh syariat agama Islam.
Apabila sebelum jatuh tempo yang telah disepakati bersama antara pihak tertanggung dan pihak penanggung seperti yang telah disebutkan dalam polis (surat perjanjian), ternyata pihak penanggung tersebut sangat memerlukan (keperluan yang bersifat darurat) uang tabungannya, maka pihak tertanggung dapat mengambil atau menarik kembali sejumlah uang simpanannya, dari pihak penanggung dan pihak penanggung berkewajiban menyerahkan sejumlah uang tersebut kepadanya.
Apabila pada suatu ketika pihak tertanggung terpaksa tidak dapat membayar uang premi, maka:Uang premi tersebut menjadi utang yang dapat diangsur oleh pihak tertanggung pada waktu-waktu permbayaran uang premi berikutnya.
Hubungan antara pihak tertanggung dan pihak penanggung dinyatakan tidak putus.
Uang tabungan milik tertanggung tidak dinyatakan hangus oleh pihak penanggung. Apabila sebelum jatuh tempo pihak tertanggung meninggal dunia, maka ahli warisnya berhak untuk mengambil sejumlah uang simpanannya, sedang pihak penanggung berkewajiban mengembalikan sejumlah uang tersebut.

Dari penjelasan di atas, bisa dipahami bahwa prinsip muamalah / transaksi dalam Islam itu menganut paham عَنْ تَرَاضٍ saling merelakan dan ketiadaan ghurur/ penipuan.
Prinsip ‘an taroodlin atau saling merelakan itu artinya para pihak yang bertransaksi tidak ada yang dirugikan.
Akad transaksinya jelas dan dapat dipahami, tidak membahasakan keterpaksaan sebagai kerelaan.
Terkadang orang mau berhutang ke rentenir, dan rentenir menarik bunga dengan alasan yang berhutang rela. Kerelaan yang diakui dalam syariat adalah kerelaan yang berdasar atas tidak adanya keterpaksaan.
Andai ada dua orang yang mau meminjamkan, satu dengan bunga dan satunya tanpa bunga, kemudian kita lebih memilih yang tanpa bunga, maka sebenarnya kalaupun kita meminjam ke orang yang memberikan dengan bunga maka tidak bisa disebut rela.
Yang dimaksud ghurur adalah penipuan, semisal dalam beberapa hal nasabah tidak membayarkan kewajibannya, maka tabungannya hangus. Pihak bank atau asuransi menghanguskan harta nasabah ini dalam transaksi apa? Ini yang disebut penipuan. Setiap hal yang
merugikan para pihak bisa dikatakan penipuan.
Andai untuk segera mendapatkan jaminan asuransi, seseorang membakar rumahnya dengan dalih kebakaran, maka hal ini juga bisa disebut penipuan. Begitu juga dalam asuransi jiwa. Bagaimana andai ada anak turun, ahli waris merekayasa pembunuhan nasabah untuk mendapat asuransi ? Ini juga unsur penopuana
Dalam hal asuransi ini memasukkan segala bentuk asuransi baik jiwa maupun kendaraan
Perlu di ketahui sodara kata seyhk uzairon kenapa indosia tidak berkah ?karna banyak nya kedzoliman dan muamalah yang tidak sesuai dengan hukum alloh telah banyak terjadi di negara ini
Semoga dapat dipahami.

