BATASAN-BATASAN LELAKI DAN WANITA

Mengaji kitab 'Uquudu Lujjain (الفَصْلُ الأَوَّلُ: فِيْ) بيان (حُقُوْقِ الزَوْجَةِ) الواجبة (عَلَى الزَوْج) وهي حُسْن العِشْرة، ومؤْنة...

Senin, 08 Oktober 2018

HUKUM SHOLAT DI RUMAH

PERTANYAAN :
Apa hukumnya sholat 5 waktu di rumah bagi kaum laki2 dewasa?
Jemaah pengajian di babat supat

Jawab:
Sholat di rumah boleh dan sah asal memenuhi syarat dan rukun nya sholat TAPI RUGI........BESAR
sebab dia akan terhalang dari kebaikan yang banyak

-*Bukti hormat dan cinta-nya seorang Hamba kepada Nabi-nya adalah menghidup sunnah-Sunnah Nabinya
-*Sunnah Nabi Saw yang pokok dan terbesar adalah mengerjakan shalat fardu berjemaah di masjid di tempat adzan berkumandang
-*Shalat Fardlu dengan berjamaah di tempat adzan dikumandangkan (masjid), adalah cara shalat-nya Rasulullah Saw.
-*Baginda Rasulullah Saw. tidak pernah shalat di rumah kecuali shalat-shalat sunnah. Bahkan, meskipun dalam keadaan sakitnya yang parah, beliau tetap berangkat ke masjid untuk menunaikan berjamaah shalat fardlu, beliau berjalan dipapah oleh dua orang sahabat, kemudian didudukan dalam shof, ketika itu yang mengimami shalat adalah Abu Bakar As-Sidiq R.a.
-*Demikian pula ada sahabat yang buta, diperintahkan oleh Rasululllah Saw. untuk menjawab panggilan adzan dengan mendatangi masjid untuk shalat fardlu dengan cara berjamaah.
-*Pokok nya kalo ngak mau rugi jangan sholat di rumah

Sholat di masjid berjemaah pasti untung dan berpahala besar dan ada kemiripan dengan sholat nabi di mana beliau ngak pernah sholat fardu kecuali di masjid sebgaimana keterangan di atas
Belum lagi pahala langkah kaki menuju masjid alloh tulis 3 perkara
1. Ditulis 1 kebaikan
2.Di hapus 1 ke salahan
3. DI NAIKKAN 1 DERAJAT

Maka semakin banyak langkah-langkah kaki kita maka semakin bnyak pula pahalanya
Dan masih banyak lagi nilai positifnya
Dan orang yang menjaga sholat 5 WAKTU berjemaah di masjid akan di beri 5 jaminan
1.Berkah Rizqinya
2.selamat dari siksa kubur
3.menerima buku catatan amal melalui tangan kanan
4.menyeberang sirot secepat kilat
5. Masuk surga tampa hisab

Udah lah mulai hari ini buatlah keputusan bahwa akan sholat berjemaah di masjid sampai MATI
Udah cukup sekian

HUKUM MENANAM MODAL DENGAN PROSENTASE JUMLAH MODAL

Assalamualaikum Ustad, mau tanya.
Seandainya ada kawan yg mengajak utk menginfestasikan uang utk modal usaha sebesar 100 juta. Dengan perjanjian setiap bulan saya dapat untung atau bagi hasil 15 persen atau 15 juta setiap bulannya. Sampai selama uang yg 100 juta itu saya ambil atau dikembalikan.
Apakah itu termasuk riba.?
Jazakalloh..
Siddid jarood pinang mas

JAWAB:
Ia Riba
Berdasarkan hadis nabi
كل قرض جر منفعة فهو ربا
Setiap utang piutang yang menarik adanya mandaat maka hukumnya Riba
investasi yang menjanjikan hasil yang tetap dalam jangka waktu tertentu tanpa menanggung risiko apa pun cukup menggiurkan. Sebagaimana keadaan pada pertanyaan di atas

Hal ini tentu saja menimbulkan potensi ketidakadilan dan kezaliman, dimana pengusaha harus membayar kepada para investor walaupun sedang mengalami kerugian dalam usahanya.
Sebaliknya, investor harus rela menerima bagian yang sudah disepakati walaupun keuntungan yang didapat oleh pengusaha berkali lipat jumlahnya. Namun demikian, perlu dipahami dengan baik, bahwa ketidakadilan bukan satu-satunya penentu halal dan haram dalam persoalan riba. Karena walaupun kedua pihak (investor dan pengusaha) menyatakan suka rela, tetap tidak membuat hal itu menjadi halal.

