BATASAN-BATASAN LELAKI DAN WANITA

Mengaji kitab 'Uquudu Lujjain (الفَصْلُ الأَوَّلُ: فِيْ) بيان (حُقُوْقِ الزَوْجَةِ) الواجبة (عَلَى الزَوْج) وهي حُسْن العِشْرة، ومؤْنة...

Senin, 22 Oktober 2018

HUKUM MENGERJAKAN SHOLAT ZUHUR SETELAH SHOLAT JUM'AT

Assalamualaikum Pak Haji ini dari Pak Yanto Jira tanya di desa sebelah kami ada yang melakukan salat Jumat 6 rakaat 2 rakaat salat Jumat empat rakaat dzuhur Bagaimana Pak Haji Apakah itu benar ada dalil yang menentukan demikian pertanyaan saya Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Jawab

praktik salat dhuhur setelah salat jumat? Menurut madzhab Syafi’i yang menjadi rujukan kebanyakan orang Indonesia, bahwa I’adah dhuhur diperbolehkan dilakukan karena bilangan Jum’at tidak terpenuhi dalam sebuah pemukiman. Pendapat ini didasarkan pada keterangan di kitab fathul muin, yang berbunyi:

وسئل البلقيني عن أهل قرية لا يبلغ عددهم أربعين هل يصلون الجمعة أو الظهر فأجاب رحمه الله يصلون الظهر على مذهب الشافعي ، وقد أجاز جمع من العلماء أن يصلوا الجمعة وهو قوي فإذا قلدوا أي جميعهم من قال هذه المقالة فإنهم يصلون الجمعة وإن احتاطوا فصلوا الجمعة ثم الظهر كان حسنا

Redaksi di atas menerangkan bahwa Imam Bulquni ditanya dari penduduk desa mengenai jumlah bilangan salat Jumat tidak mencapai 40 jama’ah. Apakah mereka melaksanakan salat Jum’at atau Dhuhur? Beliau menjawab, laksanakan salat Dhuhur, pendapat ini menurut madzhab Syafi’i.Selain itu, golongan ulama berpendapat untuk melaksanakan salat Jum’at. Namun pengarang kitab Fathul Muin menganjurkan kepada madzhab Syafi’i supaya mengikuti pendapat yang memperbolehkan salat Jum’at dengan bilangan di bawah jumlah 40 orang, kemudian salat dhuhur untuk ihtiyath (sikap kehati-hatian).

Tetapi kata guru saya almarhu syekh uzairon kalo sudah sholat jumat walaupun bilangannya tidak sampai 40 orang sholat jumatnya sah dan tidak perlu mengulai sholat dzuhur karna nanti akan mebingungkan orang awam

Sabtu, 20 Oktober 2018

HUKUM BERSALAMAN SETELAH SHOLAT BERJAMAAH

PERTANYAAN:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Bagaimana Hukum nya salaman habis sholat?

JAWABAN:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Imam Muhyidin an-Nawawi

Beliau berkata :

اَنَّ اْلمُصَا فحَة بَعْدَ الصَّلاة وَدُعَاء المُسْلِمِ لآخِيْهِ اْلمُسْلِمِ بِأنْ يَّتقبَلَ الله مِنهُ صَلاتهُ بِقوْلِهِ (تقبَّلَ الله) لاَ يَخفى مَا فِيْهِمَا مِنْ خَيْرٍ كَبِيْرٍ وَزِيَادَةِ تَعَارُفٍ وَتألُفٍ وَسَبَب لِرِبَطِ القلوْبِ وَاِظهَار للْوَحْدَةِ وَالترَابُطِ بَيْنَ اْلمُسْلِمِينْ.

Artinya : Sesungguhnya mushafahah setelah shalat dan mendoakan saudara muslim supaya shalatnya diterima oleh Allah, dengan ungkapan (semoga Allah menerima shalat anda), adalah di dalamnya terdapat kebaikan yang besar dan menambah kedekatan (antar sesama) dan menjadi sabab eratnya hati dan menampakkan kesatuan antar sesama umat Islam.