RUJUKAN HUKUM
Kitab Al Um Juz 3 Halaman 64
الأم الجزء الثالث ص: 64
(قال): فأما الرجل يقول للرجل وعنده صبرة تمر له أضمن لك هذه الصبرة بعشرين صاعا فإن زادت على عشرين صاعا فلي فإن كانت عشرين فهي لك وإن نقصت من عشرين فعلي إتمام عشرين صاعا لك فهذا لا يحل من قبل أنه من أكل المال بالباطل الذي وصفت قبل هذا وهذا بالمخاطرة والقمار أشبه وليس من معنى المزابنة بسبيل ليس المزابنة إلا ما وصفت لا تجاوزهتكملة
المجموع للمطيعي الجزء الثالث عشر ص: 253-255
قرر مجلس المجمع الفقهى بالإجماع عدا فضيلة الشيخ مصطفى الرزاق تحريم التأمين بجميع أنواعه سواء كان على النفس أو البضائع التجارية أو غير ذلك للأدلة الأتية :أولا: عقد التأمين التجارى من عقود المعاوضات المالية الاجتماعية المشتملة للغرر الفاخش لأن المستأمن من لا يستطيع أن يعرف وقت العقد مقدار ما يعطى أو يأخذ فقد يدفع قسطا أو قسطين ثم تقبع الكارثة أصلا فيدفع الأقساط ولا يأخذ شيئا وكذلك المؤمن لا يستطيع أن يحدد ما يعطى ويأخذ بالنسبة لكل عقد بمفرده وقد ورد فى الحديث الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم النهي عن بيع الغررالثانى عقد التأمين التجارى ضرب من ضروب المقامرة لما فيه من المخاطرة فى معاوضات مالية ومن العزم بلا جناية أو تسبب فيها ومن الغنم بلا مقابل أو مقابل غير مكافئ فإن النستأمن قد يدفع قسطا من التأمين ثم يقع الحادث فيغرم المؤمن كل مبلغ التأمين وقد لا يقع الخطر ومع ذلك يغنم المؤمن أقساط التأمين بلا مقابل وذا استكمت فيه الجهالة كان قمارا ودخل فى عموم النهي عن الميسر فى قوله تعالى " ياأيها الذين آمنوا إنما الخمر والميسر والأنصاب ةالأزلام رجس من عمل الشيطان فاجتنبوه لعلكم تفلحون " والآية بعدهاالثالث عقد التأمين التجارى يشتمل على ربا الفضل والنساء فإن الشركة إذا دفعت للمستأمن أو لورثته للمستفيد أكثر مما دفعه من النقود لها فهو ربافضل والمؤمن يدفع ذلك للمستأمن بعد مدة فيكون ربا نساء وإذا دفعت الشركة للمستأمن مثل ما دفعه لها يكون ربا فضل فقط وكلاهما محرم بالنص والإجماعالرابع عقد التأمين التجارى من الرهان المحرم لأن كلا منهما فيه جهالة وغرر ومقامرة ولم يبح الشرع من الرهان إلا ما فيه نصرة للإسلام وظهور لأعلامه بالحجة والسنان وقد حصر النبي صلى الله عليه وسلم رخصة الرهان بعوض فى ثلاثة بقوله صلى الله عليه وسلم " لا سبق إلا فى خف أو حافر أو نصل " وليس التأمين من ذلك ولا شبيها به فكان محرماالخامس عقد التأمين التجارى فيه أخذ مال الغير بلا مقابل وأخذ بلا مقابل فى عقود المعاوضات التجارية محرم لدخوله فى عموم النهي فى قوله تعالى" ياأيها الذين آمنوا لا تأكلوا أموالكم بالباطل إلا أت تكون عن تراض منكمالسادس فى عقد التأمين التجارى الإلزام بما يلزم شرعا فإن المؤمن لم يحدث الخطر منه ولم يتسبب فى حدوثه وإنما كان منه مجرد التعاقد مع المستأمن على ضمان الخطر على تقدير وقوعه مقابل مبلغ يدفعه المستأمن له والمؤمن لم يبذل عملا للمستأمن فكان حراما
وأما ما استدل به المبيحون للتأمين التجاري مطلقا أو فى بعض أنواعه فالجواب عنه ما يلى –أ- الاستدلال بالاتصلاح غير صحيح فإن المصالح فى الشريعة الإسلامية ثلاثة أقسام قسم شهد الشرع باعتباره فهو حجة وقسم سكت الشرع عنه فلم يشهد له بإلغاء ولا اعتبار فهو مصلحة مرسلة وهذا محل اجتهاد المجتهدين والقسم الثالث شهد الشرع بإلغائه وعقود التأمين التجارى فيها جهالة وغرر وقمار وربا فكانت مما شهد الشرع بإلغائه لغلبة جانب المفسدة فيه على جانب المصلحة.
Jadi saya saran kan kalo antum mau pake asuransi niatnya nabung aja dengan metode syariat