Kontrak investasi dalam Islam dikategorikan sebagai kontrak amanah, yaitu kedua pihak dihukumkan sebagai rekan bisnis yang saling membantu (pembagian untung dan rugi) berdasarkan modal dari keduanya atau kita kenal dengan musyarakah. Artinya, tidak ada pihak yang menjadi penjamin atas pihak yang lainnya.
“Investasi apa pun yang menjadikan pihak pengusaha (mudharib) memberikan keuntungan dengan kadar tertentu kepada investor, maka hal itu adalah haram.
Sebagaimana pertanyaan di atas

Karena sifat investasi telah berubah menjadi elemen pinjaman dengan janji keuntungan maka hukumnya riba”.
كل قرض جر منفعة فهو ربا
Kaidah mendasar dalam sebuah investasi, sepertimana yang dimuat dalam kitab Al-Qawaid Al-Fiqhiyyah menyatakan: “bahwa keuntungan adalah melalui menanggung risiko yang ada”.

Dalam kaidah yang lain: “Siapa saja yang hendak mendapatkan manfaat dari sesuatu, maka harus baginya menanggung risikonya”
Kesimpulannya, investasi apapun bentuknya dalam Islam mewajibkan bahwa kerugian dan keuntungan hendaknya menjadi tanggung jawab dan hak kedua pihak. Kecuali apabila salah satu pihak dengan sengaja membatalkan kesepakatan yang ada dan menimbulkan kerugian kepada salah satu pihak.

Wallahu a’lam.

HUKUM DALAM PERTANDINGAN UFC MMA

Assalamualaikum
Tanya ustdz.
Saya seorang petarung di ring suatu ketika saya menang musuh kalah dan tak lama musuh mati karena mungkin dahsyatnya pukulan saya terhadapnya
Pertanyaan: apakah saya dibukumi membunuh dan siapakah yg berdosa sedang pertandingan ini resmi contoh tinju MMA gulat dll?
H Mulyadi Al Fidaus perumnas

JAWAB:
Waalaikumussalam
Dari sekian macam cabang permainan dan olah raga yang ada, dapat dibagi menjadi dua:
1. Sarana / alat untuk berperang seperti: pacuan kuda, unta, gajah (musabaqoh) dan memanah, menembak (munadlolah) dll. Hukum mengikutinya sunat baik ada janji iwadl atau tidak.

2. Bukan sebagai sarana/alat untuk berperang seperti.
Yang kedua ini dapat dikelompokkan menjadi 4 :
a.Permainan yang membahayakan seperti tinju, panjat tebing, gulat, akrobat (sircus), terjun payung, pencak silat, tinju, matador dan sebagainya. Hukum mengikuti permainan ini boleh selama ada penyangkaan kuat akan keselamatan sang pemain dan tidak ada perjanjian iwadl.

b.Permainan yang mengandalkan kepandaian otak seperti catur. Permainan ini boleh selama tidak menjadikan lalai meninggalkan sholat dan tanpa ada iwadl.

c.Permainan yang mengandalkan keberuntungan semata seperti dadu, domino, remi, yang hukum mengikutinya mutlaq haram.

d.Permainan yang menggunakan hewan. Dan permainan ini mungkin terjadi :
1.Menyakitkan hewan seperti: adu domba, kerapan sapi (sesuai kabar yang diterima), sambung ayam dll. Hukum permainan haram mutlaq.
2.Tidak menyakitkan hewan seperti adu suara burung (manggung)i dll. Permainan ini boleh bila tanpa iwadl.

Olahraga gulat diperbolehkan selama tidak ada iwadl dalam perjanjian akad, kecuali bila mengikuti ulama’ yang mengatakan boleh mengeluarkan iwadl dengan melihat dari lahiriyah hadits kisah Rasulallah yang melakukan gulat dengan Rukanah yang menjanjikan iwadl.

Adapun tinju yang notabene-nya membahayakan seperti memukul kepala, juga diperbolehkan selama ada penyangkaan kuat akan keselamatan seperti pemain memakai helm pengaman, tidak menimbulkan permusuhan dan tidak ada perjanjian iwadl.
Kemudian Setiap sebab pastilah akan menimbulkan akibat (musabbab), baik akibat tersebut menjadi tujuan atau tidak.

Dalam permainan gulat dan tinju misalnya, hal-hal yang tidak diinginkan sangat mungkin terjadi, seperti retak tulang dan nyawa melayang.
Dan dalam hal ini tentu cedera atau kematian tersebut biasanya dilakukan oleh lawan main. Oleh karenanya, fiqh secara tegas menuntut tanggung jawab dari pemain lawan tersebut dengan harus membayar diyat atau qishos sesuai dengan unsur sengaja atau tidaknya (khotho’), lantaran antar pemain tidak memberi izin secara lisan kepada lawannya akan adanya akibat buruk yang akan menimpa.