Imam al-Thahawi.

تُطْلَبُ اْلمُصَافحَة فَهِيَ سُنَّة عَقِبَ الصَّلاةِ كُلّهَا وَعِندَ كلِّ لَقِيٍّ

Artinya: Bahwa bersalaman setelah shalat adalah sunah dan begitu juga setiap berjumpa dengan sesama Muslim.


عَنِ اْلبَرَّاءِ عَنْ عَازِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إلاَّ غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أنْ يَتَفَرَّقَا

Artinya : Diriwayatkan dari al-Barra’ dari Azib r.a. Rasulallah s.a.w. bersabda, “Tidaklah ada dua orang muslim yang saling bertemu kemudian saling bersalaman kecuali dosa-dosa keduanya diampuni oleh Allah sebelum berpisah.” (H.R. Abu Dawud)

عَنْ سَيِّدِنَا يَزِيْد بِنْ اَسْوَدْ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اَنَّهُ صَلَّى الصُّبْحَ مَعَ النَّبِيُّ صَلَّى الله عَليْهِ وَسَلّمْ. وَقالَ: ثُمَّ ثَارَ النَّاسُ يَأخُذوْنَ بِيَدِهِ يَمْسَحُوْنَ بِهَا وُجُوْهَهُمْ, فَأَخَذتُ بِيَدِهِ فَمَسَحْتُ بِهَا وَجْهِيْ.(رواه البخارى)

Artinya : Diriwayatkan dari sahabat Yazid bin Aswad bahwa ia shalat subuh bersama Rasulallah, lalu setelah shalat para jamaah berebut untuk menyalami Nabi, lalu mereka mengusapkan ke wajahnya masing-masing, dan begitu juga saya menyalami tangan Nabi lalu saya usapkan ke wajah saya. (H.R. Bukhari, hadits ke 3360).

عَن قلَدَة بن دِعَامَة الدَّوْسِيْ رَضِيَ الله عَنهُ قالَ قلْتُ لاَنَسْ : اَكَانَتِ اْلمُصَافحَة فِى اَصْحَابِ رَسُوْلِ الله, قالَ نَعَمْ.

Artinya dari Qaladah bin Di’amah r.a. berkata : saya berkata kepada Anas bin Malik, apakah mushafahah itu dilakukan oleh para sahabat Rasul ? Anas menjawab : ya (benar)

Hadits-hadits di atas adalah menunjuk pada mushafahah secara umum, yang meliputi baik mushafahah setelah shalat maupun di luar setelah shalat.

Jadi pada intinya mushafahah itu benar-benar disyariatkan baik setelah shalat maupun dalam waktu-waktu yang lainnya. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh hadits di atas.

Ustadz H Sholeh Abd Aziz

HUKUM MENAMBAHKAN LAFAZH SAYYIDINA

PERTANYAAN:

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Apakah kita juga disunnahkan menambahkan kata "sayyidana" pada syahadat rasul sebelum kata muhammadar rasulullah ketika tahiyat. mohon pencerahan dan penjelasannya

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Menurut Imam Kurdi, Ibnu Hajar, AzZiyaadi Imam Halaby (dari kalangan Syafiiyah) lebih utama menambahkan lafadz “SAYYIDINAA” sebelum lafadz MUHAMMAD
Agar bertujuan Beradab keapda Baginda Nabi

Rujukan pengambilan Hukum

-Kitab I'anah juz 1 /169

وقوله وأن محمدا رسول الله الأولى ذكر السيادة لأن الأفضل سلوك الأدب وحديث لا تسودوني في صلاتكم... باطل

Yang lebih utama menambahkan lafadz sayyidinaa saat kalimat “Wa Anna Muhammadar Rosuulullah” karena yang lebih utama menjaga etika pada Rosulullah shallallaahu ‘Alaihi wa sallam, sedang hadits yang berbunyi “Janganlah kalian menyebut kata sayyid untukku saat sholat” adalah hadits batal.

