BATASAN-BATASAN LELAKI DAN WANITA

Mengaji kitab 'Uquudu Lujjain (الفَصْلُ الأَوَّلُ: فِيْ) بيان (حُقُوْقِ الزَوْجَةِ) الواجبة (عَلَى الزَوْج) وهي حُسْن العِشْرة، ومؤْنة...

Selasa, 25 September 2018

HUKUM MENGGARAP SAWAH GADAIAN

Sudah menjadi tradisi/kebiasaan yang berlaku di sebagian masyarakat jika seseoranng
berhutang maka ia akan menyerahkan barang jaminan berupa semisal sawah, dengan perjanjian
selagi hutangnya belum dilunasi maka sawah digarap oleh pihak yang menghutangi.
Pertanyaan :
Bagaimana aqod hutang piutang dengan cara demikiaan ?

Jawab :
Hukumnya tidak boleh (haram) termasuk riba,
catatan :
Termasuk aqod yang sejenis dengan aqod diatas misalnya orang berhutang dengan jaminan
motor dan motor tersebut dimanfaatkan oleh orang yang menghutangi

Rujukan Hukum:
Kitab Asybah wan nadzoir juz 1/ halaman 192
وأما القرض بشرط جر نفع لمقرض ففاسد لخبر كل قرض جر منفعة فهو ربا

Disebutkan dalam Hadits Riwayat Imam Muslim :
قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم- : لعن الله آكل الربا وموكله وكاتبه وشاهده - رواه مسلم.
Rasulullaah SAW bersabda: “Allah melaknat para pemakan riba, orang yang memberi riba, pencatat transaksi riba dan orang yang menjadi saksinya.” (HR. Muslim).

Dalam redaksi Hadits Riwayat Imam Muslim dari Jabir bin ‘Abdillaah :
عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما قال : لعن رسول الله -صلى الله عليه وسلم- آكل الربا ، و موكله ، و كاتبه ، و شاهديه ، و قال : هم سواء - رواه مسلم
Dari Jabir bin ‘Abdullah r.a.: “Rasulullaah SAW melaknat para pemakan riba, orang yang memberikan riba, pencatat transaksi riba, dan dua orang yang menjadi saksi riba.” Dan Rasulullaah SAW bersabda: “Mereka semua sama.” (HR. Muslim).

Penjelasan al-‘Allamah al-Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar al-Jawiy dalam Kitab Bahjatul Wasaa’il bi Syarh al-Masaa’il dan kitab Mirqaatu Shu’uud al-Tashdiiq fii Syarh Sullam al-Tawfiiq ilaa Mahabbatillaahi ‘alaa al-Tahqiiq – Penerbit: Daar al-Kutub al-Islaamiyyah:
Syaikh Nawawi ketika menjelaskan pasal al-Manhiyyaat min al-Buyuu’ (Hal-Hal Terlarang dalam Jual Beli) mengatakan:
و أما معاصي الجوارح : أي الأعضاء السبعة (فمعاصي البطن مثل أكل الربا) - فصل : في المنهيات من البيوع
“Adapun maksiat dari perbuatan yang tampak lahir: yakni tujuh anggota badan (maksiat perut diantaranya adalah memakan harta riba).”
Syaikh Nawawi pun menjelaskan hadits di atas:
(و قد لعن الله ورسوله آكل الربا وكل من أعان على أكله) فمعنى قوله ((آكله)) أي آخذه، ومعنى ((موكله)) أي معطيه، ومعنى ((كاتبه)) أي كاتب الوثيقة، ومعنى ((شاهده)) أي حاضره وإن لم يستشهد. كذا قاله الشرقاوي
“Dan sungguh Allah dan Rasul-Nya telah melaknat para pemakan riba dan setiap orang yang mendukung perbuatan tersebut. Maka makna sabdanya: (Para pemakan riba) yakni yang mengambil riba, (pemberi riba) yakni yang memberi riba, (pencatat riba) yakni orang yang mencatat perjanjian transaksi ribawi, (saksi riba) yakni orang yang hadir -menyaksikan transaksi ribawi- meski ia tidak diminta menjadi saksi. Begitulah pendapat Imam al-Syarqawiy.”
والأولان أشد إثمًا من الآخرين، لأن الواقع منهما مجرد الإقرار على المعصية بخلاف الأولين ، أفاد ذلك الشرقاوي.
“Dan dua golongan di awal (pemakan dan pemberi riba) paling besar (dosanya) daripada yang lainnya, karena pada kenyataannya kedua golongan ini secara langsung berikrar sepakat dalam kemaksiatan lain halnya dengan dua golongan setelahnya (pencatat dan saksi transaksi ribawi).”
آكل الربا : هو من يأخذه وإن لم يأكل، وإنما خُصَّ الأكلُ لأنه أعظم أنواع الانتفاع
Pemakan riba (آكل الربا): orang yang mengambil harta riba meski ia tidak memakannya, dan penggunaan lafazh khusus “memakan” karena istilah ini merupakan jenis pemanfaatan paling besar.
موكل الربا : معطيه لمن يأخذه وإن لم يكن الآخِذُ سيأكلُ منه، وعبّرَ بالأكل لأنه الأغلبُ والأعظم.
"Pemberi riba (موكل الربا): orang yang memberikan riba, meski orang yang mengambil harta riba darinya tidak memakan hasil riba tersebut. Digunakan kata “makan” karena ini merupakan bentuk perbuatan yang paling sering dan paling banyak dilakukan."
كاتب الربا : من يكتب عقدَ المبايعة بين الطرفين
"Pencatat riba (كاتب الربا)
Adalah orang yang menuliskan perjanjian transaksi antara pihak-pihak yang bertransaksi."
شاهد الربا : هما اللذان شهِدا على عقد الربا
"Saksi riba (شاهد الربا): orang yang menjadi saksi atas transaksi riba."
هم سواء : مشتركون في الإثم وإن كانوا مختلفين في قَدْره
"Mereka semua sama (هم سواء): bersekutu dalam dosa meski kadar dosanya berbeda-beda."