Maroji' Rujukan Hukum
البجيرمي على الخطيب: 4/294
تنبيه: يحل اصطياد الحية من الحاذق في صنعته – إلى أن قال – ويؤخذ من كلامه أيضا حل أنواع اللعب الخطرة من الحاذق بها أي كالبهلوان حيث غلب على ظنه سلامته وإذا مات يموت شهيدا ويحل التفرج عليه حيث جازت وإلا فلا.

(الجمل: 5/280)
ومع كونه حلالا إذا مات فاعله يكون عاصيا إذ الشرط سلامة العاقبة ومنه المسمى بالبهلوان ولا عبرة بظن يتبين خطؤه ويحل التفرج على ذلك حينئذ
.
ألشرقاوي : 2 / 424
وكذا لعب البهلوان وكل أنواع اللعب الخطرة كالحكم فتجوز من الحاذق العارف بها حيث خلت عن الخصام المعروف عند اهلها وغلبت السلامة
.
الباجوري: 2/306-307
الأصل بالمسابقة وتصح المسابقة على الدواب أي على ما هو الأصل قوله وتصح المسابقة أي بعوض وغيره على تفصيل يأتي بالعوض كما سيذكره المصنف وسيدخل عليه الشارح بقوله واعلم أن عوض المسابقة الخ. وقوله على الدواب أي التي تنقع في القتال –إلى أن قال- وبينه بالأنواع الخمسة فلا تجوز المسابقة على غيرها الخ.

(نهاية المحتاج : 6 / 191)
قلت : ألأصح التحريم كهو ) أي كنظره ( إليها و الله أعلم )_ إلى ان قال _ وليس في حديث عائشة أنها نظرت وجوههم وابدانهم وإنما نظرت لعبهم وحرابهم , ولا يلزمه تعمدنظر البدنوإن وقعت من غير قصد صرفته حالا.

(غسعاد الرفيق : 99
(و)منها ( الضرب) لمسلم أو ذمي (بغير حق)أي مسوغ شرعي _ إلى ان قال _ وقال عليه الصلاة والسلام : إن الله يعذر الذين يعذبون الناس في الدنيا: وفي رواية يعذبون وهي اعم من تعذيب الناس وغيرهم . وقال عليه الصلاة والسلام : لا يقف أحدكم موقفا يضرب فيه رجلا فإن لعنة الله تنزل على من حضره حيث لم يدفعوا عنه .

(إعانة الطالبين : 4/ 120)
(فرع) لو تصارعا مثلا ضمن بقود أو دية كل منهما ما تولد في الأخر من الصراعة لأن كلا لم يأذن فيما يؤدي الى نحو قتل او تلف عضو قال شيخنا ويظهر انه لا اثر لا عتياد ان لا مطالبة في ذلك بل لا بد في انتفائها من صريح الإذن .

Dalam tinju yang resmi wasit adalah sebuah keharusan. Wasitlah yang akan memimpin jalannya pertandingan sebagai sang pengadil lapangan.
Wasit dalam kaca mata fiqh bisa berstatus muhakkam apabila diangkat secara lisan oleh kedua belah pihak yang akan bertanding. Dan jika tidak diangkat oleh kedua pihak seperti ketika pertandingan diatur dan dijadwal oleh panitia atau organisasi yang mengurusi olahraga maka wasit hanya berstatus sebagai rais atau mudir yang diberi hak mengatur semua yang ada dalam lika-liku pertandingan, mulai dari memberi peringatan sampai menentukan sah dan tidaknya

Moroji' Rujukan Hukum
(البجيرمي على الخطيب : 5/272)
ويندب أن يكون عند الغرض شاهدان على ما وقع من إصابة أو خطأ وليس لهما أن يمدح المصيب ولا أن يضم المخطأ لن ذلك يحل بالنشاط ويمنع أحدهما من أذية صاحبه بالتبجح والفخر عليه

(قليوبي وعميرة : 4/270)
فرع: يندب حضور شاهدين عند الغرض يشهد على المصيب والمخطئ ويطلب منهما عدم مدح الأول وعدم ذم الثاني.

(الأدب النبوي: 96)
أولو الأمر هم الذين وكل إليهم القيام بالشؤن العامة , والمصالح المهمة فيدخل فيهم كل من ولى أمرا من أمور المسلمين من ملك ووزير ورئيس ومدير ومأمور وعمدة وقاض ونائب وضابط وجندي وقد أوجب الرسول صلى الله عليه وسلم السمع لأوامر هؤلاء والمبادرة إلى تنفيذها سواء كانت محبوبة له أم بغيضة إليه .