[ I’aanah at-Thoolibiin I/169 ].

Ustadz H Sholeh Abd Aziz

HUKUM MEMEJAMKAN MATA DALAM SHOLAT

PERTANYAAN :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
 bagaimana hukumnya shalat dengan  memejamkan mata, boleh kah ? terus kalau tidak boleh, adakah dalil yang melarang hal itu ?

JAWABAN :

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

 Hukumnya MAKRUH, terkecuali ada kepentingan dalam memejamkan matanya seperti agar dapat lebih khusyu’,

tidak terganggu dengan pandangan matanya,

khawatir melihat hal-hal yang haram maka tidak lagi makruh bahkan lebih baik ketimbang matanya terbuka

Referensi Rujukan Hukum
Al-Fiqh al-Islaam II/135 ].

وَيُكْرَهُ أَيْضًا فِي الصَّلاَةِ تَغْمِيضُ الْعَيْنَيْنِ إِلاَّ لِحَاجَةٍ ، وَلاَ يُعْلَمُ فِي ذَلِكَ خِلاَفٌ


Kalangan Malikiyyah berpendapat “Dimakruhkan juga memejamkan kedua mata saat shalat kecuali ada kepentingan, dan tidak diketahui dalam hal tersebut terjadi perbedaan pendapat”.


Ustadz H Sholeh Abd Aziz

HUKUMENGERASKAN BACAAN SHOLAT ZHUHUR DAN ASHAR

PERTANYAAN :

Assalamu'alaikum

 bagaimana hukumnya bacaan sholat dhuhur Dibaca jahr / keraskan bacaannya?

JAWABAN:

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Hukumnya makruh mengeraskan bacaan sholat pada sholat-sholat yang disunnahkan bacaannya pelan, juga sebaliknya, dan juga makruh bagi makmum mengeraskan bacaan sholat dikarenakan menyelisihi kesunahan pada masalah ini. Ya, di antara yang dimakruhkan pada sholat adalah membaca nyaring pada tempatnya pelan (sholat yang disunnahkan pelan bacaannya) dan juga dimakruhkan membaca pelan pada tempat yang nyaring (sholat yang disunnahkan nyaring bacaannya) begitu juga makruh bagi makmum membaca nyaring dibelakang imam. Wallohu a'lam.

Referensi Rujukan Hukum

- Minhajul qowim :

(و) يكره (الجهر في موضع الأسرار والأسرار في موضع الجهر، والجهر) للمأموم (خلف الإمام)، لمخالفته للاتباع المتأكد في ذلك

- Muqoddimah Hadhromiyyah :

المقدمة الحضرمية (ص: 80)

فصل في مكروهات الصلاة ويكره الالتفات بوجهه إلا لحاجة ورفع البصر إلى السماء وكف شعره أو ثوبه ووضع يده على فمه بلا حاجة ومسح غبار جبهته وتسوية الحصى في مكان سجوده والقيام على رجل وتقديمها ولصقها بالأخرى والصلاة حاقنا أو حاقبا أو حازقا إن وسع الوقت ومع توقان الطعام إن وسع أيضا وأن يبصق في غير المسجد عن يمينه أو قبالته ويحرم في المسجد ويكره أن يضع يده على خاصرته وأن يخفض رأسه في ركوعه وقراءة السورة في الثالثة والرابعة إلا لمن سبق بالأولى والثانية فيقرؤها في الأخيرتين

والاستناد إلى ما يسقط بسقوطه والزيادة في جلسة الاستراحة على قدر الجلوس بين السجدتين وإطالة التشهد الأول والدعاء فيه وترك الدعاء في التشهد الأخير ومقارنة الإمام في أفعال الصلاة والجهر في موضع الإسرار والإسرار في موضع الجهر والجهر خلف الإمام

HUKUM SHOLAT MEMAKAI KAUS KAKI / SARUNG TANGAN

PERTANYAAN :


Assalamualaikum ustadz,
 Mohon pencerahannya, bagaimana hukumnya sholat memakai kaos kaki atau kaos tangan ? Atas ilmunya saya ucapkan terimakasih.