HUKUM MEMAKAI CADAR

PERTANYAAN :
Apa hukum memakai cadar dan jilbab ? Mohon penjelasannya
Dan mohon doanya untuk saya dan anak2 semoga bisa istiqomah memakai cadar
Hamba alloh

JAWABAN :

Aurat wanita di luar shalat kepada laki-laki lain (ajnabi / ghoiru mahram) adalah seluruh badan kecuali wajah dan kedua telapak tangan ketika tidak kuwatir fitnah, tapi jika kuatir akan fitnah maka haram melihat keduanya.
Secara mendasar seorang wanita tidak diwajibkan menutui wajahnya melainkan bahwa hal itu menutupi wajah hukumya sunnah bagi wanita dan merupakan maslahah umum agar tidak timbul fitnah sdangkan bagi laki-laki tidak di perbolehkan mlhat perempuan secara mutlaq.karena inilah kaum wanita wajib menutupi wajahya demi menutup jalan dari perbuatan dosa kaum laki-laki dan agar terhindar dari unsur menolng dalam kemaksiatan sebab mlhatya laki-laki lain kepada perempuan secara mutlaq.
Rujukan Hukum
[ i'anatut tholibin 3/229, hasyiyah bujairimi 3/272 ].
Menurut pendapat yang mu’tamad (terkuat dan terpercaya) aurat wanita dalam penglihatan lelaki lain keseluruhan tubuhnya hingga wajah dan telapak tangannya sehingga haram bagi laki-laki lain melihat sesuatu dari tubuhnya dan wajib bagi wanita menutup tubuhnya dari lelaki lain, sedang menurut pendapat lainnya wajah dan telapaknya boleh terbuka dan juga bagi lelaki lain melihatnya.
و منها : المرأة في العورة لها أحوال : حالة مع الزوج : و لا عورة بينهما و في الفرج وجه و حالة مع الأجانب : و عورتها كل البدن حتى الوجه و الكفين في الأصح و حالة مع المحارم و النساء : و عورتها ما بين السرة و الركبة و حالة في الصلاة :
و عورتها كل البدن إلا الوجه و الكفين و صرح الإمام في النهاية : بأن الذي يجب ستره منها في الخلوة هي العورة الصغرى و هو المستور من عورة الرجل