Senin, 10 September 2018

HUKUM KHITAN

Pertanyaan
Saya mau tanya, nyunat anak laki laki itu bagusnya umur berapa ustad?

Jawab:
Waktu Khitan
Menurut Al- Mawardy, ada tiga waktu untuk berkhitan, yakni:
1.Waktu WAJIB, yakni saat seorang anak telah mencapai umur BALIGH.
2.Waktu Sunnah, Yakni saat anak belum mencapai umur baligh.
3.Waktu Ikhtiyar, yakni saat bayi umur 7 (tujuh) hari, atau 40 hari atau umur 7 (tujuh) tahun saat anak mulai diajari dan diperintah sholat


Ustazd numpang tanya Khitan anak cewek ustazd, gimana jika anak cewek tidak dikhitan, apa hukumnya?

JAWABAN :
Menurut ulama safi'iyah Khitan itu hukumnya wajib bagi laki-laki dan perempuan, dan ketika perempuan yang belum di khitan pada masa kecilnya maka wajib pula ktika dewasa dikhitan.
Dalam Kitab Tuhfatul Habib fikih syafi'i, QOLA ASHAB: wajib khitan setelah balig, dan disunahkan khitan ketika berumur 7 hari dari kelahiran kalau itu tidak membahayakan kalau tidak memungkinkan maka bisa diakhirkan. MENURUT QOUL ROJIH/BISA Di buat pegangan:
"KHITAN ITU SUNAH BAGI WANITA DAN TIDAK WAJIB".
Kesimpulan Hukum khitan Adalah WAJIB bagi bayi laki2 dengan kesepakatan seluruh Imam
Dan Khilaf Ulamak Mengenai Khitan Bayi perempuan
Ada yang mengatakan wajib
Dan ada yang mengatakan Tidak wajib