JAWABAN:

SHOLAT NYA Sah tetapi makruh, karena yang sunnah adalah membukanya. Shalat berkaos kaki atau berkaos tangan hukum shalatnya sah karena membuka kaki dan tangan ketika sujud hukumnya sunah.

Referensi Rujukan Hukum


تحفة الحبيب على شرح الخطيب - (ج 2 / ص 179)

ويسنّ كشف اليدين والرجلين أي في حق الرجل إذ المرأة يجب عليها ستر قدميها ، ويكره كشف كفيها كما يؤخذ من علة كشف الركبتين ق ل


الباجوري ١/١٥٣

.قوله مباشرة الخ فيجب كشف الجبهة و يسن كشف اليدين والرجلين و يكره كشف الركبتين ما عدا ما يجب ستره منهما مع العورة.


الشرقاوي ١/١٨٩-١٩٠

: و ثامنها سجود للأمر به في الكتاب والخبر السابق بوضع الجبهة مكشوفة و وضع اليدين والركبتين و أطراف القدمين ولو مستورة لخبر الصحيحين أمرت أن أسجد على سبعة أعظم الجبهة واليدين والركبتين و أطراف القدمين و يكفي وضع جزء من كل واحد منها والإعتبار في اليد بباطن الكف سواء الأصابع والراحة و في الرجل ببطون الأصابع و يسن كشف اليدين والرجلين و يكره كشف الركبتين.

Ust H Sholeh Abd Aziz

HUKUM MENELAN SISA MAKANAN DALAM SHOLAT

PERTANYAAN :

Assalamu'alaikum, Mau tanya, apakah menelan sisa makanan ketika sholat itu haram, dan membatalkan sholat ?

JAWABAN :

Jika yang ditelan hanya rasanya saja (BUKAN SISA MAKANAN) maka tidak membatalkan sholat,misal sebelum sholat sudah berkumur tetapi masih ada rasa manis/pedas dalam mulut maka menelan ludah tidak batal,

tapi jika ada WUJUDNYA (`Ain) meski hanya sedikit/kecil maka batal jika ditelan, solusinya sikatan/siwakan dulu sebelum sholat.


Referensi Rujukan Hukum

-Kitab Hasyiyatul Jamal

? حاشية الجمل الجزء 1 صحـ : 436 مكتبة دار الفكر

أَمَّا مُجَرَّدُ الطَّعْمِ الْبَاقِي مِنْ أَثَرِ الطَّعَامِ فَلا أَثَرَ لَهُ لانْتِفَاءِ وُصُولِ الْعَيْنِ إلَى جَوْفِهِ وَلَيْسَ مِثْلُ ذَلِكَ الأَثَرُ الْبَاقِي بَعْدَ الْقَهْوَةِ مِمَّا يُغَيِّرُ لَوْنَهُ أَوْ طَعْمَهُ فَيَضُرُّ ابْتِلَاعُهُ لأَنَّ تَغَيُّرَ لَوْنِهِ يَدُلُّ عَلَى أَنَّ بِهِ عَيْنًا وَيُحْتَمَلُ أَنْ يُقَالَ بِعَدَمِ الضَّرَرِ لأَنَّ مُجَرَّدَ اللَّوْنِ يَجُوزُ أَنْ يَكُونَ اكْتَسَبَهُ الرِّيقُ مِنْ مُجَاوَرَتِهِ لِلأَسْوَدِ مَثَلا وَهَذَا هُوَ الأَقْرَبُ أُخِذَ مِمَّا قَالُوهُ فِي طَهَارَةِ الْمَاءِ إذَا تَغَيَّرَ بِمُجَاوِرٍ اهـ