(الأدب النبوي : 205)
الشرح: الرعية أمانة في يد الراعي يجب عليه القيام بحفظها وحسن التعهد لها والعمل لمصلحتها ممن ولاه الله شؤون الخلق من ملك وأمير ورئيس ووزير ومدير ومأمور –إلى أن قال- يجب عليه أن يحوطهم بنسخه –إلى أن قال- فليكن لنفوسهم واقيا ومالهم راعيا ولعرضهم ضائنا ويضرب على أيدي المفسدين بيد من حديد لا يحركها إلا التربية والتأديب .
Sekian semoga bisa di Fahami

HUKUM MENGULANGI SHOLAT FARDHU

PERTANYAAN :
Bagaimna Hukumnya orang yang shalat fardhu' ain lebih dari satu kali, misalnya seseorang yang telah melaksanakan shalat zuhur di rumah sendirian, kemudian dia melihat orang shalat zuhur berjama'ah, lalu dia mengikutinya ?

JAWABAN :
Disunnahkan mengulang shalat fardhu dengan syarat :
1. Masih dalam waktunya
2. Tidak lebih dari satu kali
Niat shalat iadah adalah niat fardu (niat mengulangi shalat fardhu) dan menurut imam haramain niatnya adalah niat duhur atau ashar tanpa menyinggung fardhunya,
shalat yang fardhu tetap shalat yang pertama, sdengan shalat iadah berstatus sebagai shalat sunnah.

Maroji' Rujukan Hukum
Kitab Fathul mu'in Hamisy I'aanatutthalibin 2/6
Ini dalil shalat iadah : Kanjeng nabi saw melaksanakan shalat subuh di masjid lantas beliau melihat dua orang tidak shalat jamaah, nabi saw menanyakan mereka : "mengapa kalian tidak ikut shalat ?" mereka menjawab :"kami sudah shalat di rumah kami" nabi saw bersabda :"ketika kalian sudah shalat di rumah kalian kemudian kalian ke masjid dan menemukan jamaah maka shalatlah dengan mereka, dan shalat tersebut menjadi nafilah/sunnah bagi kalian".
I'anatutthalibin 2/5

-Kitab Fathul mu'in Hamisy I'aanatutthalibin 2/6 :
و تسن إعادة المكتوبة بشرط أن تكون في الوقت و أن لا تزاد في إعادتها على مرة خلافا لشيخ شيوخنا أبي الحسن البكري رحمه الله تعالى و لو صليت الأولى جماعة مع آخر و لو واحدا إماما كان أو مأموما في الأولى أو الثانية بنية فرض و إن وقعت نفلا فينوي إعادة الصلاة المفروضة و اختار الإمام أن ينوي الظهر أو العصر مثلا و لا يتعرض للفرض و رجحه في الروضة لكن الأول مرجحح الأكثرين و الفرض الأولى ~فتح المعين هامش إعانة الطالبين ٢/٦

- I'anatutthalibin 2/5 :
‎(قوله و تسن إعادة إلخ) أي لأنه صلى الله عليه و سلم صلى الصبح فرأى رجلين لم يصليا معه فقال ما منعكمن أن تصليا معنا قال صلينا في رحالنا فقال إذا صليتما في رحالكما ثم أتيتما مسجد جماعة فصلياها معهم فإنها لكما نافلة~
إعانة الطالبين ٢/٥

KETIKA TERLAMBAT SHOLAT JUM'AT

PERTANYAAN :
Assalamu'alaikum. Ketika datang ke masjid pada hari jum'at khutbah telah dimulai. Pertanyaannya : Manakah yang lebih baik shalat tahiyatul masjid dulu kemudian mendengar khutbah atau langsung duduk mendengar khutbah ?
Hamba alloh mohon bimbingan nya

JAWABAN :
Wa'alaikumussalam. Sholat tahiyyatul masjid saat khotib sedang berkhutbah hukumnya tetap SUNNAH, akan tetapi WAJIB dilakukan secara cepat ( yaitu dicukupkan melakukan kewajiban-kewajibannya dalam sholat ).
Atau jika belum sholat qobliyah jum'at maka juga disunahkan melakukannya dua rokaat pada saat khutbah dan otomatis sudah dapat pahalanya sholat tahiyyatul masjid dengan dua rokaat qobliyyah tersebut.