Rujukan Hukum
1- kitab fatawi :Halaman 4487
ﻓﻘﺪ ﺳﺒﻖ ﺃﻥ ﺫﻛﺮﻧﺎ ﺃﻥ ﺣﻜﻢ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻴﺔ ﻭﺍﺟﺐ ﻓﻲ ﺣﻖ ﺍﻟﺮﺟﺎﻝ ﻭﺍﻟﻨﺴﺎﺀ، ﻓﻴﻤﻜﻨﻚ ﺃﻥ ﺗﺮﺍﺟﻊ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ ﺭﻗﻢ: 4487.
ﻭﺇﺫﺍ ﻟﻢ ﺗﺨﺘﻦ ﺍﻟﻤﺮﺃﺓ ﻓﻲ ﺻﻐﺮﻫﺎ ﻭﺟﺐ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻋﻨﺪﻫﻢ ﺍﻻﺧﺘﺘﺎﻥ ﻓﻲ ﺍﻟﻜﺒﺮ، ﻓﻔﻲ ﺗﺤﻔﺔ ﺍﻟﺤﺒﻴﺐ -ﻭﻫﻮ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﺍﻟﺸﺎﻓﻌﻲ:- ﻗﺎﻝ ﺍﻷﺻﺤﺎﺏ: ﻭﺇﻧﻤﺎ ﻳﺠﺐ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﺑﻌﺪ ﺍﻟﺒﻠﻮﻍ، ﻭﻳﺴﺘﺤﺐ ﺃﻥ ﻳﺨﺘﻦ ﻓﻲ ﺍﻟﺴﺒﻊ ﻣﻦ ﻭﻻﺩﺗﻪ ﺇﻻ ﺃﻥ ﻳﻜﻮﻥ ﺿﻌﻴﻔﺎً ﻻ ﻳﺤﺘﻤﻠﻪ ﻓﻴﺆﺧﺮ ﺣﺘﻰ ﻳﺤﺘﻤﻠﻪ. ﺍﻧﺘﻬﻰ. ﻭﺍﻟﺮﺍﺟﺢ ﺃﻥ ﺍﻟﺨﺘﺎﻥ ﺳﻨﺔ ﻓﻲ ﺣﻖ ﺍﻟﻨﺴﺎﺀ ﻭﻟﻴﺲ ﺑﻮﺍﺟﺐ، ﻛﻤﺎ ﺑﻴﻨﺎ ﺍﻟﻔﺘﻮﻯ ﺭﻗﻢ: 68002

2- kitab I'anatut tholibin juz 4 hal 173 :
ووجب ختان للمرأة والرجل حيث لم يولدا مختونين
Dan wajib berkhitan bagi perempuan dan laki-laki jika waktu dilahirkan belum keadaan terkhitan.

3- kitab Nihayatuzzain hal 358 :
وفي الأنثى بقطع جزء يطلق عليه اسم الختان من اللحمة الموجودة بأعلى الفرج فوق ثقبة البول تشبه عرف الديك وتسمى البظر
Dan khitan bagi wanita yaitu memotong sebagian dari daging yang berada paling atas farji,tepatnya diatas lobang keluarnya air kencing yang mana daging tadi mirip cengger ayam, dan daging tersebut dinamakan bidzir.

4- kitab Khasyiyah I'anatut tholibin juz 4 hal 198 :
حاشية إعانة الطالبين - (ج 4 / ص 198)
قوله: والمرأة الخ) أي والواجب في ختان المرأة قطع جزء يقع عليه اسم الختان وتقليله أفضل لخبر أبي داود وغيره أنه (ص) قال للخاتنة: أشمي ولا تنهكي فإنه أحظى للمرأة وأحب للبعل أي لزيادته في لذة الجماع، وفي رواية: أسرى للوجه أي أكثر لمائه ودمه
Diantara salah satunya hikmah khitan bagi perempuan ialah : menambah kecantikan pada wajahnya, akan memperbaiki budi pekertinya perempuan, menstabilkan syahwat, memberikan rasa tambah lezat pada suami ketika bersenggama, dan masih banyak lagi. Makanya wanita-wanita kafiroh mereka kebanyakan tidak bisa menahan syahwatnya hal itu disebabkan tempat khitannya tidak dipotong.

Sekian semoga anda faham

HUKUM BISNIS BURUNG WALET

Assalamualaikum
Buat ustad H.Sholeh Abd Aziz .
ana mau nanya bagaimana pandangan hukum islam tentang mencari nafkah hidup dari memelihara burung walet.yg kita tau bersama yg dijual adalah air liur dr burung walet yg telah kering.
atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih

JAWABAN :
Wa'alaikumus salam,
Pandangan islam mengenai
Mencari nafkah dari burung walet hukumnya boleh dan hasilnya halal
Karna liur / ilernya burung walet adalah suci, karena bila hewannya suci maka suci juga air liurnya.