1.Bersama suami : Tiada batasan aurat baginya saat bersama suami, semua bebas terbuka kecuali bagian FARJI (alat kelamin wanita) yang terjadi perbedaan pendapat di antara Ulama
2.Bersama lelaki lain : Menurut pendapat yang paling shahih seluruh tubuhnya hingga wajah dan kedua telapak tangannya, menurut pendapat yang lain wajah dan telapaknya boleh terbuka
3.Bersama lelaki mahramnya dan sesama wanita : Auratnya diantara pusar dan lutut
4.Di dalam sholat : Seluruh tubuh menjadi auratnya kecuali wajah dan kedua telapak tangannya
5.Saat sendiri : Menurut Imam Romli dalam Kitab Nihaayah al-Muhtaaj aurat wanita saat sendiri adalah 'aurat kecil' yaitu aurat yang wajib ditutup oleh seorang lelaki (antara pusar dan lutut). 
Rujukan Hukum
[ Asybaah wa An-Nadhooir I/410 ].
أمَّا عَوْرَتُهَا خَارِجَ الصَّلَاةِ بِالنِّسْبَةِ لِنَظَرِ الْأَجْنَبِيِّ إلَيْهَا فَهِيَ جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ ، وَلَوْ عِنْدَ أَمْنِ الْفِتْنَةِ ، وَلَوْ رَقِيقَةً فَيَحْرُمُ عَلَى الْأَجْنَبِيِّ أَنْ يَنْظُرَ إلَى شَيْءٍ مِنْ بَدَنِهَا وَلَوْ قُلَامَةَ ظُفْرٍ مُنْفَصِلًا مِنْهَا ، وَالْعِبْرَةُ بِوَقْتِ النَّظَرِ
Sedang auratnya diluar shalat dengan dinisbatkan penglihatan lelaki lain padanya adalah keseluruhan tubuhnya hingga wajah dan kedua telapak tangannya meskipun saat aman dari fitnah dan meskipun ia budak sahaya.
Maka haram bagi lelaki lain melihat sesuatu dari tubuhnya meskipun potongan kuku yang terpisah darinya, sedang yang dipertimbangkan adalah saat melihatnya.
Rujukan Hukum
[ Tuhfah al-Habiib II/172 ].
وبحضرة الأجانب جميع بدنها . وقال الرافعي : يجوز النظر من الأجنبية لوجهها وكفيها من غير شهوة وكذا مذهب المالكية
Auratnya didekat lelaki lain keseluruhan tubuhnya, Imam ar-Rofi’i berkata “Boleh melihat wajah dan telapak tangan wanita lain dengan tanpa disertai syahwat, yang demikian juga merupakan madhab Malikiyyah”. [ Tuhafah al-Habiib II/106 ].
(وإنما حرم نظرهما الخ) أي الوجه والكفين من الحرة ولو بلا شهوة، قال الزيادي في شرح المحرر بعد كلام: وعرف بهذا التقرير أن لها ثلاث عورات عورة في الصلاة وهو ما تقدم، وعورة بالنسبة لنظر الاجانب إليها جميع بدنها حتى الوجه والكفين على المعتمد، وعورة في الخلوة وعند المحارم كعورة الرجل اه.
Sesungguhnya diharamkan melihat wajah dan telapak tangannya meskipun tanpa disertai syahwat, berkata az-Ziyaadi “Dengan demikian dapat disimpulkan auratnya terbagi tiga :
1. Saat shalat yakni seperti keterangan yang telah lewat (seluruh tubuhnya kecualai wajah dan telapak tangannya),
2. Saat dinisbatkan penglihatan lelaki lain yakni keseluruhan tubuhnya hingga wajah dan kedua telapak tangannya menurut pendapat yang mu’tamad
3. Saat bersama mahram serta saat sendiri seperti auratnya orang lai-laki (anggauta antara pusat dan lutut).
Rujukan Hukum
[ Kitab Hawaasyi as-syarwaanyi II/112 ].
رابعتها جميع بدنها حتى قلامة ظفرها وهي عورتها عند الرجال الأجانب فيحرم على الرجل الأجنبي النظر إلى شيء من ذلك ويجب على المرأة ستر ذلك عنه
Auratnya yang keempat adalah keseluruhan tubuhnya hingga potongan kukunya yakni auratnya saat bersama lelaki lain, maka haram bagi laki-laki lain melihat sesuatu daru tubuhnya dan wajib bagi wanita menutup tubuhnya dari lelaki lain. 
Rujukan Hukum
[ Kitab Nihaayah az-Zain I/47 ]
Kesimpulannya:
Perempuan wajib menutupi auratnya menimal jilbab panjang
Bagus kalo pake cadar sehingga lebih aman dari pada fitnah

LARANGAN ADZAN DENGAN SUARA KERAS

Ustadz, bagaimana dengan mentri agama yang melarang adzan keras apa kita harus taat ?
Marwani sholeh pilip 2 pancur

Jawab:
Mentaati pemerintah kalo berlawanan dengan hukum alloh maka perintahnya tidak boleh kita taati
Sebagaimana di sebutkan
لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق
Tidak boleh taat sama makhluq kalo perintahnya bermaksiat kepada alloh
Keputusan Menteri Agama suara adzan tidak boleh keras itu bertentangan dengan Hukum Allah karna adzan itu harus dikeraskan
maka dari itu kita sebagai umat muslim khususnya di Indonesia tidak boleh mentaati keputusan pemerintah dalam masalah ini jadi kita adzan tetap kita keraskan kalau perlu speakernya yang banyak di masjid-masjid
Mungkin mentri agamanya dalam masalah ini beliau ngak pernah belajar bab adzan semoga alloh beri beliau hidayah amin

Rujukan hukum
Kitab Tasyri' Al jana,iy al islami juz 2 halaman 682
التشريع الجنائى الإسلامى الجزء الثانى ص: 675-682 662 –
يشترط لوجود جريمة البغى الخروج على الإمام, والخروج المقصود هو مخالفة الإمام والعمل لخلعه, أو الامتناع عما وجب على الخارجين من حقوق. ويستوى أن تكون هذه الحقوق لله أى مقررة لمصلحة الجماعة, أو للأشخاص أى مقررة لمصلحة الأفراد. فيدخل تحتها كل حق تفرضه الشريعة للحاكم على المحكوم, وكل حق للجماعة على الأفراد, وكل حق للفرد على الفرد, فمن امتنع عن أداء الزكاة فقد امتنع عن حق وجب عليهم ومن امتنع عن تنفيذ حكم متعلق بحق الله كحد الزنا, أو متعلق بحق الأفراد كالقصاص فقد امتنع عن حق وجب عليه ومن امتنع عن طاعة الإمام فقد امتنع عن الحق الذى وجب عليه وهكذا. ولكن من المتفق عليه أن الامتناع عن الطاعة فى معصية ليس بغيا وإنما هو واجب على كل مسلم لأن الطاعة لم تفرض إلا فى معروف ولا تجوز فى معصية فإذا أمر الإمام بما يخالف الشريعة فليس لأحد أن يطيعه فيما أمر إذ الطاعة لا تجب إلا فيما تجيز ه الشريعة. والخروج قد يكون على الإمام وهو رئيس الدولة الأعلى وقد يكون على من ينوب عنه فمن امتنع عن طاعة الإمام فى معصية فليس بغيا لأن حق الأمر واجب الطاعة كلاهما مقيد غير مطلق فليس لآمر أن يأمر بما يخالف الشريعة وليس لمأمور أن يطيعه فيما يخالف الشريعة وذلك ظاهر من قوله تعالى: ( فإن تنازعتم فى شئ فردوه إلى الله والرسول ) ومن قول الرسول صلى الله عليه وسلم ( لا طاعة لمخلوق فى معصية الخالق ) وقوله ( من أمركم من الولاة بغير طاعة الله فلا تطيعوا ) وقوله ( لا طاعة فى معصية الله إنما الطاعة فى المعروف ) وقد احتاط الفقهاء لهذا فى تعريف البغاة. والإمام هو رئيس الدولة الإسلامى الأعلى أو من ينوب عنه من سلطان أو وزير أو حاكم أو غير ذلك من المصطلحات ويعبر بعض الفقهاء عن رئيس الدولة الإسلامية الأعلى بالإمام الذى ليس فوقه إمام, وعمن دونه بالإمام مطلقا إذا كان مستقلا بجزء من الدولة الإسلامية وبنائب الإمام إذا كان ينوب عن الإمام الأعظم. – إلى أن قال – ومع أن العدالة شرط من شروط الإمامة إلا أن الرأى الراجحة فى المذهب الأربعة ومذهب الشيعة الزيدية هو تحريم الخروج على الإمام الفاسق الفاجر ولو كان الخروج للأمر بالمعروف والنهى عن المنكر. لأن الخروج على الإمام يؤدى عادة إلى ما هو أنكر مما فيه وبهذا يمتنع النهى عن المنكر لأن من شرطه أن لا يؤدى الإنكار إلى ما هو أنكر من ذلك, إلى الفتن وسفك الدماء وبث الفساد واضطراب البلاد وإضلال العباد وتوهين الأمن وهدم النظام. وإذا كانت القاعدة أن للأمة خلع الإمام وعزله بسبب يوجبه كالفسق إلا أنهم يرون أن لا يعزل إذا استلزم العزل فتنة. وأما الرأى المرجوح فيرى أصحابه أن للأمة خلع وعزل الإمام بسبب يوجبه وأنه ينعزل بالفسق والظلم وتعطيل الحقوق فإذا وجد من الإمام ما يوجب اختلال أموال المسلمين وانتكاس أمور الدين كان للأمة خلعه كما كان لهم تنصيبه لانتظام شؤون الأمة وإعلائها ويرى بعض هذا الفريق أنه إذا أدى الخلع لفتنة احتمل أدنى الضررين.
===============
وعبارة المنهج مخالفو إمام قال في شرحه ولو جائرا ومثله الشيخ الخطيب فتجب طاعة الإمام ولوجائرا فيما لا يخالف الشرع من أمر أو نهي بخلاف ما يخالف الشرع لأنه لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق كما في الحديث وفي شرح مسلم يحرم الخروج على الإمام الجائر إجماعا.
الباجوري٢/٢٥٢
Wajib taat kepada imam walaupun imam tersebut dzolim selama perintah dan larangannya tidak menyelisihi syara', aturan jika menyelisihi syara' aturan Alloh seprti keputusan mentri agama tentang adzan maka tiada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada kholiq(alloh) sebagaimana dalam hadis shohih muslim "
لا طاعة لمخلوق في معصية الخالق

Selasa, 25 September 2018

HUKUM MENGGANTI NAMA

PERTANYAAN :
Assalamu'alaikum. Numpang tanya pak ustadz : Apabila orang tua memberi nama anaknya, setelah anak dewasa baru tahu nama itu dirasa kurang bagus / kurang tepat menurut syariat bolehkah merubahnya ?? misalnya Nama nya Mulyono paijo atau sumanto atau bahkan ada orang jawa namanay teletong(kotoran sapi)
DLL

JAWABAN :
Wa alaikumus salam.
Jika seseorang diberi nama dengn nama-nama yang jelas-jelas diharamkan seperti : 'abdul ka'bah, atau seperti Namanya Tuhan atau seperti namanya Syaiton dll Maka merubahnya hukumnya wajib.

RUJUKAN HUKUM
Lihat Kitab Hasiyyah bajuri 2/305 :
و یجب تغییر الاسم الحرام علی الاقرب لانه من ازاله المنکر و ان تردد الرحمانی فی وجوبه و ندبه

* Hukum mengganti nama adalah mubah/boleh, bahkan sunah mengganti nama yang jelek menjadi nama yang bagus :
الموسوئة فقهية الجزء الحادى عشر ص: 337
” تغيير الإسم و تحسنه” 15- يجوز تغيير الإسم عموما ويسنّ تحسينه, فقدأخرج أبو داود فى سننه عن أبي الدرداء رضي الله عنه قال: (5) قال رسو ل الله صّلعم:
إنّكم تدعون يوم القيامة بأسمائكم وأسماء أبائكم فأحسنوا أسماءكم وأخرج مسلم في صحيحه عن إبن عمر رضي الله عنهم: إنّ ابنة لعمر رضي الله عنه كانت يقال لها: إلى أن قال……. وقد {غير النبي صلى الله عليه وسلم الاسم الذي يدل على التزكية إلى غيره فقد غير اسم برة إلى جويرية أو زينب}. (15)
وقال أبو داود: {وغير النبي صلى الله عليه وسلم اسم العاص وعزيز وعتلة وشيطان والحكم وغراب وحباب وشهاب فسماه: هشاما وسمى حربا: سلما وسمى المضطجع: المنبعث وأرضا تسمى عفرة سماها: خضرة وشعب الضلالة سماه: شعب الهدى وبنو الزنية سماهم: بني الرشدة وسمى بني مغوية: بني رشدة }. هذا والفقهاء لايختلفون في جواز تغيير الإسم إلى إسم أخر وفى أنّ تغيير الإسم القبيح إلى الحسن هو من الأمور المطلوبة الّتي عليها ألشرع. وأجاز الحنابلة التّسميّة بأكثر من إسم. إه

* Makruh mempunyai nama nama yang buruk tapi tidak berdosa, dan sunnah mengganti nama buruk tersebut.
(18) مغني المحتاج الجزء الرابع ص:371 المؤلف:الشيخ شمس الدين، محمد بن أحمد الخطيب الشربيني الشافعي (المتوفى: 977هـ)
وتكره الأسماء القبيحة كالشيطان والظالم والشهاب وحمار وكليب وما يتطير بنفيه عادة كنجيح وبركة (6) لخبر لا تسمين غلامك أفلح ولا نجيحا ولا يسارا ولا رباحا فإنك إذا قلت أثم هو ؟ قال لا ويسن أن تغير الأسماء القبيحة وما يتطير بنفيه (7) لخبر مسلم أنه صلى الله عليه وسلم غير إسم عاصية وقال أنت جميلة.