Maroji' Rujukan Hukum
- kitab Asnal Matholib :
اسنى المطالب ١- ص ٢٥٨
(وَالدَّاخِلُ) لِلْمَسْجِدِ وَالْخَطِيبُ عَلَى الْمِنْبَرِ (لَا فِي آخِرِ الْخُطْبَةِ يُصَلِّيَ التَّحِيَّةَ) نَدْبًا (مُخَفَّفَةً) وُجُوبًا لِمَا مَرَّ فِي صَلَاةِ التَّطَوُّعِ مَعَ خَبَرِ مُسْلِمٍ «جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالنَّبِيُّ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - يَخْطُبُ فَجَلَسَ فَقَالَ يَا سُلَيْكُ قُمْ فَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا ثُمَّ قَالَ إذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا» هَذَا (إنْ صَلَّى السُّنَّةَ) أَيْ سُنَّةَ الْجُمُعَةِ (وَإِلَّا صَلَّاهَا كَذَلِكَ) أَيْ مُخَفَّفَةً وَحَصَلَتْ التَّحِيَّةُ وَلَا يَزِيدُ عَلَى رَكْعَتَيْنِ بِكُلِّ حَالٍ أَمَّا إذَا دَخَلَ فِي آخِرِ الْخُطْبَةِ فَلَا يُصَلِّي لِئَلَّا يَفُوتَهُ أَوَّلُ الْجُمُعَةِ مَعَ الْإِمَامِ قَالَ فِي الْمَجْمُوعِ، وَهَذَا مَحْمُولٌ عَلَى تَفْصِيلٍ ذَكَرَهُ الْمُحَقِّقُونَ مِنْ أَنَّهُ إنْ غَلَبَ عَلَى ظَنِّهِ أَنَّهُ إنْ صَلَّاهَا فَاتَتْهُ تَكْبِيرَةُ الْإِحْرَامِ مَعَ الْإِمَامِ لَمْ يُصَلِّ التَّحِيَّةَ بَلْ يَقِفُ حَتَّى تُقَامَ الصَّلَاةُ وَلَا يَعْقِدَ لِئَلَّا يَكُونَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ قَبْلَ التَّحِيَّةِ قَالَ ابْنُ الرِّفْعَةِ وَلَوْ صَلَّاهَا فِي هَذِهِ الْحَالَةِ اُسْتُحِبَّ لِلْإِمَامِ أَنْ يَزِيدَ فِي كَلَامِ الْخُطْبَةِ بِقَدْرِ مَا يُكْمِلُهَا وَمَا قَالَهُ نَصَّ عَلَيْهِ فِي الْأُمِّ ثُمَّ قَالَ فَإِنْ لَمْ يَفْعَلْ الْإِمَامُ ذَلِكَ كَرِهْته لَهُ فَإِنْ صَلَّاهَا وَقَدْ أُقِيمَتْ الصَّلَاةُ كَرِهْت ذَلِكَ لَهُ قَالَ الزَّرْكَشِيُّ وَالْمُرَادُ بِالتَّخْفِيفِ فِيمَا ذُكِرَ الِاقْتِصَارُ عَلَى الْوَاجِبَاتِ لَا الْإِسْرَاعُ قَالَ وَيَدُلُّ لَهُ مَا ذَكَرُوهُ مِنْ أَنَّهُ إذَا ضَاقَ الْوَقْتُ وَأَرَادَ الْوُضُوءَ اقْتَصَرَ عَلَى الْوَاجِبَاتِ