Sumber Hukum
- Kitab Mawhibah Dzil Fadhli juz 1 Halaman 472
.ومترشح كل حيوان طاهر كعرق ولعاب أى ودمع ومخاط فطاهرة. موهبة ذي الفضل ١/٤٦٢
Apa saja yang keluar dari Hewan yang suci maka hukum nya juga suci seperti keringat, air liur ,air mata , dan ingus , semuanya suci
Kesimpulannya: air liur burung walet suci karna burung walet termasuk hewan suci
Maka air liurnya juga suci bisa di jual belikan dan halal hasil uangnya halal

Sekian semoga anda faham

HUKUM MENIKAH DI DALAM MASJID TANPA KEHADIRAN MEMPELAI WANITA

PERTANYAAN :
Assalamu'alaikum. melangsungkan akad pernikahan, sementara mempelai wanita disembunyikan di kamar (tidak dihadirkan pada saat ijab qobul berlangsung) dan saksi dari pihak pria belum pernah bertemu dengan mempelai wanitanya sehingga tidak tahu yang mana dan seperti apa mempelai wanitanya. Sahkah akad nikah seperti itu?.

JAWABAN :
Wa'alaikum salam wr wb.
Akad nikah sebagaimana dipertanyakan di atas hukumnya SAH, dan itu yang terbaik

karena yang menjadi syarat sah akad nikah yaitu hadirnya empat orang sebagai berikut : wali, mempelai pria dan dua orang saksi.
- Kifayatul Akhyar :
كفاية الأخيار . الجز 1. صفحة 358.
( فرع ) يشترط في صحة عقد النكاح حضور أربعة ولي وزوج وشاهدي عدل ويجوز أن يوكل الولي والزوج فلو وكل الولي والزوج أو أحدهما أو حضر الولي ووكيله وعقد الوكيل لم يصح النكاح لأن الوكيل نائب الولي والله أعلم .
Sekian semoga anda faham

HUKUM KALIGRAFI DI DINDING MASJID

Assalamualaikum, Pak Ustadz,
saya mempunyai seorang teman dia seniman kaligrafi, dia bertanya pada saya, apakah kaligrafi yang ditulis di dinding masjid atau lainnya dari sebagian ayat alquran di hukumi alquran?
Trus bagaimana hukum memegang tulisan al quran di dinding masjid terbut ? Mohon penjelasan nya.

JAWABAN :
Wa alaikumus salaam warohmatulloh

- menulis alqur'an di tembok hukumnya makruh :

Sumber Rujukan Hukum
1. Kitab Al Iqna' juz 1 halaman 90
2. Al baijuri juz 1 halaman 117
ويكره كتب القرأن على حائط ولو لمسجد و ثياب و طعام و نحو ذلك و يجوز هدم الحائط و لبس الثوب وأكل الطعام
الإقناع ١/٩٠
ويحل لبس الثياب التي نقش عليها شيئ من القرأن والنوم فيها ولو للجنب.
الباجوري ١/١١٧

Adapun hukum menyentuhnya juga boleh bila di tulisnya bukan unt di baca :
الإقناع للشربيني الجزء الأول ص: 104
أما ما كتب لغير الدراسة كالتميمة وهي ورقة يكتب فيها شيء من القرآن وتعلق على الرأس مثلا للتبرك والثياب التي يكتب عليها والدراهم فلا يحرم مسها ولا حملها لأنه e كتب كتابا إلى هرقل وفيه يا أهل الكتاب تعالوا إلى كلمة سواء بيننا وبينكم الآية ولم يأمر حاملها بالمحافظة على الطهارة ويكره كتابة الحروز وتعليقها إلا إذا جعل عليها شمعا أو نحوه
ويكره كتب القرأن على حائط ولو لمسجد و ثياب و طعام و نحو ذلك و يجوز هدم الحائط و لبس الثوب وأكل الطعام.الإقناع
makruh hukumnya menulis alqur'an pada TEMBOK walaupun utk TEMBOK MASJID, pada baju, makanan dan semisalnya.dan boleh merusak tembok yg ada tulisan alqur'an,
Dan juga boleh memakai pakaian dan memakan makanan yang bertuliskan alqur'an.
kitab iqna' 1/90

وأما ما كتب عليه شيء من القرآن لا للدراسة ، كالدراهم الأحدية ، والثياب ، والعمامة ، والطعام ، والحيطان ، وكتب الفقه ، والأصول ، فلا يحرم مسه ، ولا حمله على الصحيح روضة الطالبين وعمدة المفتين أبو زكريا يحيى بن شرف النووي
adapun sesuatu yg bertuliskan sesuatu dari alqur'an bukan tujuan utk dirosah/tujuan bacaan
misalnya pada uang, baju, serban, makanan, TEMBOK, kitab2 fiqh, usul, maka TIDAK HARAM MEMEGANGNYA dan juga membawanya menururt pendapat yg shohih.