* Sunnah hukumnya mengganti nama yang buruk atau tidak disukai menjadi nama yang baik.
شرح النووي على مسلم الجزء السابع صحـ 261
حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا الحسن بن موسى حدثنا حماد بن سلمة عن عبيد الله عن نافع عن ابن عمر أن ابنة لعمر كانت يقال لها عاصية فسماها رسول الله صلى الله عليه وسلم جميلة قوله أن ابنة لعمر كان يقال لها عاصية فسماها رسول الله صلى الله عليه وسلم جميلة .
وفي الحديث الآخر ( كانت جويرية اسمها برة فحول رسول الله صلى الله عليه وسلم اسمها جويرية وكان يكره أن يقال خرج من عند برة ) وذكر في الحديثين الآخرين أن النبي صلى الله عليه وسلم غير اسم برة بنت أبي سلمة وبرة بنت جحش فسماهما زينب وزينب وقال ( لا تزكوا أنفسكم الله أعلم بأهل البر منكم ) معنى هذه الأحاديث تغيير الاسم القبيح أو المكروه إلى حسن وقد ثبت أحاديث بتغييره صلى الله عليه وسلم أسماء جماعة كثيرين من الصحابة وقد بين صلى الله عليه وسلم العلة في النوعين وما في معناهما وهي التزكية أو خوف التطير

HUKUM POSISI TIDUR KAKI KE ARAH KIBLAT

Pak ustadz, bagaimana Hukum tidur dengan posisi kepala di arah timur, dan kaki di posisi kiblat (barat)

JAWABAN :
Wa'alaykum salaam,
tidur dengan posisi kepala di arah timur dan kaki di posisi kiblat (barat) hukumnya makruh,

sebagaimana keterangan kitab Tabyiin al-Haqaaiq II/299 :
وَيُكْرَهُ مَدُّ الرِّجْلِ إلَى الْقِبْلَةِ وَإِلَى الْمُصْحَفِ وَإِلَى كُتُبِ الْفِقْهِ فِي النَّوْمِ وَغَيْرِهِ .
“Dan dimakruhkan menjulurkan kaki kearah kiblat, mushaf, kitab-kitab brisi ilmu-ilmu fiqh baik sewaktu tidur atau lainnya”.

Rujukan Hukum
- Kitab Hasyiyah al-jamal IX/179 :
بَلْ صَرَّحَ الزَّرْكَشِيُّ بِحُرْمَةِ مَدِّ الرِّجْلِ لِلْمُصْحَفِ ، فَقَدْ يُقَالُ إنَّ الْكَعْبَةَ مِثْلُهُ لَكِنْ الْفَرْقُ أَوْجَهُ انْتَهَتْ .
“Bahkan az-Zarkasyi menegaskan akan keharaman menjulurkan kaki pada mushaf, ada pendapat yang menyatakan menjulurkan kaki kearah ka’bah juga sama, namun perbedaan hukum antara keduanya lebih kuat”.

- Kitab Al-Aadaab as-Syar’iyyah III/395 :
ذكر غير واحد من الحنفية رحمهم الله أنه يكره مد الرجلين إلى القبلة في النوم وغيره وهذا إن أرادوا به عند الكعبة زادها الله شرفا فمسلم وإن أرادوا مطلقا كما هو ظاهر فالكراهة تستدعي دليلا شرعيا وقد ثبت في الجملة استحبابه أو جوازه كما هو في حق الميت قال في المفيد من كتبهم ولا يمد رجليه يعني في المسجد لأن في ذلك إهانة به ولم أجد أصحابنا ذكروا هذا ولعل تركه أولى ولعل ما ذكره الحنفية رحمهم الله من حكم هاتين المسألتين قياس كراهة الامام احمد رحمه الله الاستناد إلى القبلة كما سبق فإن هاتين المسألتين في معنى ذلك