- kitab Syarah Muslim :
وَفِي رِوَايَةٍ قَالَ جَاءَ سُلَيْكٌ الْغَطَفَانِيُّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْطُبُ فَجَلَسَ فَقَالَ يَا سُلَيْكُ قُمْ وَارْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَتَجَوَّزْ فِيهِمَا ثُمَّ قَالَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا هَذِهِ الْأَحَادِيثُ كُلُّهَا صَرِيحَةٌ فِي الدَّلَالَةِ لِمَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَاقَ وَفُقَهَاءِ الْمُحَدِّثِينَ أَنَّهُ إِذَا دَخَلَ الْجَامِعَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ اسْتُحِبَّ لَهُ أَنْ يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ وَيُكْرَهُ الْجُلُوسُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَهُمَا وَأَنَّهُ يُسْتَحَبُّ أَنْ يَتَجَوَّزَ فِيهِمَا لِيَسْمَعَ بَعْدَهُمَا الْخُطْبَةَ وَحُكِيَ هَذَا الْمَذْهَبُ أَيْضًا عَنِ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَغَيْرِهِ مِنَ الْمُتَقَدِّمِينَ قَالَ الْقَاضِي وَقَالَ مَالِكٌ وَاللَّيْثُ وَأَبُو حَنِيفَةَ وَالثَّوْرِيُّ وَجُمْهُورُ السَّلَفِ مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ لَا يُصَلِّيهِمَا وَهُوَ مَرْوِيٌّ عَنْ عُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَحُجَّتُهُمُ الْأَمْرُ بِالْإِنْصَاتِ لِلْإِمَامِ وَتَأَوَّلُوا هَذِهِ الْأَحَادِيثَ أَنَّهُ كَانَ عُرْيَانًا فَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْقِيَامِ لِيَرَاهُ النَّاسُ وَيَتَصَدَّقُوا عَلَيْهِ وَهَذَا تَأْوِيلٌ بَاطِلٌ يَرُدُّهُ صَرِيحُ قَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ وَلْيَتَجَوَّزْ فِيهِمَا وَهَذَا نَصٌّ لَا يَتَطَرَّقُ إِلَيْهِ تَأْوِيلٌ وَلَا أَظُنُّ عَالِمًا يَبْلُغُهُ هَذَا اللَّفْظُ صَحِيحًا فَيُخَالِفُهُ وَفِي هَذِهِ الْأَحَادِيثِ أَيْضًا جَوَازُ الْكَلَامِ فِي الْخُطْبَةِ لِحَاجَةٍ وَفِيهَا جَوَازُهُ لِلْخَطِيبِ وَغَيْرِهِ وَفِيهَا الْأَمْرُ بِالْمَعْرُوفِ وَالْإِرْشَادُ إِلَى الْمَصَالِحِ فِي كُلِّ حَالٍ وَمَوْطِنٍ وَفِيهَا أَنَّ تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ رَكْعَتَانِ وَأَنَّ نَوَافِلَ النَّهَارِ رَكْعَتَانِ وَأَنَّ تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ لَا تَفُوتُ بِالْجُلُوسِ فِي حَقِّ جَاهِلِ حُكْمِهَا وَقَدْ أَطْلَقَ أَصْحَابُنَا فَوَاتَهَا بِالْجُلُوسِ وَهُوَ مَحْمُولٌ عَلَى الْعَالِمِ بِأَنَّهَا سُنَّةٌ أَمَّا الْجَاهِلُ فَيَتَدَارَكُهَا عَلَى قُرْبٍ لِهَذَا الْحَدِيثِ وَالْمُسْتَنْبَطُ مِنْ هَذِهِ الْأَحَادِيثِ أَنَّ تَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ لَا تُتْرَكُ فِي أَوْقَاتِ النَّهْيِ عَنِ الصَّلَاةِ وَأَنَّهَا ذَاتُ سَبَبٍ تُبَاحُ فِي كُلِّ وَقْتٍ وَيَلْحَقُ بِهَا كُلُّ ذَوَاتِ الْأَسْبَابِ كَقَضَاءِ الفائتة وَنَحْوِهَا لِأَنَّهَا لَوْ سَقَطَتْ فِي حَالٍ لَكَانَ هَذَا الْحَالُ أَوْلَى بِهَا فَإِنَّهُ مَأْمُورٌ بِاسْتِمَاعِ الْخُطْبَةِ فَلَمَّا تُرِكَ لَهَا اسْتِمَاعُ الْخُطْبَةِ وَقَطَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَهَا الْخُطْبَةَ وَأَمَرَهُ بِهَا بَعْدَ أَنْ قَعَدَ وَكَانَ هَذَا الْجَالِسُ جَاهِلًا حُكْمَهَا دَلَّ عَلَى تَأَكُّدِهَا وَأَنَّهَا لَا تُتْرَكُ بِحَالٍ وَلَا فِي وَقْتٍ مِنَ الْأَوْقَاتِ وَاللَّهُ أَعْلَمُ

- kitab fathul mu'in :
وتُكرَهُ تحريماً ولو لمن لم تلزمْهُ الجمعة بعد جلوسِ الخطيبِ على المنبرِ: وإنْ لم يَسمَعِ الخطبة صلاةُ فرضٍ، ولو فائتَةٍ تَذَكَّرها الآن، وإن لزِمَتْه فوراً، أو نَفْلٍ، ولو في حال الدّعاء للسلطان. والأوْجَه أنها لا تنعقِدُ كالصّلاة بالوقتِ المكروهِ، بل أَوْلى. ويَجِبُ على من بِصلاةٍ تخفيفُها، بأن يقتصِر على أقلّ مجزِىءٍ عند جلوسِهِ على المِنبَرِ.