Sekian semoga anda faham

HUKUM MENJIMA' ISTRI DI MASA MENYUSUI

Bolehkah menjima' istri yang masih dalam tahap menyusui & apakah berpengaruh buruk pada si bayi. !?
Pertayaan dari Hamba Alloh

JAWABAN :
Wa’alaikumussalaam warahmatullah wabarakaatuh. Dalam kitab Mirqat Al-mafaatih dijelasakan bahwa hubungan pasutri saat menyusui hukumnya boleh saja karena tidak berdampak apapun bagi bayi dalam kandungan. Walaupun sebagian dari kalangan orang Arab tidak menyukai hal itu karena mereka beranggapan bahwa melakukan hubungan intim pada saat istri masih dalam tahap menyusui dapat menyebabkan rusaknya asi dan hal itu akan berakibat negatif pada kesehatan dan perkembangan bayi, sebab jika hal itu benar, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam akan melarangnya.

Rujukan Sumber pengambilan Hukum
- Mirqotut al mafatih syarah al Misykat juz 5 Halaman 2092
مرقاة المفاتيح شرح مشكاة المصابيح ج ٥ ص ٢٠٩٢ الحديث رقم ٣١٨٩
3189 - وَعَنْ جُدَامَةَ بِنْتِ وَهْبٍ قَالَتْ : حَضَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي أُنَاسٍ وَهُوَ يَقُولُ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْهَى عَنِ الْغِيلَةِ ، فَنَظَرْتُ فِي الرُّومِ وَفَارِسَ فَإِذَا هُمْ يُغِيلُونَ أَوْلَادَهُمْ فَلَا يَضُرُّ أَوْلَادَهُمْ ذَلِكَ شَيْئًا ، ثُمَّ سَأَلُوهُ عَنِ الْعَزْلِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - : ذَلِكَ الْوَأْدُ الْخَفِيُّ وَهِيَ ( وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ سُئِلَتْ ) . رَوَاهُ مُسْلِمٌ .
الحاشية
الحاشية رقم: 13189 - ( عَنْ جُدَامَةَ ) بِضَمِّ الْجِيمِ وَالدَّالِ الْمُهْمَلَةِ وَيُرْوَى بِالذَّالِ الْمُعْجَمَةِ قَالَ الدَّارَقُطْنِيُّ وَهُوَ تَصْحِيفٌ ذَكَرَهُ الْمُؤَلِّفُ ( بِنْتِ وَهْبٍ ) أَيْ : أُخْتُ عُكَاشَةَ ( قَالَتْ حَضَرْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فِي أُنَاسٍ ) أَيْ : مَعَ جَمَاعَةٍ مِنَ النَّاسِ ( وَهُوَ يَقُولُ لَقَدْ هَمَمْتُ ) أَيْ : قَصَدْتُ ( أَنْ أَنْهَى عَنِ الْغِيلَةِ ) بِكَسْرِ الْغَيْنِ الْمُعْجَمَةِ أَيِ الْإِرْضَاعِ حَالَ الْحَمْلِ . وَالْغَيْلُ : بِالْفَتْحِ اسْمُ ذَلِكَ اللَّبَنِ كَذَا قِيلَ ، وَفِي النِّهَايَةِ : الْغِيلَةُ بِالْكَسْرِ الِاسْمُ مِنَ الْغَيْلِ ، وَبِالْفَتْحِ : هُوَ أَنْ يُجَامِعَ الرَّجُلُ زَوْجَتَهُ وَهِيَ مُرْضِعَةٌ وَكَذَلِكَ إِذَا حَمَلَتْ وَهِيَ مُرْضِعٌ ، وَقِيلَ : كِلَاهُمَا بِمَعْنًى ، وَقِيلَ : الْكَسْرُ لِلِاسْمِ وَالْفَتْحُ لِلْمَرَّةِ ، وَقِيلَ : لَا يَصِحُّ الْفَتْحُ إِلَّا مَعَ حَذْفِ التَّاءِ اه . قَالَ يَحْيَى قَالَ مَالِكٌ : الْغِيلَةُ أَنْ يَمَسَّ الرَّجَلُ امْرَأَتَهُ وَهِيَ تُرْضِعُ اه ، تَابَعَهُ الْأَصْمَعِيُّ وَغَيْرُهُ مِنْ أَهْلِ اللُّغَةِ ، وَقَالَ ابْنُ السِّكِّيتِ : أَنْ تُرْضِعَ وَهِيَ حَامِلٌ ( فَنَظَرْتُ فِي الرُّومِ وَفَارِسَ ) بِكَسْرِ الرَّاءِ وَعَدَمِ الصَّرْفِ ( فَإِذَا هُمْ يُغِيلُونَ ) بِضَمِّ أَوَّلِهِ ( أَوْلَادَهُمْ فَلَا يَضُرُّ أَوْلَادَهُمْ ذَلِكَ ) أَيْ : الْغَيْلُ ( شَيْئًا ) مِنَ الضَّرَرِ ، قَالَ الْعُلَمَاءُ : وَسَبَبُ هَمِّهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ بِالنَّهْيِ أَنَّهُ خَافَ مَعَهُ ضَرَرُ الْوَلَدِ الرَّضِيعِ لِأَنَّ الْأَطِبَّاءَ يَقُولُونَ إِنَّ ذَلِكَ اللَّبَنَ دَاءٌ وَالْعَرَبُ تَكْرَهُهُ وَتَتَّقِيهِ ذَكَرَهُ السُّيُوطِيُّ ، قَالَ الْقَاضِيَ : كَانَ الْعَرَبُ يَحْتَرِزُونَ عَنِ الْغِيلَةِ وَيَزْعُمُونَ أَنَّهَا تَضُرُّ الْوَلَدَ وَكَانَ ذَلِكَ مِنَ الْمَشْهُورَاتِ الذَّائِعَةِ عِنْدَهُ فَأَرَادَ النَّبِيُّ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، أَنْ يَنْهَى عَنْهَا لِذَلِكَ فَرَأَى أَنَّ فَارِسَ وَالرُّومَ يَفْعَلُونَ ذَلِكَ وَلَا يُبَالُونَ بِهِ ثُمَّ إِنَّهُ لَا يَعُودُ عَلَى أَوْلَادِهِمْ بِضَرَرٍ فَلَا يَنْهَ ( ثُمَّ سَأَلُوهُ عَنِ الْعَزْلِ ) أَيْ : عَنْ جَوَازِهِ مُطْلَقًا أَوْ حِينَ الْإِرْضَاعِ أَوْ حَالَ الْحَبَلِ ( قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - ذَلِكَ ) أَيْ : الْعَزْلُ ( الْوَأْدُ الْخَفِيُّ ) قَالَ النَّوَوِيُّ : الْوَأْدُ دَفْنُ الْبِنْتِ حَيَّةً وَكَانَتِ الْعَرَبُ تَفْعَلُ ذَلِكَ خَشْيَةَ الْإِمْلَاقِ وَالْعَارِ اه . شَبَّهَ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، إِضَاعَةَ النِّيَّةِ الَّتِي أَعَدَّهَا اللَّهُ تَعَالَى لِيَكُونَ الْوَلَدُ مِنْهَا بِالْوَأْدِ ; لِأَنَّهُ يَسْعَى فِي إِبْطَالِ ذَلِكَ الِاسْتِعْدَادِ بِعَزْلِ الْمَاءِ عَنْ مَحَلِّهِ وَهَذَا دَلِيلٌ لِمَنْ لَمْ يُجَوِّزِ الْعَزْلَ . وَمَنْ جَوَّزَهُ يَقُولُ هَذَا مَنْسُوخٌ أَوْ تَهْدِيدٌ أَوْ بَيَانُ الْأُولَى وَهُوَ الْأَوْلَى ( وَهِيَ ) الضَّمِيرُ رَاجِعٌ إِلَى مُقَدَّرٍ أَيْ هَذِهِ الْفِعْلَةِ الْقَبِيحَةِ مُنْدَرِجَةٌ فِي الْوَعِيدِ تَحْتَ قَوْلِهِ تَعَالَى ( وَإِذَا الْمَوْءُودَةُ ) أَيِ الْبِنْتُ الْمَدْفُونَةُ حَيَّةً ( سُئِلَتْ ) أَيْ : يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَيْ ذَنْبٍ قُتِلَتْ ، قِيلَ ذَلِكَ لَا يَدُلُّ عَلَى حُرْمَةِ الْعَزْلِ بَلْ عَلَى كَرَاهَتِهِ ; إِذْ لَيْسَ فِي مَعْنَى الْوَأْدِ الْخَفِيِّ ، لِأَنَّهُ لَيْسَ فِيهِ إِزْهَاقُ الرُّوحِ بَلْ يُشْبِهُهُ ( رَوَاهُ مُسْلِمٌ ) . قَالَ ابْنُ الْهُمَامِ : وَصَحَّ عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّهُ قَالَ : هِيَ الْمَوْءُودَةُ الصُّغْرَى وَصَحَّ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْهُ ، فَقَالَ : مَا كُنْتُ أَرَى مُسْلِمًا يَفْعَلُهُ ، وَقَالَ نَافِعٌ : عَنِ ابْنِ عُمَرَ ضَرَبَ عُمَرُ عَلَى الْعَزْلِ بَعْضَ بَنِيهِ ، وَعَنْ عُمَرَ وَعُثْمَانَ أَنَّهُمَا كَانَا يَنْهَيَانِ عَنِ الْعَزْلِ اه . وَالظَّاهِرُ أَنَّ النَّهْيَ مَحْمُولٌ عَلَى التَّنْزِيهِ ، قَالَ الْقَاضِي : وَإِنَّمَا جُعِلَ الْعَزْلُ وَأْدًا خَفِيًّا لِأَنَّهُ فِي إِضَاعَةِ النُّطْفَةِ الَّتِي هَيَّأَهَا اللَّهُ لِأَنْ تَكُونَ وَلَدًا ، شِبْهُ إِهْلَاكِ الْوَلَدِ وَدَفْنِهِ حَيًّا ، لَكِنْ لَا شَكَّ فِي أَنَّهُ دُونَهُ ; فَلِذَلِكَ جَعَلَهُ خَفِيًّا وَاسْتَدَلَّ بِهِ مَنْ حَرَّمَ الْعَزْلَ وَهُوَ ضَعِيفٌ ; إِذْ لَا يَلْزَمُ مِنْ حُرْمَةِ الْوَأْدِ الْحَقِيقِيِّ حُرْمَةُ مَا يُضَاهِيهِ بِوَجْهٍ وَلَا يُشَارِكُهُ فِيمَا هُوَ عِلَّةُ الْحُرْمَةِ وَهِيَ إِزْهَاقُ الرَّوْحِ وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَكِنَّهُ يَدُلُّ عَلَى الْكَرَاهَةِ ، وَيُؤَيِّدُهُ مَا ذَكَرَهُ ابْنُ الْهُمَامِ أَنَّ عُمَرَ وَعَلِيًّا اتَّفَقَا عَلَى أَنَّهَا لَا تَكُونُ مَوْءُودَةً حَتَّى تَمُرَّ عَلَيْهِ التَّاءَاتُ السَّبْعُ ، أَسْنَدَ أَبُو يَعْلَى وَغَيْرُهُ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ رَفَاعَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ : جَلَسَ إِلَى عُمَرَ وَعَلِيٍّ وَالزُّبَيْرِ وَسَعْدٍ فِي نَفَرٍ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ - صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ - فَتَذَاكَرُوا الْعَزْلَ ، فَقَالُوا : لَا بَأْسَ بِهِ ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنْهُمْ إِنَّهُمْ يَزْعُمُونَ أَنَّهَا الْمَوْءُودَةُ الصُّغْرَى ، فَقَالَ عَلِيٌّ لَا تَكُونُ مَوْءُودَةً حَتَّى تَمُرَّ عَلَيْهَا التَّاءَاتُ السَّبْعُ حَتَّى تَكُونَ سُلَالَةً مِنْ طِينٍ ثُمَّ تَكُونُ نُطْفَةً ثُمَّ تَكُونُ عَلَقَةً ثُمَّ تَكُونُ مُضْغَةً ثُمَّ تَكُونُ عَظْمًا ثُمَّ تَكُونُ لَحْمًا ثُمَّ تَكُونُ خَلْقًا آخَرَ فَقَالَ عُمَرُ : صَدَقْتَ أَطَالَ اللَّهُ بَقَاءَكَ ، قَالَ وَهَلْ يُبَاحُ الْإِسْقَاطُ بَعْدَ الْحَبَلِ ؟ قَالَ يُبَاحُ مَا لَمْ يَتَخَلَّقْ شَيْءٌ مِنْهُ ، ثُمَّ فِي غَيْرِ مَوْضِعٍ قَالُوا : وَلَا يَكُونُ ذَلِكَ إِلَّا بَعْدَ مِائَةٍ وَعِشْرِينَ يَوْمًا وَهَذَا يَقْتَضِي أَنَّهُمْ أَرَادُوا بِالتَّخْلِيقِ نَفْخَ الرُّوحِ وَإِلَّا فَهُوَ غَلَطٌ لِأَنَّ التَّخْلِيقَ يَتَحَقَّقُ بِالْمُشَاهَدَةِ قَبْلَ هَذِهِ الْمُدَّةِ .