- kitab i'anah :
(قوله: أو نفل) بالجر، معطوف على فرض.(قوله: ولو في حال الدعاء) غاية في الكراهة أيضا.(والحاصل) أنها تستمر إلى فراغ الخطبة وتوابعها.(قوله: والاوجه أنها لا تنعقد) عبارة المغنى: وإذا حرمت لم تنعقد - كما قاله البلقيني - لان الوقت ليس لها، وكالصلاة في الاوقات الخمسة المكروهة، بل أولى، للاجماع على تحريمها هنا، كما مر بخلافها ثم.اه.والفرق حينئذ بينها وبين الصلاة في المكان المغصوب - حيث انعقدت مع أنها تحرم -: أن النهي هنا لذات الصلاة، وهناك لامر خارج، وهو شغل ملك الغير من غير إذنه.(قوله: كالصلاة بالوقت المكروه) أي فإنها لا تنعقد فيه.(وقوله: بل أولى) أي بل عدم انعقادها بعد جلوس الخطيب على المنبر أولى من عدم انعقادها فيه، وذلك لاعراضه عما هو مأمور به، وهو الانصات للخطيب.(قوله: يقتصر الخ) تصوير للتخفيف.(وقوله: على أقل مجزئ) هو الاتيان بالواجبات فقط، كما سيصرح به قريبا.المراد بالتخفيف ترك التطويل عرفا، وعبارتها: والمراد بالتخفيف فيما ذكر، الاقتصار على الواجبات.
(قوله: وتكره تحريما) أي كراهة تحريم، فهو منصوب على المفعولية المطلقة على حذف مضاف، وفيه أنه عبر في التحفة بالحرمة، ونصها: ويحرم إجماعا صلاة فرض إلخ. اه.
وبين كراهة التحريم والحرمة فرق، وإن كان كل منهما يقتضي الإثم، وذلك الفرق هو أن كراهة التحريم: ما ثبتت بدليل يحتمل التأويل، والحرمة: ما ثبتت بدليل قطعي. فتنبه.
(قوله: ولو لمن لم تلزمه الجمعة) أي تكره تحريما مطلقا على من لزمته الجمعة وعلى من لم تلزمه، بأن يكون عبدا أو مسافرا، أو امرأة. لكن الكراهة محصورة فيمن لم تطلب منه تحية المسجد. بأن كان جالسا وأراد أن يصلي: (قوله: بعد جلوس الخطيب) أما قبله - ولو بعد صعوده على المنبر - فلا يحرم.
(قوله: وإن لم يسمع الخطبة) غاية في كراهة التحريم. وإنما كرهت تحريما على من لم يسمع لاشتغاله بصورة عبادة، ومن ثم فارقت الصلاة الكلام بأن الاشتغال به لا يعد إعراضا عنه بالكلية، وأيضا فمن شأن المصلي الإعراض عما سوى صلاته، فإنه قد يفوته بها سماع أول الخطبة، بل لو أمن فوات ذلك كان ممتنعا أيضا. وقد يؤخذ من ذلك أن الطواف ليس كالصلاة هنا. ويمنع من سجدة التلاوة والشكر.
إعانة الطالبين ٢ ص ١٠١
وكره لداخل تحية فوتت تكبيرة الاحرام إن صلاها، إلا فلا تكره، بل تسن، لكن يلزمه تخفيفها بأن يقتصر على الواجبات - كما قاله شيخنا -
--
(قوله: وكره) أي تنزيها.
(وقوله: لداخل) أي محل الصلاة.
(وقوله: تحية) نائب فاعل كره.
(وقوله: فوتت تكبيرة الإحرام) أي غلب على ظنه ذلك، بأن دخل والصلاة قد أقيمت أو قرب قيامها، فحينئذ يتركها، ويقف حتى تقام الصلاة، ولا يقعد لئلا يجلس في المسجد قبل التحية.
(قوله: وإلا فلا تكره) أي وإن لم تفوت عليه ذلك، أي لم يغلب على ظنه ذلك، لم تكره.
(قوله: بل تسن) أي التحية بنيتها، وهو الأولى. أو راتبة الجمعة القبلية إن لم يكن صلاها.
وحينئذ الأولى نية التحية معها، فإن أراد الاقتصار فالأولى - فيما يظهر - نية التحية، لأنها تفوت بفواتها بالكلية إذا لم تنو، بخلاف الراتبة القبلية للداخل.
فإن نوى أكثر منهما أو صلاة أخرى بقدرهما لم تنعقد. اه. تحفة.
(قوله: لكن يلزمه تخفيفها) وذلك لخبر مسلم: جاء سليك الغطفاني يوم الجمعة والنبي - صلى الله عليه وسلم - يخطب، فجلس، فقال يا سليك، قم فاركع ركعتين وتجوز فيهما.
ثم قال: إذا جاء أحدكم يوم الجمعة والإمام يخطب فليركع ركعتين وليتجوز فيهما.
وقوله: قم فاركع: إنما أمره بذلك لأنه جلس جاهلا بطلب التحية منه، فلم تفت بذلك

HUKUM BERBICARA DI DALAM WC

PERTANYAAN :
Assalamu alaikum wr wb. Pak ustadz,
Bagaimana hukum buang air besar sambil berbicara dengan teman / melalui hp

JAWABAN :
Waalaikumussalam
Hukumya makruh, berbicara berbicara di wc di saat tersebut
disunnahkan ketika buang air kncing atau air besar untuk tidak bicara.brdasarkan hadis nabi : "janganlah keluar 2 orang untuk buang air besar dengan membuka auratnya serta saling berbicara, sesungguhnya Allah murka dengan perbuatan tersebut". Hadits ini menunjukan kemakruhan berbicara saat buang air kecil ataupun air besar,
[ lihat kifayatul akhyar 1/31 ].

PERLU DIPERHATIKAN BAGI ORANG YANG HOBBY BERAKTIVITAS DI DALAM WC :
-Sesungguhnya meludahi kotoran yang dikeluarkan seseorang akan menimbulkan penyakit was-was (ragu-ragu) dan kuningnya gigi dan pelakunya akan mendapatkan cobaan suatu penyakit (darah)
-orang yang siwakan (sikat gigi) di wc beresiko menjadi pelupa dan buta (hati)
-orang terlalu lama duduk diwc menyebebkan sakit liver dan beser.
-sisi (mengeluarkan Ingus dari hidung) didalam wc menyebabkan tuli (pendengaran berkurang) dan kesusahan.
-Menggerak-gerakkan cincin didalam wc,menyebabkan didatangi syetan
-berbicara didalam Wc selain dhorurot menyebabkan murkanNya Alloh
-membunuh kutu didalam wc menyebabkan datangnya syetan tiap malam selama 40 malam yang akan mengganggu orang tersebut agar tak dzkir (lupa) pada Alloh.

Rujukan Hukum
-Kitab Bughyah Al Mustarsyidiin Hal 26 :
[فائدة]: ورد أن البصاق على الخارج من الشخص يورث الوسواس وصفرة الأسنان ويبتلى فاعله بالدم، والسواك حال الخلاء يورث النسيان والعمى، وطول القعود فيه يورث وجع الكبد والبواسير، والامتخاط يورث الصمم والهم، وتحريك الخاتم يأوي إليه الشيطان، والتكلم بلا ضرورة يورث المقت، وقتل القمل يبيت معه الشيطان أربعين ليلة ينسيه ذكر الله

HUKUM ORANG YANG SHOLAT MASIH MAKSIAT

Pertanyaan:
Bagaimana hukum sholat nya orang yang maksiat (sholat terus maksiat jalan)
Sodara Butet Di Musholla Al Hidayah Babat supat

Jawab:
Wa'alaikumussalam.
Setiap ibadah dan muamalah ketika terpenuhi syarat dan rukunnya, dan tidak melakukan pembatalannya, maka dihukumi SAH. Jika syarat dan rukunnya tidak terpenuhi dan melakukan pembatalannya, maka dihukumi batal dan rusak.
Begitu juga shalat yang dilakukan pezina sekalipun
Untuk soal pahala itu urusan dia dan Allah.

Nabi di laporkan tentang orang yang makseat terus tapi masih sholat juga
Maka nabi bersabda
Bila sholat dia betul maka sholat akan menghentikan perbuatan maksiatnya
الأَحْكَامُ العِلْمِيَّهُ وَ الْعَمَلِيَّهُ لاَ تَتِمُّ إِلاَّ بِأَمْرَيْنِ وُجُودُ شُرُوطِهَا وَ أَرْكَانِهَا وَ انْتِفَاءُ مَوَانِعِهَا
“Semua hukum ilmu dan amal tidak sempurna kecuali dengan dua perkara: terpenuhi syarat dan rukunnya, serta tidak ada penghalangnya.”

العبادة أو المعاملة إذا تحققت شروطها وأركانها وانتفت موانعها عندئذ تكون صحيحة أما إذا لم تتحقق شروطها وأركانها ولم تنتفِ موانعها تكون باطلة فاسدة ،
فإذا تحققت شروطها وأركانها (المعاملة) وانتفت موانعها عندئذ تفيد المقصود منها وتترتب آثارها عليها ، ما هي آثار العبادة ؟ إيش نقصد بآثار العبادة نحن ؟ نريد بالآثار ما شُرعت المعاملة له فالبيع مثلاً شُرع لماذا ؟ لنقل المِلْكية ، النكاح شُرع لماذا ؟ للتلذذ بالمنكوح فإذا ترتَّب على العقد المقصود وذلك بتحقُّق شروطه وأركانه وانتفاء موانعه يكون صحيحاً ، هذه الغاية التي نريد أن نصل إليها ، إذاً كيف تحكم على العبادة أو المعاملة أنها صحيحة ؟ إذا رأيت أن أركانها وشروطها قد تحققت وأن موانعها قد انتفت أما إذا لم يتحقق شرط أو ركنٌ أو وُجد مانع فعندئذ تحكم على العبادة أو على المعاملة بالبطلان ، ومعنى البطلان والفساد واحد ونحن بهذا نكون قد شرحنا معنى الصحة ومعنى الفساد الذي هو البطلان .

Wallahu A'lam.