HUKUM JIMA' ISTRI PADA MASA MENYUSUI
Hukum melakukan hubungan intim pada saat istri masih dalam tahap menyusui adalah diperbolehkan dan hal itu sama sekali tidak dilarang sebab melakukan hubungan intim pada saat istri masih dalam tahab menyusui tidak membahayakan dan tidak berdampak negatif pada kesehatan istri dan perkembangan bayi walaupun sebagian dari kalangan orang arab tidak menyukai hal itu karena mereka beranggapan bahwa melakukan hubungan intim pada saat istri masih dalam tahab menyusui dapat menyebabkan rusaknya asi dan hal itu akan berakibat negatif pada kesehatan dan perkembangan bayi. sebab jika hal itu benar, maka Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam akan melarangnya. Asal istri sudah selesai masa nifasnya dan tidak sedang haidh.

- Mughni Al-Muchtaj. Juz: 3. Hal. 139 :
ويسن أن لا يترك الجماع عند قدومه من سفره ولا يحرم وطء الحامل والمرضع . مغني المحتاج - الجز. 3.صفحة. 139

- Al-Mausu’a Al-Fiqhiyah Al-Kuwaiiyah. Juz: 31. Hal. 344. :
حُكْمُ الْغِيلَةِ بِالإِْرْضَاعِ أَوِ الْوَطْءِ : 7 - كَانَ الْعَرَبُ يَكْرَهُونَ وَطْءَ الْمَرْأَةِ الْمُرْضِعِ . وَإِرْضَاعَ الْمَرْأَةِ الْحَامِل وَلَدَهَا ، وَيَتَّقُونَهُ لأَِنَّهُمْ كَانُوا يَعْتَقِدُونَ أَنَّ ذَلِكَ يُؤَدِّي إِلَى فَسَادِ اللَّبَنِ ، فَيُصْبِحُ دَاءً ، فَيَفْسُدُ بِهِ جِسْمُ الصَّبِيِّ وَيَضْعُفُ ، وَلَوْ كَانَ هَذَا حَقًّا لَنَهَى عَنْهُ الرَّسُول صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . الموسوعة الفقهية الكويتية . الجز 31. صفحة 344.

HUKUM ARISAN

PERTANYAAN :
Assalamualaikum..!! bagaimana hukumnya arisan yang sudah biasa terjadi di masyarakat ? Mohon penjelasannya Pak Ustadz.

JAWABAN :
Wa'alaikumussalam. Hukumnya Boleh

Dasar Hukum adalah
-Kitab Al qolyubi wa umairoh juz 2/258
(فَرْعٌ) الْجُمُعَةُ الْمَشْهُوْرَةُ بَيْنَ النِّسَاءِ بِاَنْ تَأْخُذَ اِمْرَأَةٌ مِنْ كُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْ جَمَاعَةٍ مِنْهُنَّ قَدْرًا مُعَيَّنًا فىِ كُلِّ جُمُعَةٍ اَوْ شَهْرٍ وَتَدْفَعُهُ لِوَاحِدَةٍ بَعْدَ وَاحِدَةٍ اِلىَ آَخِرِهِنَّ جَائِزَةٌ كَمَا قَالَهُ الْوَلِيُّ الْعِرَاقِيُّ .
(Cabang) Hari Jum'at yang termasyhur di antara para wanita, yaitu apabila seseorang wanita mengambil dari setiap wanita dari jama'ah para wanita sejumlah uang tertentu pada setiap hari Jum'at atau setiap bulan dan menyerahkan keseluruhannya kepada salah seorang, sesudah yang lain, sampai orang terakhir dari jamaah tersebut adalah boleh sebagaimana pendapat Al-Wali al-'Iraqi.
AlQolyuuby II/258